
''A Gimana kabar kota Jakarta?''tanya Titi basa basi kepada pria yang sedang duduk di depannya,mereka sedang sarapan saat itu
''Jakarta masih tetap sama lah, seperti beberapa bulan lalu saat kamu kesana, tetap dengan polusi dan kemacetan nya''
''Hemm.. iya ya mana bisa berubah banyak hanya dalam beberapa bulan''ucap Titi sambil terkekeh
Lalu mereka terlibat obrolan ringan, bersama anak juga ikut menimpali atau bertanya hal yang mereka dengar
''Oke.. ayoo Putra sama Putri kita berangkat sekolah,mama antar''Titi beranjak dari kursinya sambil mengumpulkan piring dan gelas bekas sarapan.''Aku tinggal dulu sebentar ya, habis antar mereka sekolah kita siap siap ke Puskesmas''ucap Titi kepada Hendra dan Robi
Lalu Titi bergegas mengajak anaknya untuk berangkat
♡♡♡♥♥♥
''A aku perlu bicara sama kamu!'' hemm kita bicara di meja makan aja,Rob sayang mama pinjam papa mu sebentar ya! kamu tunggu disini sambil liat tv bentar doang kok''
Hendra mengerutkan kening nya heran tapi tidak ayal dia mengikuti Titi juga, Titi membuat dua cangkir kopi untuk teman mereka mengobrol
''Ekhemm.. emm gini A, aku mau tanya sesuatu" ucap Titi ragu dan takut dia salah memilih kata kata
''Aa inget ngga sama wanita yang ketemu sama kita saat kita di PIM dulu, yang Aa bilang orang dari kampung aku, tapi aku nggak kenal sama dia itu''tanya Titi berusaha mencari jalan membuka pembicaraan yang bermaksud menyelidiki sejauh mana Hendra mengetahui tentang wanita itu
''Ohhh itu Cici''sahutnya dengan wajah berbinar
''Iya yang itu, ehh namanya bukannya Cicih ya? kok huruf H nya dibelakang jadi hilang? ngga dijambret orang kan pas naik busway di Jakarta? hehehe.. sory canda aku A haha.. garing ya'' Titi terkekeh karena ucapannya sendiri
''Haha.. kamu bisa aja Ti! iya kalii kena jambret atau ketinggalan dengan sendirinya pas berangkat ke Jakarta naik trevel.. haha.. aku jadi ikutan garing nih'' ucap Hendra sambil tertawa lebar dengan mata yang menatap Titi intens
''Sebenarnya hubungan kalian apa sih A? kalian pacaran ya heeuhh'' ucap Titi sembari mengangkat sebelas alisnya dan menggerak gerakannya untuk membuat suana jangan sampe tegang apalagi kalau sampai Hendra curiga
''Emm kami teman dekat, dekat yangg.. emm kami bisa bersama untuk menghabiskan waktu, dan dan emm itu dia kadang minta bantuanku untuk sesuatu, ya gitulah''ucap Hendra terlihat bingung untuk menjelaskan status mereka, rupanya wanita itu tidak memberikan status yang jelas padanya
''Aku kira dia itu calon istrimu A?''usut Titi
__ADS_1
''Ya aku sih pernah ngajak dia nikah, tapi dia bilang dia belum siap, dia mau kami dekat aja dulu, sampai nanti kami sama sama yakin terus barulah kita nikah''
''Ohh gitu, tapi kaliaannn.. belum iTU kan? tanya Titi dengan menenkan kata itu yang dimaksudkan adalah tidur bersama, tapi Titi tidak enak untuk berkata sejelas itu walau kenyataannya Cicih sendiri pernah bilang bahwa Hendra dan Rasyid tergila gila padanya, mungkin dalam artian dia sudah memuaskan dua pria itu diatas ranjang
Mengingat itu membuat hati Titi sakit karena diliputi prasangka
Bukannya menjawab Hendra malah celingukan salah tingkah dan bolak balik melirik kearah Titi kemudian menundukkan kepalanya
''Aa.. ih ditanyain malah diem aja, atau jangan bilang kalian berdua udah sering ngelakuin hubungan suami istri walau kalian belum menikah ya??? ayo ngaku!!!''
''Ahhh kamu mah, masa aku harus jelasin hal kaya gitu sih, aku kan malu!'' ucap Hendra sambil nyengir
''Iss dasar kalian ya, hidupnya udah kaya orang ngga punya agama ih, se*s bebas kaya ayam aja'' Titi menggerutu kemudian mengambil cangkir yang berisi kopi kemudian menyeruputnya, Hendra hanya nyengirr kuda, Titi meminum kopinya sedikit demi sedikit sambil memikirkan pertanyaan selanjutnya, Ahhha.. terpikir oleh Titi satu pertanyaan lagi
''Ooh iya kalau kalian begituan, Robi ngga tau kan? tanya Titi dengan mata melotot takut kalau sampai Robi tau dan meniru kelakuan papa nya
''Ya enggak lah, kami pergi ke hotel, bukan dirumah''ucap Hendra tersenyum malu malu ketahuan belangnya
''Teruss kalau kalian janjian ketemu, siapa duluan yang ngajak begituu.. an''
''Hemm pantesan, dia kayaknya udah pengalaman banget gitu, makanya mas Rasyid juga kena'' gumam Titi lirih sekali tapi ternyata masih bisa didengar oleh Hendra
''AAPAA, APA KAMU BILANG TADI???''seru Hendra
Titi kaget, dia kira gumamannya tidak akan terdengar oleh Hendra
''Apa sih A ih.. bikin kaget aja teriak gitu'' ucap Titi sembari mengelus dadanya
''Kamu bilang apa tadi Ti? Rasyid apa? Rasyid juga pernah begituan sama Cici? kapan?seru Hendra lagi
''Jangan keras keras suaranya A nanti Robi dengar! hemm itu... belum lama ini sih, bahkan kemarin aja si Cicih itu datang kesini, ngejenguk Mas Rasyid, pake pegang pegang tangan segala lagi dihadapan aku, perempuan macam apa sih dia tuh A?''
''Ahhh kamu jangan mengada ada deh, mana mungkin Cici ada disini, semalam aku telpon dia katanya dia ada di kos nya dia''
__ADS_1
''Kalau Aa ngga percaya, tanya aja ibu mertuaku atau adik iparku Risya, mereka juga ketemu, dan mereka juga sepertinya tau kelakuan wanita itu sama Mas Rasyid, silahkan nanti tanyakan''ucap Titi ketus, dia heran kok ya wanita kaya dia gitu aja dibelain
''Ya sudah ayo kita berangkat ke Puskesmas sekarang''ajak Hendra
''Ayolah, Aa pikir saya bohong!''
Mereka memanggil Robi kemudian berangkat bersama menuju Puskesmas
♡♥♡♥♡♥
Sesampainya di Puskesmas Titi dan Robi langsung masuk ke kamar ruang rawat Rasyid, sedangkan Hendra pergi mencari ibu Ami dan Risya yang katanya sedang makan siang di warung depan puskesmas
Rasyid sedang berbaring dalam keadaan matanya terbuka alias tidak sedang tidur, Robi langsung menghampiri ayah angkatnya
''Ayah.. Robi datang nih, ayah cepat sembuh ya! ayah sakit apa sih'' Tanya Robi sambil tangan kanan ayahnya yang terpasang infus untuk disalimi
''Robi, anak ayah datang, ayah senang sekali, ayah sudah mendingan sekarang, berkat ibu Titi mu yang selalu telaten merawat ayah''Rasyid menjawab sambil melirik ke arah Titi yang langsung duduk di kursi sudut ruangan
''Ini Robi bawain ayah buah buahan, ayah mau makan buah ngga? Robi kupasin!
''Iya makasih, boleh lah kalau Robi mau bantu ayah kupasin, jeruk aja nak!''
Dan Robi pun mengupas jeruk lalu juga menyuapi ayah angkatnya buah jeruk yang dia kupaskan, Robi tidak menyadari sikap aneh ibu angkatnya, dia pikir ibu angkatnya capek, makanya dia langsung menawarkan diri membantu ayahnya
Hendra datang dengan tergesa dan membuka pintu dengan kasar, lalu menatap Rasyid seakan dia ingin melahap tubuh Rasyid bulat bulat, tapi Titi kemudian memberi kode agar jangan sampai Robi tau, masalah yang terjadi pada orang tuanya
Menjaga mental anak dari hal hal semacam itu sangat diharuskan.
♡♥♡♥♡♥ Bersambung
Jangan lupa like dan komentar nya ya
kritik dan saran juga
__ADS_1
Sayang kalian semua