
Sesampainya di rumah ibu Irma mereka bertiga bergegas masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk kemudian tergesa menghampiri kamar bu Irma, terlihat bu Irma seperti sedang tertidur, lalu Titi mendekat dan memeriksa keadaan ibunya,Titi menegang karena saat menyentuh tubuh bu Irma terasa dingin, Titi kemudian mengecek kening bu Irma dan juga dingin,hati Titi mulai was was dan jantung Titi berdetak lebih cepat,darahnya juga berdesir karena dugaan dugaan dalam hatinya, kemudian dengan tangan yang sudah bergetar Titi meraih tangan ibunya dan mengecek denyut nadinya,
Degg...
Tidak terasa ada denyut nadi, hati Titi mencelos dan matanya mulai terasa perih,kemudian dia mengecek denyut nadi di bagian leher, dan itu juga dingin dan senyap,tidak ada denyut nadi.
''Ibuuuuu.... ibu bangun bu.. Titi sudah datang bu.. ayo ibu bangun, Huuuuu...hu.... nanti Titi bikinkan makanan kesukaan ibu... bangun bu, Huaaa...Titi memekik keras sambil mengguncang tubuh bu Irma, tangisnya pecah dan langsung dia memeluk tubuh renta ibunya yang sudah terasa dingin, tangisnya begitu pilu dan tergambar banyak penyesalan di dalamnya.
Desi jatuh terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya,tangisnya juga pecah, dia merasa lututnya lemas dan kepala pening, dia menangis sampai badannya terguncang.
Rasyid menghampiri istrinya dan menarik tubuh istrinya lalu kemudian mendekap nya erat, menepuk nepuk bahunya agar istrinya bisa sedikit tenang, lalu kemudian berkata
''Sudah de kamu harus ikhlas, biar ibu mu pergi dengan tenang'' ucap Rasyid lembut.
''Hhu hu hu.. ibu mas.. huaaa.. ibu meninggalkan ku mas, aku harus bagaimana mas huaaa..'' tangis Titi pilu aku kedua tangan Rasyid memegang kepala Titi di bagian bawah telinga lalu mengangkatnya agar bisa melihat wajah istrinya itu, Rasyid menatapnya menyalurkan kekuatan dukungan lewat matanya lalu mengusap airmata istrinya dan berkata.
''Kamu harus kuat,ibu mu harus kita urus,dia harus dimandikan dan besok harus kita kebumikan, jangan menunda kasian ibu mu'' bujuk Rasyid dengan lembut.
''Aaku harus ke rumah Tetangga dan ke rumah pak Rt untuk mengabari mereka, kamu siapkan kain 'samping' untuk menutup tubuh ibumu'' Rasyid berkata sambil kemudian melepas kan wajah istrinya dan kemudian berlalu untuk mengatur semua yang di perlukan untuk mengurus jenazah bu Irma.
Terdengar suara kentongan sebagai tanda ada orang yang meninggal,dan suara siaran di masjid mengabarkan berita lalayu. malam itu para tetangga mulai berdatangan untuk membantu segala sesuatu nya para pria membagi tugas,bagi yang bisa dan pintar mengaji mereka bersama untuk bertahlil, bagi yg lain memasang tenda tenda dan mengatur kursi untuk para pelayat yang hadir besoknya,para wanita menyiapkan dapur darurat dan bahan masakan untuk besok hari.
__ADS_1
Suara Tahlil menggema bersahutan membuat hati bertambah pilu,Titi dan desi duduk diam di kursi yang diletakan di samping meja tempat jenazah di baringkan, air mata mereka terus mengalir tak tertahankan, kenangan kenangan di mulai masa kecil mereka sampai saat saat terakhir kebersamaan mereka dengan bu Irma berputar di kepala, keinginan tak terwujud dari ibu Irma dan janji yang belum tertunaikan dari mereka serasa membuat mereka terpuruk dalam penyesalan, penyesalan yang tiada akhir.
ke esokan harinya setelah di mandikan dan di kafani jenazah ibu Irma di antarkan ke Tpu terdekat untuk di makam kan, Titi dan Desy ikut mengantar ibu mereka ke peristirahatannya yang terakhir, mereka berusaha untuk tegar agar tidak kembali menangis ketika tubuh ibu mereka di baringkan di liang lahat.
Rasyid melakukan kewajiban nya sebagai seorang anak menggantikan Titi untuk melakukan pemakaman.
Setelah pemakaman di sertai doa selesai, mereka semua kembali ke rumah ibu Irma dan menyiapkan segala sesuatu untuk Tahlilan, biasanya tahlilan akan di gelar sampai malam ketujuh kematian, setelah itu kembali akan mengadakan tahlilan di malam ke 40 hari kematian.
Malam malam setelah meninggalnya bu Irma hanya ada kesediaan di rumah peninggalan beliau,senyum getir yang berisi sakitnya kehilangan dan do'a do'a yang terus dilantunkan, dan tangisan rindu akan kehadiran beliau masih dapat terlihat di wajah kedua putri nya bu Irma.
Malam ini malam ketujuh gelaran tahlilan sebagai bentuk do'a bersama untuk bu Irma,dan Titi pun masih berada di rumah itu belum tega meninggalkan adiknya sendirian di rumah itu, tapi Rasyid sudah berulang kali mengajak Titi pulang ke rumah orang tua Rasyid dan Titi terus menolak karena acara do'a masih terus di gelar,setelah acara do'a selesai dan sisa sisa acara sudah di bereskan kemudian mereka duduk bersama du ruang tengah untuk berembug apa dan bagaimana kehidupan Desi kedepannya.
''Kalau boleh Desi mau tinggal sama uwa saja di Tanjung boleh ngga wa? karena kalau ikut kak Rasyid Saya ngga mau membebani mereka''sahut Desi, dia tau kalau mertua kakaknya itu bukanlah orang yang ramah dan cenderung pelit.
''Kalau kamu mau tinggal di rumah kaka juga ngga papa Des, nanti kamu bisa tidur sama Risya adikku'' sahut Rasyid memberi izin.
''Tidak kak terima kasih atas kebaikan kakak,tapi aku lebih senang tinggal sama uwa, disana banyak teman sekolah aku jadi aku bisa main sama mereka'' Desi menjawab dengan yakin.
''Ya sudah kalau itu keputusan kamu,tapi kamu harus kasih tau kakak kalau kamu butuh bantuan'' Rasyid menatap Desi heran, dia berpikir kenapa Desi tidak mau tinggal di rumahnya, tapi dia tidak mau memaksa adik dari istrinya tersebut, walaupun dalam hati dia benar benar tulus mau mengajak adik iparnya itu tinggal di rumah orang tuanya, tanda kutip rumah orang tua nya, Rasyid tidak berpikir apakah ibu nya mau menerima adik iparnya itu atau tidak,setelah mencapai kesepakatan bahwa Desi akan tinggal di rumah uwa Tanjung maka mereka semua pergi beristirahat di kamar masing masing.
Rasyid tidur di kamar bekas Titi tidur dulu sewaktu belum menikah dan uwa tanjung tidur bersama Desi di kamar Desi.
__ADS_1
keesokan harinya mereka berpisah sesuai tujuan masing masing.
menjalankan aktivitas seperti biasanya sebelum meninggal nya bu Irma.
...****************...
Titi duduk diatas tempat tidur sambil bersandar pada kepala tempat tempat tidur kayu di kamar rumah Rasyid, suaminya sedang duduk menonton televisi di ruang tengah, biasanya dia juga ikut menonton televisi tapi malam itu mood nya belum membaik,dia masih sangat bersedih karena kehilangan ibunya tercinta, dia hanya bisa mengingat wajah damai sang ibu terakhir kali saat dia menemukan ibunya terbaring tak bernyawa di tempat tidur ibunya, rasa sesak masih begitu terasa, mata Titi masih sering tiba tiba berkaca kaca, dia memejamkan mata sambil masih tetap di posisi duduk.
ceklek terdengar suara pintu dibuka tapi Titi tidak bergeming, tempat tiduk sedikit bergoyang tanda ada seseorang menaiki nya.
''De.. kok kamu tidurnya sambil duduk ngga rebahan bisik seseorang yang dikenali Titi adalah suara suaminya,dia membuka mata dan tatapan mereka berdua beradu,posisi Rasyid sangat lah dekat sehinggga Titi bisa merasakan hangat nya nafas yang keluar dari mulut Rasyid ketika dia berbicara.
''i-iya mas aku belum tidur kok cuma nutup mata sebentar,tadi mataku agak sedikit perih'' gumam Titi menjawab dengan suara serak seperti orang habis menangis.
''kamu habis nangis lagi ya'' Rasyid mengelus pipi istri nya untuk melihat apa kah ada air mata atau tidak.
''enggak kok mas aku ngga nangis'' Titi menjawab kemudian mendorong sedikit tubuh suaminya agar dia bisa berbaring dan kemudian berniat tidur.
''ya sudah tidurlah besok kita sudah harus mulai kerja di ladangnya pak karta, uang kita sudah menipis, sudah harus mulai kerja lagi,atau kamu mau di rumah aja istirahat?''
''aku ikut kamu ke ladang aja, kapau di rumah sendiri aku bisa bosan'' Titi menjawab dengan cepat,dia tidak mau ditinggalkan sendiri di rumah, tidak sendiri sih kan ada adik ipar dan ibu mertuanya tapi Titi tidak mau, lebih baik ikut suaminya ke ladang walau sangat melelahkan.
__ADS_1