
Edwin menyeka air matanya, ia tak ingin semakin lemah kala melihat Reni seperti ini. Apa jadinya jika abangnya melihatku seperti ini. Pasti aku akan dikira pria cengeng!
Tringg...
Tringgg...
''Bang, a - Aku.. Ada telfon, aku angkat sebentar ya bang! Permisi!"
Firman mengangguk mengerti, ia sangat paham posisi Edwin karena cuti bukan untuk liburan namun untuk adiknya itu. Sambil menyeka air matanya Edwin berjalan menjauh dari kaca yang menampakkan kekasih hatinya itu.
Plapp...
Plappp...
Gerakan jemari lentik Reni perlahan bergetar, jari - jari mungil yang kaku itu terangkat dengan perlahan - lahan, seolah mengisyaratkan bahwa ia mencari sesuatu yang ingin di raihnya.
''Ha.. Hausss..''
"Eeemphhht... Haa... hauss.."
Reni mengedarkan pandangan di sekelilingnya namun nihil, ia berada dalam ruangan steril dengan penuh pengawasan.
''A - abang! Aku haus!'' Rintihnya saat ini, namun suara itu benar - benar tertahan dalam tenggorokan.
Deg..
Langkah Firman terhenti sejenak, ia pejamkan kedua matanya memusat. Entah apa yang dirasakan saat ini, ia mengurungkan niatnya untuk mencari makan siang demi menengok sang adik
''Reni!''
Drap.. Drapp..
Drapp..
''Alhamdulillah Ya Allah, adiku terbangun dari tidurnya. Ya Allah, aku bersyukur sekali!'' Firman segera meninggalkan ruangan berkaca itu lalu berganti baju steril dan menghubungi dokter Reno perihal adiknya.
Ceklek..
Tap.. Tapp...
Tap.. Tapp...
__ADS_1
'' Sayang, kamu sudah bangun? Mana yang sakit? Cerita sama abang! Siapa yang bikin kaya gini? Hemm?''
''Aku.. A - aku..''
''Apa? Katakan mau apa? Mau jalan - jalan? Mau shooping? Mau baju? Mau tas?''
''Akkhh.. Akku..'' Reni ingin mengucapkan sepatah kata namun tenggorokannya rasanya tercekat sekali. Sangat sangatlah sudah!
''No.. No! Kamu harus istirahat dulu, tak boleh kemana - mana! Tiduran lebih baik dari pada berkeliaran aneh - aneh saja kau ini! Tunggu dokter datang dulu, kalau kamu sudah baikan kemana pun kamu mau abang jabanin deh! Fix janji!''
''Ha..Usss!.. A - Aku.. Mi..Numm...!''
Firman hanya nyengir kuda kala ia salah tanggap pada adiknya itu. Setelah Reni siuman dia dipindah ke ruangan VIP di rumah sakit itu.
...****************...
Tap...
Tap...
Tapp...
Tapp....
''Kok ilang? Di mana kamu Dek? Duhh, abang ini kemana ya?''
Drap.. Drapp...
''Sus.. Suster!''
''Ya bapak, bisa saya bantu?''
''Saya belum jadi bapak - bapak sus! Panggil mas aja!''
Suster bertubuh mungil itu akhirnya hanya menurut saja, ia mengangguk tanda setuju dari pada berkepanjangan urusannya.
''Di mana pasien ICU tadi? Namanya Reni, yang belakangan ini saya tungguin. Di mana sus? Katakan di mana? Gak ilang kan?''
''Bukan mas!''
''Gak di pindah ke rumah sakit lain kan? Sus? Suster ini ngomong dong!'' Bentak Edwin penuh kecemasan.
__ADS_1
''Pak! Sabar!!! Dimohon bersabar, dengarkan saya dulu pak. Mbak Reni sudah pindah di ruang VIP kamar Cempaka nomor 2. Bapak bisa mengunjungi ke sana! Saya permisi pak!''
Suster itu melenggang meninggalkan Edwin dengan frustasi.
''Galak amat! Bentak - bentak kaya aku budek aja! Beruntung ganteng! Kalau jelek aku suntik tau rasa dia!'' Umpat suster bernama Sri itu.
''Win!''
Deg..
''Abang!''
Ia berjalan bersama menuju kamar Reni melalu lift darurat karena kuasa Firman sebagai pengusaha jadi dipermudah dalam segala hal.
''Kok abang tak bilang kalau Reni dipindah bang?''
''Kenapa harus bilang?''
''Hmm... Ya...! Ya, aku kan khawatir bang! Aku takut di culik, apalagi hari ini hari terakhir aku di sini. Besok harus sudah bekerja lagi.''
Tak perduli dengan ucapan Edwin, Firman memilih lebih dulu keluar lift dengan mengusap - usap handphone bobanya itu.
''Reni siuman, bikin syukuran untuk panti sekarang!''
Tut..
''Abang, telfon siapa? Aku kan besok pulang, jadi bisa aku bantu kalau memang mau bikin syukuran bang?''
Langkah Firman terhenti sejenak, ia menyunggingkan senyum smrik nya. Yesss... Edwin masuk jebakan.
''Oke kamu yang atur, akan aku batalkan catering itu. Deal ya 200 pack. Thank's Win kamu calon ipar terbaik!''
Deg...
''Apaaaaa???? Besokk? 200 pack? Gak.. Gak mungkin, ini pasti bercanda!'' Gumamnya dalam lirih.
Tingg..
'Ahaaa... aku tau harus hubungi siapa! Duhh, semesta memang mendukung ya!''
Tringgg...
__ADS_1
Tringgg...
''Halo? Siapa ini?'' Suara lembut wanita menyapa Edwin dalam suara telfon.