
Edwin dan Erik hanya beradu pandang. Mereka berdua makin heran karena seorang Agastya bisa - bisanya tumbang seperti ini.
''Gas, kamu udah cek ke dokter?''
''Be - belum Win, tapi aku gak papa kok. Kemaren kecapekan habis menghadap komandan Win. Oiya Erik tolong dong kalau kamu bawa mobil aku nebeng ya!''
''Yaudah makan dulu aja, kalian mau gudeg apa aku pesan dulu. Sayang kan kalau sampai sini mau balik!'' Tegas Erik pada kawannya itu.
...****************...
Di dalam mobil Agastya hanya menggelayut terus sama istrinya. Sepertinya pasangan ini memang ingin viral di kalangan Bhayangkari. Tak malu mencium mencuri kesempatan dalam mobil.
Edwin yang mengambil alih kemudi mobil Erik hanya menatap pasangan suami istri itu dari spion tengah.
''Kok bisa ya Rik? Mbak Aruni mungkinkah Agastya salah makan atau barang expired kali! Gak di cek dulu ya sebelum makan mbak?'' Tanya Edwin pada Aruni yang mengusap kepala Agastya.
''Enggak tau juga, cuma tadi pagi itu muntah - muntah parah mas, lebih dari ini. Semalem aku kerokin juga hoek - hoek karena anginnya mau keluar kok.''
''Astaga!'' Erik berteriak membuyarkan konsentrasi Edwin saja. Dia menutup mulutnya sendiri seolah tak percaya.
__ADS_1
''Nopo koe?'' Edwin menautkan alisnya.
''Win! Baca! Cepat! Baca Win, bukan diliatin aja!'' Erik memegang gawainya tepat di dekatkan mata Edwin, rekannya melotot sempurna lalu beralih melirik pasangan di belakangnya.
Aku semakin yakin ada yang tak beres dengan Agastya, masa dia di santet sih! Ada - ada saja sih Erik ini, masa disaat teman kritis susah muntah - muntah masih saja sempat - sempatnya mencari ciri - ciri orang tersantet. Ente kadang - kadang ya!
''Kenapa mas?''
Aruni makin bingung dengan kedua teman suaminya. Karena tak biasanya Edwin dan Erik berbisik - bisik seperti itu. Aku makin yakin kalau ada apa - apa dengan suamiku. Jangan sampai beneran keracunan Ya Allah!
...****************...
Huekk... Huekkk....
''Ya Allah mas! Kenapa bisa seperti ini pagi? Duh jangan - jangan!'' Aruni memapah suaminya untuk duduk di sofa.
''Ini minumnya le! Bismillah dulu le biar ndak keselek!'' Titah Bu Hakim.
Sebenarnya Bu Hakim dan Aruni sangat iba melihat Agastya seperti itu. Suara deru mobil terdengar dari luar.
__ADS_1
''Weh.. Kenapa anak lanang Kim?'' Pak Halim masuk ke dalam rumah makin heran mendapati Agastya telentang lemas di sofa.
''Muntah - muntah mas, gak tahu kenapa. Tadi pagi juga parah muntahnya, ehh.. Sekarang malah kumat lagi!''
''Buk, kalau tadi pas pulang kan Mas Erik dan Mas Edwin bilang kalau mas Agastya kayaknya keracunan makanan deh.''
''Bisa jadi itu Kim, Gas kamu terakhir makan apa sih sampai begini. Gak malu apa pak pramuka masa tumbang sih!'' Sindir Pak Halim selaku om Agastya.
''Tapi ada yang ngeri lagi buk! So - Soal Mas Agastya buk!'' Aruni lemas seketika. Bu Hakim semakin penasaran. Dan berpindah tempat duduk di samping menantunya.
'' Katakan Nduk!'' Titah Pak Halim.
''Katanya kalau bukan keracunan. Berati Mas Agastya kena! Ke - kena!''
''Ada apa?'' Bu Hakim dan Pak Halim berkomentar bersamaan.
''Kenapa?'' Pak Halim tak sabar mendengar Aruni yang sedikit berbelit - belit dalam berucap.
''San - Santet!''
__ADS_1
''Apaaaaaa??????'' Bu Hakim dan Pak Halim kompak menutup mulutnya tak percaya.
''Lambemu dek!'' Agastya mengumpat kesal bagaimana bisa istrinya termakan ucapan receh Erik itu.