Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 93 #Terima kasih Mas!


__ADS_3

Lain di tempat Reni, tampaklah Aruni yang termenung di jendela kamarnya. Ia tampak kosong dan sendu sembari duduk di kamarnya sedari pagi. Hembusan angin membuat rambutnya yang hitam legam beterbangan ke belakang.


''Sayang?'' Panggil Agastya pada istrinya yang tak kunjung merespon.


''Yang? Sayangg?'' Agastya menekankan sedikit lebih kencang dari biasanya dalam memanggil, ia mengerutkan dahinya merasa ada yang tak beres dengan istrinya saat ini. Entah apa yang terjadi pada istrinya, namun Agastya merasa Aruni menyembunyikan sesuatu.


Puk..!


''Istriku, kamu kenapa?''


''Astagfirullah! Mas... Ngagetin aku aja sih! Mas ini kenapa gak ketuk pintu dulu? Kan aku malu belum pakai jilbab!'' Gerutu Aruni yang membuat Agastya semakin gemas.


Griyuuuuttt....


Agastya mencubit kedua pipi istrinya dengan penuh kegemasan hingga Aruni menyipitkan kedua matanya


''Yuuk siap - siap, mas tunggu di depan ya! Sekalian mau pamit ibu juga!'' Agastya mengusap kepala istrinya dan keluar mencari ibunya di ruang santai.


...****************...


''Alhamdulillah sampai juga, beruntung ya mas kita gak kena macet!''


''Mana ada Magelang macet dek! Kita kan dekat juga rumahnya. Kamu ini..! Ohh ya, mas sudah daftarkan kamu lewat online tadi. Jadi tak perlu lagi nanti teman mu itu bertele - tele tanya - tanya hal yang tak penting.'' Ucap Agastya sembari melepas seat belt nya.


Maksudnya mas Agastya kenapa ya? Memang temanku siapa. Mungkin yang dia maksud adalah mas Bagus. Yaa, kalian masih ingat bukan mas Bagus Herawan dokter tampan yang kemarin memeriksaku saat awal hamil itu loh!


Tak.. takk...

__ADS_1


takk.. takk...


Aruni berjalan menelusuri koridor rumah sakit tempat ia memeriksa kandungan, tangannya bergelayut manja bertaut pada lengan kekar Agastya.


Aruni semakin mengerucutkan bibir kala beberapa pasang mata menatap suaminya seakan memuja. Ada kaum ibu - ibu mungkin sehabis besuk kerabat, beberapa perawat bahkan nenek - nenek yang terduduk di sekitar koridor.


''Kenapa sayang?'' Agastya bisa membaca ekspresi istri unyu nya ini. Merajuk seperti anak SD saja.


''Aku tak suka mereka menatap mas seperti itu! Kesel banget! Pokoknya tak suka!'' Aruni semakin mengeratkan gandengannya pada sang suami.


Tanpa banyak bicara Agastya menggengam tangan istrinya yang sedang merajuk itu sembari berjalan ke arah poli kandungan.


...****************...


Aruni masih video call bersama Firman kakak Reni, hari ini Reni dikabarkan sudah bisa merespon dengan baik meskipun belum sepenuhnya sadar.


''Silahkan.'' Agastya kembali mengusap - usap tangan istrinya yang ia gengam sebelah, karena yang sebelah lagi di gunakan untuk pegang handphonenya.


''Mas, namanya siapa?'' Tanya perempuan di samping Agastya.


Gilak.. Agastya tak berkutik saat ini. Ia berusaha menahan tawa karena perempuan seperti jemuran baju merayunya.


''Dengan istri mbak!''


Hening...


''Ohh sama istrinya, hmm... saya kira masih bujangan. Habis mas nya macho sekali.. Kuuul... abiss!'' Pujinya.

__ADS_1


''Saya memang kuuuull mbak! Makanya saya bisa dapat istri seperti ini!'' Agastya mengangkat tangan Aruni yang ia genggam.


Menyadari suaminya menyebut namanya, segera ia menoleh pada suami.


''Siapa mas? Teman kantormu? Istri rekanmu?''


''Gak tahu dek! Gausah dipikirin lah!''


Melihat suaminya tampak acuh, Aruni kembali menatap gawainya.


''Yahh.. mati deh! Pasti mas Firman lagi ngurus Reni. Coba aja aku di sana pasti cepat bangun!''


*Panggilan kepada nomor urut tujuh. Atas nama Ibu Aruni Wijaya, silahkan masuk*


''Yuk sayang! Dah dipanggil itu!''


''Terima kasih mas, sudah jaga pandangan sama wanita lain. Aku sayang banget sama kamu mas. Tetap seperti ini ya sampai tua besok!''


''Ya sayang. Don't worry about me! Mana mungkin mas suka sama perempuan j


kaya jemuran tadi! Liat aja bikin jijik!''


''Je...muuu...ran..?'' Aruni melambatkan ucapannya.


''Heem yang tadi itu! Masa perempuan pakai jepit rambut, gelang tangan sampai kaki banyak banget! Kaya jemuran! Ting crantel!''


Aruni tak kuasa menahan tawa mendengar bualan suaminya itu. Lalu keduanya masuk ke dalam ruangan dokter.

__ADS_1


__ADS_2