Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
122 Mencari Aruni


__ADS_3

Mereka berdua beradu pandang, biasalah ekspresi Agastya yang biasanya menyebalkan kini beralih mode galau seketika.


Indra hanya mencebik kasar...


Cekrekk!


Agastya melotot melihat Edwin langsung memasukan ponselnya, ''Napa?'' Tanya Edwin dengan sengaja.


''Kenapa candid aku?''


Kini berganti Edwin yang mencebik kasar .. Singa satu ini memang sensitifnya melebihi istrinya.


Mereka bertiga pergi langsung menghadap komandan guna meminta izin agar dapat cuti.


''Tak bisa jika semua berangkat bersamaan! Itu akan menimbulkan curiga!'' Ucap sang komandan.


''Ijin komandan! Lalu kami harus bagaimana?'' Tanya Indra menengahi posisi Agastya yang hampir tumbang setelah muntah - muntah tadi.


'' Iptu Agastya berangkat bersama Iptu Indra, sedangkan Iptu Edwin tetap di sini! Karena ada peralihan tugas dari saya!''


Mereka bertiga beradu pandang, apalagi ini?


''Edwin kan mengemban tugas sebagai Kapolsek di Desa Suka Jaya! Angka penjambretan di sana sangat tinggi! Saya curiga karena setiap ada perampokan dan penjambretan pelapor selalu mencabut tuntutannya!''


''Ijin Komandan! Kenapa bisa begitu? Kan tidak sesuai dengan barang atau sesuatu yang berharga yang hilang dirampok? Kenapa menyerah begitu saja?'' Tanya Edwin.


''Saya sangat suka dengan kepekaan mu Win! Tidak ada anggota yang bisa saya percaya selain kalian bertiga! Maka lakukan misi kalian diam - diam! Soal ijin biar saya yang urus, tak perlu kalian bingung! Dan kamu Win, hanya mempersiapkan diri sertijab ( serah terima jabatan) tiga hari lagi. Ini misi kita! Tak boleh gagal! Paham!"


''Siap Paham!!!'' Jawab semuanya serentak.


''Gas! Perbanyak sholat dan dzikir! In Sya Allah, pasti cepat teratasi. Sebab ini menyangkut keselamatan istri dan anak- anakmu. Langitkan doa - doa khusus untuknya, sabar ya! Saya akan dukung kamu. Jangan lupa kalian harus membawa rompi anti peluru!''


''Siap Ndan! Saya sudah menyiapkan sedikit strategi untuk ini. Saya hanya curiga apakah ini berkaitan dengan misi kita atau tidak, hingga istri saya yang tak bersalah sekalipun kena imbasnya? Maaf Ndan! Saya meminta ijin untuk meminta amunisi penuh untuk ini!'' Timpal Agastya.


''Lakukan! Kalian boleh pergi!'' Jawab sang komandan.


-

__ADS_1


-


''Duh...! Mana bisa aku jadi Kapolsek!'' Umpat Edwin.


''Lumayan jabatan baru! Siapa tahu di sana banyak warga yang janda bisa jadi cuci mata selama Reni tak di sini!'' Ledek Indra.


Edwin melirik tajam pada Indra yang sedang menyesap rokoknya.


''Udah deh! Lagi gak mood aku bahas ginian! Kita mau dari mana ini mulainya?'' Umpat Edwin.


Sssstt.....!


''Jangan di sini! Ingat! Tembok bisa berbicara! Kita ke rumahku saja, bahas rencana di sana.''


Di tempat lain, Aruni sedang berusaha melepaskan tali yang membuat pergelangan tangannya memerah. Sakit... Sangat sakit!


''Arghhhh! Kenapa susah sekali?'' Ia berusaha melepaskan perlahan - lahan. Tak mungkin memaksakan karena Aruni takut menangis.


''Tolong hambamu ini Ya Allah! Ibu... Mas Agastya... Huhuhuhuu....!'' Rengek Aruni.


Sepi, meskipun ruangan di sini terkesan seperti mansion mewah tapi aku tetap saja takut. Sebenarnya siapa yang melakukan ini padaku?


Tap..


Tap..


Suara langkah kaki mendekat kian jelas, tampak seorang lelaki bertubuh amat besar meletakan makanan di depanku.


''Makanlah! Kasian janinmu di sana!'' Tunjuknya pada perutku.


''Lepaskan aku pak, aku mohon. Aku tak tahu salah apa pada kalian hingga kalian tega membuatku seperti ini. Aku belum sholat dan bersih - bersih badan. Kasiani aku pak!'' Rengeknya kembali.


Awhh... Hati pria bertubuh kekar itu sedikit trenyuh melihat Aruni memohon seperti itu, ia juga membayangkan posisi Aruni jika dialami oleh anak perempuannya sendiri.


''Maaf Nona, sebenarnya aku ingin. Tapi aku hanya bertugas sebagai pengantar makanan! Makanlah agar anakmu sehat!''


Ia meninggalkan Aruni yang terus menangis, dan berteriak minta tolong.

__ADS_1


''Heh! Kenapa wanita itu? Kau apakan dia sampai teriak minta tolong?'' Tanya Mardi pada Kasman yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Huft... Dengusan nafas kasar dan bingung membuat separuh hatinya dilema.


''Aku kasihan Mar. Tapi apa daya? Kita di sini juga cari makan!'' Keluh Kasman pada Mardi.


''Sebenarnya aku juga kasihan! Kenapa bos bisa menculik wanita hamil itu, apa salah dia? Memang sih cantik, tapi kalau bunting anak lakik orang ya percuma kan!'' Sahut Mardi.


-


-


-


''Ibuu.....!'' Reni berjalan perlahan mendekati sang ibu yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


''Sayang! Kamu sudah sembuh? Kenapa tak kabari ibu kalau sudah pulang? Ibu senang sekali melihatmu bisa jalan lagi.''


Grepp..


Ibu Ratmini membawa Reni ke dalam pelukannya, rindu yang tertahan kini di curahkan melimpah begitu saja.


''Kita ke Aruni yuk buk! Aku kangen sama dia! Kemarin dia janji ke rumahku tapi tak jadi, aku takut dia lelah atau kecapekan. Yuk buk!''


Brummm...


Bu Ratmini dan Reni meninggalkan rumah setelah selesai mengunci dan menutup pagar.


Tringgg...


Tringgg....


''Gas! Aruni kemana sih? Ibu ketok - ketok pintu kamarnya kok nggak nyahut? Ibu mau buka juga gak enak sama istrimu? Apa dia ketiduran Gas?'' Tanya Bu Hakim.


'Duh!! Apa yang harus aku bilang sama ibu? Pasti ibu curiga kalau Aruni tak ada di rumah. Duhh!'


''Haloooo! Halo! Halooooo!!''

__ADS_1


''Aku sudah mau sampai di rumah bu! Tunggu saja!''


Tut!


__ADS_2