
Bruk...
Aku terjatuh menabrak seseorang. Ihhh menyebalkan sekali, bukannya menolong tapi malah pada lihat doang mana dingin lagi, dasar netizen +62 bukannya nolongin malah sibuk rekam - rekam gak jelas! Aku mencoba untuk bangkit, ahh... Aku bisa berdiri lagi, aku kira bakalan kesleo atau tulang retak seperti di sinetron ikan terbang dan ftv itu. Kala kesleo datanglah pangeran berkuda putih menolong.
Upss.. Apaan sih aku ini, benar - benar konyol!
''Anda tidak apa - apa mbak?''
''Ya saya tidak papa kok!'' Kupalingkan badanku dan aku terkejut bukan main. Aku menepuk pipiku sendiri.
'' Ada yang serius lukannya? Perlu berobatkah?'' Laki - laki itu bertanya padaku dengan penuh kelembutan.
Duhh... Meltingnya aku, dia tampan sekali. Bayangkan pemirsa dia tinggi putih, hidungnya mancung, rahangnya kokoh sekali. Ahh badannya bisa aku lihat dia tegap sekali dan matanya besar seperti jengkol, namun tak apa itu tak akan mengurangi kesempurnaanya.
''Mbak? Mbak! Hello! Bisa mendengar saya?''
__ADS_1
''Ahh iya.. Bisa - bisa! Maaf tadi masih sedikit grogi. Iya saya tidak papa kok, silahkan dilanjut mas. Saya tidak perlu bantuan kok. Hihi!''
''Saya Rafa! Mbak siapa namanya?'' Dia mengulurkan tangan padaku. Bak gayung bersambut aku terima dong ulurannya.
''Reni aja! Saya permisi ya mau lanjut dulu!'' Aku meninggalkannya lapangan es yang paling ujung.
Aku benar - benar tak tahu kalau aku meluncur sejauh itu, karena luas sekali jadi ya aku merasa bebas meluncur di mana aja.
''Aku harus mandi besar ini! Bagaimana bisa aku menaksir Mas Edwin tapi mataku tergoda sama lelaki baru itu! Ahh.. Rindu tak terobati bikin pegel mata aja!'' Gumamku lirih.
''Endless Love! Klik! Mas Edwin aku akan membayangkanmu di sini, peluklah aku Mas. Aku sangat ingin!'' Reni berteriak sedikit kencang setelah menyetel musiknya. Dia kembali berayun - ayun di atas hamparan es. Dia sangat menikmati harinya tanpa gangguan sama sekali.
''Mas? Mas Agas? Ihh kemana sih dia, dipanggil berkali - kali kok gak keluar - keluar ihh!"
Ceklek.. Aruni mencari suaminya di dapur sampai ruang tamu tak nampak batang hidungnya, ia sedikit kesal dengan suaminya yang tak bilang dulu mau kemana jika meninggalkannya.
__ADS_1
'' Kenapa nduk? Mencari suamimu ya?'' Suara mertua Aruni sudah menyapa dari ujung ruang Tv.
''Iya buk, di mana ya Mas Agas. Aku cari - cari kok gak ada ya?''
''Astaga iya. Ibu ingat! Tadi suamimu bilang mau keluar sebentar. Ibu lupa bilang sama kamu! Kemari nduk, duduklah di sini!'' Ibu menepuk sofa di sebelahnya, segera aku daratkan dengan sedikit paksaan karena aku sedikit kesal dengan suamiku.
''Sayang, suamimu keluar mungkin dia sedang menemui komandannya. Dulu sejak ditinggalkan ayahnya. Suamimu itu bisa mandiri nduk, alhamdulillah gak rewel sama sekali. Tiap ditinggal ibu, dia selalu mengerti. Hingga dia bercita - cita jadi polisi nduk. Ya sampai saat ini. Senjata adalah istrinya yang pertama nduk, kamu inget kan waktu mau pengajuan?''
''Iya buk, cuma aku kenapa jadi was - was seperti ini ya buk? Padahal biasanya juga aku nggak masalah ditinggal Mas Agas sampai malam! Apa bawaan bayi ya buk, memang dulu ibu hamil Mas Agastya bagaimana rasanya sih buk, Aruni jadi penasaran!''
''Luar biasa, nikmat orang hamil itu luar biasa sekali nduk! Pahalanya, kesehatannya dan happynya tak akan tergantikan nduk. Nikmati saja apa yang ada, alhamdulillah Allah kasih kamu kepercayaan mereka di sini,'' Ucap ibu saat mengelus perutku yang masih rata ini.
''Iya buk, aku lupa bersyukur kalau seperti ini. Padahal teman - teman Aruni banyak yang masih berjuang untuk dua garis merah. Aku yang sudah di beri amanat malah tidak menyadari. Huhhft! Mas Agastya nggak angkat telfon juga buk!''
''Sabar nduk! Sini ibu peluk. Biar cucu - cucu ibu nyaman.'' Bu Hakim membawa kepala menantunya dalam pelukannya saat ini. Belum sampai tiga puluh menit Aruni tak merespon apapun yang mertuannya katakan, ternyata ia tidur.
__ADS_1
''Assalamuallaikum!'' Agastya membuka pintu.
''Ssst... Pelan napa! Kaya kernet angkot aja teriak - teriak di rumah!'' Bu Hakim malah memelototi Agastya.