Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 92 #Cinta dalam hati


__ADS_3

''Allahuakkbar'' Edwin terduduk di takhiyat akhir sholatnya. Ia panjatkan doa dan berserah diri atas semua keluh kesahnya, ia merasa bingung lantaran keputusan apa yang akan dia ambil.


Sementara di tempat lain, Bu Mah tampak sedang memasak untuk anak - anak asuhnya bersama mbak Darmi art kesayangan keluarganya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


''Mbak, kapan kamu ada waktu senggang? Jangan buru - buru balik dulu ya!''


''Punten ibu, ada apa memangnya? Saya teh sepulang dari sini langsung bantu abang bikin cilok, jadi tak repot bila ibu mau minta lembur!''


''Begini mbak.....''


Kringggg ...... Kringgg.... Dering telfon di rumah Edwin menggema memenuhi ruangan.


''Punten ibu, saya atau ibu yang akan angkat telfonnya?'' Tanya sang art, memang mbak Darmi itu the best, selalu mengutamakan kesopanan di manapun.


Tanpa menjawab sepatah kata, Bu Mah langsung berjalan menuju meja tempat telfon berdering.


''Haloo.. Assalamuallaikum''


''Iya mbak Hakim, saya alhamdulillah baik. Mbak sendiri bagaimana kabarnya?''


Mbak Darmi kembali mengupas labu siam yang akan ia masak, ia tak ingin terlalu mengkepo percakapan majikannya. Namun di satu sisi cukup lega karena yang telfon adalah Bu Hakim, ibu rekan kerja Mas Edwin.


''Apa! Ba - bagaimana bisa? Mbak Hakim, Bagaimana keadaan Nak Agastya sekarang? Mmm.. Begitu rupanya!''


Mbak Darmi sedikit menautkan alis ia menoleh pada majikannya yang sedang menelfon, entah apa yang bu Mah terima kabarnya namun tidak bisa di pungkiri bahwa ia juga kaget.


''Mbak, nanti kita ke rumah sakit ya! Masaknya tambahin aja, soalnya Agastya opname karena istrinya hamil. Saya ndak endak hati kalau enggak nengok dia. Nanti kalau terlambat bisa - bisa malah kita di rumah nengoknya.''


''Ya malah bagus atuh ibu, di rumahnya teh bisa nyaman. Tak bau karbol rumah sakit!'' Sanggah mbak Darmi.


''Ahh kamu ini! Bukan bau karbol tapi nanti anaknya keburu kerja! Dia itu persis plek ketiplek sama Edwin! Sembuh atau sakit ya kerja!''


Mbak Darmi dan Bu Mah hanya terkekeh tertawa dengan ucapan tadi. Mereka kembali melanjutkan misi memasaknya kembali.


...****************...


Kringggg....


Kringgggg....


Kringggg...

__ADS_1


Kringgg...


Deru nada sambung telfon di handphone Erik memecah kegabutan para polisi di pos persimpangan CPM, karena Erik sedang di sana membawa semua hasil tilangan sepeda motor anak - anak nakal kali ini.


''Heh angkat dulu telfonnya! Berisik!'' Sindir temannya satu letting itu.


''Hmm..''


Ia menautkan kedua alisnya, tumben - tumbenan Agastya menelfonnya memakai nomor pribadi. Biasanya juga pakai HT atau telfon kantor.


''Apa!''


''Heh supir angkot! Salam kek! Malah apa! Apa! Kafiiir!'' Sahut Agastya tak mau kalah.


Erik hanya memutar bola mata malasnya, ia dengarkan dengan saksama apa yang Agastya bicarakan kali ini. Ia sangat mengerti maksud Agastya padanya. Paham sekali bahwa Agastya juga memikirkan para sahabatnya walau dirinya sedang dalam mode rebahan di rumah sakit.


''Beres pokoknya! Tenang wae rausah samar karo aku! Wes tak uruse dewe! Kowe sing penting mari disek! Mengko tambah mumet aku ngopeni kowe karo Edwin!''


Tut...


Erik memutuskan panggilan sepihak, karena ia akan melanjutkan kerja. Soal rencana bersama Agastya. Akan ia lanjutkan nanti jika jam makan siang tiba.


...****************...


Tokk..


Tokkk...


''Masukk!'' Bariton suara tegas dan dingin keluar dari ruangan komandan Edwin.


''Siang Ndan!'' Edwin masih menundukkan kepalanya.


''Ada apa Win? Bicara santai saja, ini sudah mau masuk jam istirahat! Tak usah ragu pakai bahasa kita!'' Sahut sang komandan.


''Siap laksanakan!'' Jawab Edwin masih dengan mode militer.


''Piye to kowe ki? Dikon model alusan malah ngono. Oalah Win.. Win!'' Sang komandan masih menggeleng - geleng kepala melihat tingkah anak buahnya yang tak biasa menghadap kecuali soal tugas.


''Cerito ono opo? Hem? Ono masalah? Po kepiye, teko ngomong wae. Aku wes nganggep kowe adiku koyo sedulurku dewe!''


''Ajeng sanjang Mas. Ehmm.. Anu mas... A - Anu!'' Edwin menegang di seluruh tubuh, rasanya lidahnya kelu saat akan berbicara. Terlintas di benaknya kecelakaan itu. Ia sangat terluka saat ini.

__ADS_1


''Anu ne sopo? Anu - mu?'' Tanya sang komandan dengan penuh penekanan.


Edwin melotot kaget dengan ucapan komandannya. Ia semakin gugup karena bingung akan mulai dari mana.


''Sa - Saya mau minta ijin mas! Cuti dua atau tiga hari mas!''


Hening..


''Nopo?''


''Saya ada perlu ke kota S. Di sana nanti saya tetap akan mengerjakan laporannya mas komandan, tetap akan selesai kok besok! Suwerrr!'' Edwin mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V itu.


''Cerito Win! Lanang kok ndredeg ngono kui! Opo kui!''


''Hmm.. Pripun nggih? Hmmm... Hmmm... Kulo bingung mas ajeng sanjang seking pundi. Hmm... ''


''Seko Bandongan yo oleh! Seko Alun - Alun ya malah luwih cedak Win!'' Sang komandan hanya merenges dan geleng kepala kala melihat ekspresi anak buahnya yang saat ini keningnya sudah di penuhi bulir - bulir air sebesar biji jagung menetes perlahan.


''Omong pora? Iki pitu menit maneh wes melbu jam istirahat? Aku arep tuku kupat tahu soale! Po kowe meh melu cerito neng kono?'' Sahut sang komandan.


Edwin menceritakan semuanya pada atasanya, mengenai perihal alasan cuti dan soal kecelakaan Reni. Beliau hanya magut - magut saat mendengar alasan Edwin untuk kesana.


''Yowes Win, aku tak mangan sek. Urusen cutimu mengko aku sing tanda tangan!'' Sang komandan meraih jaket yang di letakan di gantungan ruangannya itu.


''Terus aku gimana mas?''


''Yo diurus to Win, saiki kowe ngurus mengko aku sing handle nek keteteran. Okeh to kancane, mengko gampang. Wes kono diurus disek, ndang mangkat, diurus terus lamaran. Tak tunggu!''


Komandan Edwin langsung melangkah meninggalkan singgasana tempat bekerjanya, Edwin mematung seperti orang bodoh saat itu.


Drap..


Drap...


''Hmmm.. Win?''


''Siap Ndan!'' Edwin masih berdiri setelah berbalik arah menghadap komandannya.


''Basuh wajahmu dengan air lebih banyak. Tak tampan kalau wajah polisi tak garang. Sembab begitu! Hahahahhaha...''


Edwin malah menundukkan kepala nya karena sangat malu ketahuan sembab matanya karena nangis tadi. Segera ia berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya.

__ADS_1


Maluuu.... Sangatlah maluu!


__ADS_2