
Hisss, Reni apa - apaan sih? Ngomong gak pernah di rem, mirip bajaj aja! Seenak jidatnya minta kawin, bener - bener itu anak! Harus aku rukiyah dulu!
''Sama siapa nduk? Alhamdulillah kalau kamu sudah menemukan jodoh.'' Sindir Bu Hakim padanya sembari membersihkan air semburan tadi di meja.
''Hehehe... Nggak tahu bude! Aku bingung, mungkin kalau aku sembuh aku mau umroh, nanti di sana aku harus bisa menenangkan diri dan insyallah aku harus belajar istiqomah. Seperti ibu, bude dan Aruni tentunya.''
Aruni dan Bu Hakim tersenyum haru mendengar niat awal Reni, semoga saja impian yang dia dambakan selama ini bisa terwujud.
-
Mendung sudah mengitari seisi panorama di angkasa, awan - awan hitam pun bermunculan semakin banyak. Suara guntur samar - samar terdengar dari kejauhan.
'Mas Agastya ini!!!! Jam berapa ini kok belum jemput aku? Mana langit sudah gelap, aku harus pesan taksi online atau tinggal di sini?'' Aruni merutuki nasibnya sendirian di kantor guru, ia menyesal tak menerima tawaran Bu NIra untuk pulang bareng.
''Aku jalan aja deh, siapa tahu nanti Mas Agastya bisa ketemu di jalan nih. Dah ahh, kunci semua ruangan! Pastikan listrik padam, yang nyala hanya di luar ruangan. Keran mati! Siiipppp, beres! Assalamuallaikum....!''
Ceklek!
Suara selot pintu terkunci sudah ia selesaikan, kerjaan hari ini memang mengasyikan meskipun menguras tenaga.
Aku memutuskan untuk berjalan kaki dari sekolah hingga ujung perempatan. Huh! Melelahkan sekali rasanya kalau harus jalan, apalah dayaku kalau begini. Mas... Mas kenapa kamu nggak bisa di hubungi sih? Berkali - kali Aruni melirik arloji di tangan putihnya namun suaminya tak kunjung datang.
Baru beberapa langkah meninggalkan tempat kerjanya, mendung sudah manja minta di turunkan air hujan. Gegelar guntur semakin terasa sampai ke hati.
''Ya Allah, jangan hujan dulu. Aku belum sampai di rumah. Biarkan aku istirahat di rumah dulu sembari menunggu suamiku pulang bekerja.''
Ciiiiiitttttt..... !
Mobil sedan hitam berhenti di samping Aruni persis, nampaklah sosok yang ia kenal selama ini.
__ADS_1
''Aruni, mau kemana? Kok jalan sore - sore begini?''
'Hfftt! Ngapain sih tanya - tanya! Tau kan aku pulang kerja ya pastinya balik kerumah dong! Kepo aja sih' Rutuk Aruni dalam hatinya, ia sedang tidak mood karena hari ini Agastya tak memperbolehkan dirinya mengendarai motor maticnya ditambah sang suami enggan menjemputnya sepulang kerja.
''Aruni? Ayo pulang bareng saya! Bisa kan kabari suaminya nanti di mobil. Atau saya telfonkan saja suami kamu biar kamu gak jalan kaki.'' Dokter Bagus mulai merayu Aruni agar mau diantar pulang bersama.
''Hmmm.. Maaf dok, saya harus pulang sendiri. Tak enak di lihat tetangga, apalagi saya tinggal bersama mertua saya jadi lebih baik dokter duluan saja. Mungkin sebentar lagi suami saya akan datang menjemput. Saya tak tega meninggalkan suami saya sendirian.'' Penolakan Aruni secara halus membuat Dokter Bagus lebih tertantang untuk berbuat lebih.
'Perempuan setia! Jarang bisa di temui di jaman sekarang. Betapa beruntungnya kamu Pak Agastya memilikinya!' Dokter Bagus bermonolog dalam hati tentang kekagumannya pada Aruni.
'' Suami kamu tak akan marah Aruni, bilang saja nanti sampai di rumah kalau di barengi teman. Saya tak akan keluar mobil! Cukup kamu saja yang keluar, hmmm... Atau kamu mau berhenti di persimpangan atau jalan masuk rumah mungkin?''
''Maaf sekali lagi pak dokter! Untuk hal berbohong saya sangat - sangat tidak bisa. Dokter silahkan duluan, saya tetap akan menunggu suami saya!'' Aruni berucap semakin tegas pada dokter Bagus.
Dari Kedai Mak Onah tanpa Aruni sadari ada Firman yang tadi habis beli gorengan di sana, ia sengaja tak menjalankan sepeda motornya karena mau menjahili Aruni, namun kala melihat kedatangan tamu tak diundang emosi Firman meningkat tajam. Bisa Firman tebak jika laki - laki itu mengagumi Aruni juga.
''Ya?'' Aruni menoleh pada sumber suara di belakangnya.
Alhamdulillah! Ada Bang Firman, Allah sudah menolongku lewat kedatangan Abang. Hmm.. Aku harus pura - pura kalau bang Firman adalah kakak ku. Biar Dokter Bagus segera pergi.
''Kamu ini, aku nunggu dari tadi di sini loh! Maaf suamimu gak bisa jemput jadi dia minta Abang buat jemput kamu! Kenapa malah di situ? Siapa dia?'' Firman melirik Dokter Bagus yang mukanya sudah masam itu.
''Bang ini Dokter Bagus, beliau spesialis kandungan aku. Dan Dokter ini abang saya!'' Aruni memperkenalkan keduanya yang bertatapan sengit itu.
''Baru tahu saya kalau kamu punya abang Run, saya kira kamu anak perempuan sendiri.'' Sindir Dokter Bagus karena merasa bahwa Aruni seperti membohonginya.
''Aku sepupunya Broo! Anak budenya! Kamu kenapa masih di sini, sori ya kita pulang duluan! Mari Pak Dokter!'' Firman merebut tas laptop milik Aruni.
''Si - silahkan Bang, Run! Hati - hati di jalan!'' Ucapnya sembari menahan rasa dongkol di dalam hati.
__ADS_1
Brummm...
Brummm....
Ngeng...!
Suara motor Trail meninggalkan Dokter Bagus yang masih setia berdiri mematung di samping sedan mewahnya.
''****!''
''Siapa sih orang tadi, aku yakin deh kalau Aruni gak punya saudara model begajulan begitu! Ahhhh gak bisa di biarin nih!''
Brakk!
Mobil sedan mewah itu melaju dengan kecepatan di atas rata - rata karena emosi tak bisa mengantar perempuan yang ia kagumi pulang.
-
-
''Assalamuallaikum!''
''Waalaikumsalam warrahmatullah, tunggu sebentar!'' Suara Bu Hakim keluar dari dari arah dapur untuk membukakan pintu tamunya.
Ceklek!
''Loh? Kok bisa barengan sama Firman?''
Bersambung
__ADS_1