
''Sayang, hari ini kita pulang ya! Jangan lupa cek dulu apa yang mau kamu bawa. Biar gak ketinggalan.'' Titah Agastya pada istrinya itu.
''Beli oleh - oleh Gas! Om mu dibelikan dulu, sama tetangga sekitar kita juga!'' Pinta Bu Hakim.
Aruni memanyunkan bibirnya hingga terlihat sangat menggemaskan bagi suaminya, tidak sama dengan Reni yang sangat jengah menatap pasangan aneh ini.
''Kenapa nduk? Betah di sini?'' Tanya Bu Hakim padanya.
Aruni hanya menjawab dengan gelengan kepala saja namun tetap diam.
''Kalau kamu sedih dan mau di sini berarti kamu suka Reni sakit, bukan pengen sembuh? Bukan begitu? Hem?'' Timpal Bu Ratmini pada putrinya yang sedikit berkaca - kaca.
Hiks...
Hiksss...
Hikkss...
Hikksss....
''Aku rindu kamu Ren, mana bisa aku ninggalin kamu! Biasanya kamu yang selalu ngrecokin aku. Kenapa jadi pincang begini!''
Reni dan Agastya terbelalak mendengar penuturan sang sahabat.
''Mulutmu Run, gak di cium pagi tadi sama laki mu? Sembarangan! Minta tak gosok pake amplas ya?'' Ucap Reni tak terima.
Para tetua dan Agastya hanya terkekeh mendengar perdebatan kedua sista - sista sholehah itu. Aruni meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
''Sabar nduk, nanti kalau kawanmu dah baikan pasti balik lagi. Ibu juga gak sabar mau mantu yang ke dua!''
''Haaaaaaaa........!!!'' Semua orang kompak menatap Bu Hakim yang sedang senyum - senyum sendiri.
''Mak - Maksud ibu? A - apa?'' Agastya menggaruk tengkuk lehernya yang tak terasa gatal itu.
Ia melirik sekilas pada sang istri yang sedang melotot tajam, bahkan kedua tangannya sudah mengepal ingin membantainya.
''Mampussss,'' lirih Agastya.
Entah apa yang di bisikan Bu Hakim pada Aruni hingga dirinya bisa berganti mode jadi senyum - senyum begini. Alamaaakkkk... Begini ya nasib random emak - emak to be!
''Ren aku pulang ya! Baik - baik di sini! Aku mau balik dulu, karena minggu depan hari terakhir aku mengajar.''
''Kenapa?'' Reni melirik aneh, merasa ada sesuatu yang beda dari Aruni.
''Aku hamil beib!! Mana mungkin aku bawa anak kembarku kecapean di sana!'' Ucapan Aruni membuat Reni memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
-
-
''Pagi bang, ijin bang hari ini komandan minta abang segera menghadap di rumah dinas!'' Briptu Aziz menyerahkan nasi box pada Edwin.
''Punya siapa? Kamu masih normal kan?''
''Ya iyalah bang, ini titipan nasi box dari catering langganan abang katanya. Dibonusin 5 box karena kemarin abang buru - buru jadi diganti hari ini.''
''Ohhh!! Kirain kau belok!'' Jawab Edwin dengan ketus.
Briptu Aziz hanya mangap sambil menatap kepergian Edwin ke ruangannya.
''Edwin!''
''Siap ndan!'' Jawabnya dengan sigap.
''Santai saja, ini jam istirahat! Maaf aku mengganggu waktu istirahatmu. Aku ingin kau dan Agastya segera menuntaskan misi kita!''
Degg...
''Sa - saya? Bagaimana bisa Ndan? Bukankah sudah tepat Agastya yang di minta?'' Sarkasnya dalam lirih.
''Temui saya di Warung Bakso 22!'' Titah sang komandan sambil berbisik.
Sesampainya di luar sang komandan berbalik arah dan memanggilnya.
''Win, ingat! Dinding bisa bicara!! Hanya kamu dan Agastya yang saya percaya!! Pastikan tak ada yang tau jika saya memberimu misi khusus!''
''Si - siap ndan!'' Edwin menelan ludahnya sendiri, kerongkongannya merasa tercekat kala sang komandan memberi kewajiban padanya.
Triingggg....
Trriiiiiingggg....
Trriingggg...
''Halo Win! Ada apa?'' Sahut Agastya.
''Ada hal penting! Tapi bukan di telfon aku menyampaikannya!'' Jawab Edwin.
''Hmm.. aku tau! Yasudah aku telfon kembali nanti kalau sampai di rumah, aku sudah mau sampai kok. Ku kabari ya! Atau kau mampir saja kerumah!''
Tutt....
__ADS_1
''Sialannnn!!! Anak itu selalu saja bikin jengkel! Huhhh! Apasih susah nya ngomong! Main langsung matiin aja!'' Gerutu Edwin pada Agastya.
Bruummmm...
Edwin segera menuju tempat makan siang sang atasan, ia bertingkah senatural mungkin karena takut ada yang mengikuti.
''Rikk! Sendiri aja, gak nawarin juga! Sombong kamu sekarang!'' Senggol Edwin.
''Hisss ngagetin aja! Sini makan! Pak mie nya satu lagi, yang ini baksonya 2 ya!! Urat semua!!'' Teriak Erik pada Kang Jaja.
Kang Jaja mengacungkan jempolnya sambil tersenyum melebar ala pasta gigi favorit ku.
''Siippp Den, ditunggu!''
''Ssststtttt!!!! Ada komandan!'' Aris menginterupsi agar semua tenang.
''Ehh komandan! Makan siang Ndan?'' Edwin pura - pura bertanya.
''Hai Win, sini duduk,'' titahnya pada Edwin. '' Yang lain mau gabung? Boleh, sini!''
''Ti - Tidak komandan! Bang Edwin saja. Kami di sini juga sudah selesai. Kami pamit dulu!'' Jawab sang bawahan.
''Kang tinggalkan saja, biar Edwin yang bayar! Semuanya kembali ke posisi kalian!'' Perintah sang komandan saat itu juga.
Edwin melotot mendengar nya, kemarin pailit duit buat pesen prasmanan katering, sekarang suruh gantiin traktiran. Komandan mahh! Tak tau rasanya menabung demi ayang!
''Dah tak usah mikir! Saya bercanda, nanti saya yang bayar! Kamu fokus saja sama perintah saya!''
''Hufffttt!! Amannn!'' Edwin Mengelus dadanya dengan full senyum.
''Aman kenapa?'' tanya sang komandan.
Edwin tergagap bingung mau berkata apa, semuanya diluar nalar saat ini.
''Ahh komandan mah kadang - kadang suka kidding - kidding deh! Gitu aja tak peka. Pusing aku!''
''Win''
''Siap Ndan!'' Sahut Edwin dengan penuh mie dalam mulut.
''Saya akan bikin kan surat tugas baru padamu. Ini rahasia negara jadi identitasmu dan Agastya akan di sembunyikan juga demi keamanan kalian. Semua tetap saya pantau dari jauh. Amunisi full sesuai pistol yang kalian bawa, sniper andalan sudah saya perintahkan juga. Kamu siap turun?'' Tatapan tajam sang komandan membuat nyali Edwin menciut.
''Ka - kapan ndan?''
''LUSA!!''
__ADS_1
''Apa??'' Edwin tiba - tiba susah menelan baksonya. Mimpi ada dia semalam jadi begini.