
Emppphhk!
Emphkk...!
'Siapa yang melakukan ini?' Aruni tak bisa melihat wajah orang yang sedang membekapnya. Hanya ia merasa bahwa orang yang bertubuh lebih besar darinya berniat jahat padanya.
Apa yang terjadi padaku?
Apa aku di culik?
Siapa yang menculik aku, apa gunanya menculik orang hamil seperti aku?
Mungkinkah ia orang jahat musuh suamiku?
Ya Allah tolong hamba mu ini!
Siapa mereka?
Aku tak mengenal mereka semua!
Aku bahkan tak pernah melakukan hal jahat pada orang - orang!
Apa salahku Ya Allah?
Mungkinkah ini salah target?
Ribuan tanda tanya terasa semakin menyesakkan dada. Bulir putih menetes membasahi pipiku, aku masih tersadar! Mobil jeep berwarna hitam melaju dengan cepat. Aku tak tahu ini arahnya kemana tapi sempat aku lihat sang supir menjalankan ke arah luar kota di sini.
''Alhamdulillah aku tak di bius!'' Ucapku dalam hati.
''Minum!'' Sebuah uluran air mineral aku acuhkan dan rela aku minum, sebab aku takut jika isinya ada obat tidur.
Pria itu tersenyum samar!
__ADS_1
''Bos pasti senang kita sesuai target!'' Ucap lelaki yang bertubuh gempal di depanku.
''Apa untungnya bos itu! Masih muda, kaya tampan lagi. Harus naksir sama calon mamak - mamak bunting lagi? Kaya gak ada yang perawan aja bro!'' Sahut sang sopir kembali.
Sssssttt!
Suara pria di sebelahku menginterupsi agar diam.
''Bukan urusan kita dia suka sama siapa aja. Mau seperti apa wujudnya yang penting buat kita duit Bro!''
Suasana hening seketika setelah lelaki di sebelahku menginterupsi mereka dengan suara ngebass nya namun sedikit mengintimidasi.
''Aku sebenarnya tak tega Bro! Dia pasti ketakutan dan di cari keluarganya!'' Timpal sang supir kali ini.
Aku berpura - pura pingsan agar lebih leluasa mendengar ucapan mereka, sedikit - sedikit aku melirik ke arah luar agar dapat petunjuk aku di mana!
''Hmm!! Sial! Gelap sekali! Sepertinya ini bukan ada di kota deh?'' Aku bertanya dalam hati.
Ternyata lelaki di sampingku itu tertidur! Ahh! Apa yang harus aku lakukan? Ya Allah beri hambamu kemudahan!
''Heeeemmmpkk!! Ehmmmmpkkk!'' Aku menghentak - hentakan kakiku di lantai mobil agar menimbulkan suara.
''Arrrrghhh! Brisikkkkkk Banget sih!'' Seru lelaki yang duduk di depanku. Ia menarik lakban dari mulutku.
''Apa maumu? Tidak kah kau lelah juga? Perjalanan kita masih jauh! Jangan bikin pusing!''
''A - aku! Lapar!'' Jawabku pelan! Ya! Ini memang tujuanku agar anak - anakku dapat gizi terlebih dulu. Aku harus kuat sebelum suamiku menemukan aku.
-
-
* Flashback on
__ADS_1
''Ndan! Ini hasil laporan saya mengenai tugas kemarin!'' Orang kepercayaan Agastya memberikan kertas hasil survei lapangan mereka.
Sruuuuppt! Ahh!
''Mu...lus! Entah orang - orang seperti ini bisa - bisanya keren semua sadapan mereka! Tak ada yang menyadap garam gituh!'' Keluh Agastya.
''Mana ada Ndan! Oh ya Ndan. Kenapa tugas ini tak langsung saja di berikan ke tim reserse ?''
Agastya tersenyum...
''Dinding bisa berbicara! Apa kau paham itu?'' Bisik Agastya pada orang kepercayaannya.
''Bang? Bang!!!!'' Teriakan sang junior pada komandannya. Ia mengikuti kemana Agastya pergi.
''Nah! Kita ngobrol di sini!'' Agastya memasuki sebuah tempat yang mungkin di katakan tak masuk akal!
Alis Dafi berkerut sempurna. Ia semakin heran dengan Abang seniornya itu, hal - hal aneh memang jiwanya sih!
''Why bang? Ada yang serius kah?''
Agastya mengangguk!
'' Aku hanya percaya sama kamu dan Edwin! Tolong bantu aku memecahkan semua masalah ini. Aku sudah menikah dan aku sudah memiliki istri dan anak yang akan segera lahir!''
''Ya aku tahu itu!'' Sela Dafi pada Agastya yang langsung merengut!
''Kampret! Dengerin dulu baru komentar! Tak ada yang ku percaya selain kalian! Namun aku juga belum bisa percaya sepenuhnya dengan kalian sebelum kasus ini tuntas!'' Bisik Agastya pada Dafi yang sedang asyik makan es teller di tepi emperan warung Pasar!
Ting!
Ponsel Agastya berdenting menandakan ada sebuah pesan masuk.
''Nomor asing! Un Name! Siapa sih?'' Batin Agastya sembari menautkan kedua alisnya bersamaan.
__ADS_1
Mata Agastya terbelalak saat melihat pesan masuk!
''Kurang ajar......!!!!''