Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
114 Jujur, please !


__ADS_3

Lidah Aruni terasa kelu, apa yang ingin sampaikan pada sang suami tiba - tiba menjadi tercekat di tengah kerongkongan. Seolah - olah memang seperti maling yang tertangkap basah.


'Apa yang harus aku lakukan? Duh, semoga Mas Agastya gak berbalik badan. Kalau dia tau di sini ada Mas Bagus nanti jadi perang dunia lagi. Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Memang hamba tak pernah bisa berbohong tapi kalau situasinya seperti ini aku semakin terkesan jika aku selingkuh diam - diam. Padahal sebenarnya tak begitu.'


''Sayang? Yuk pulang! Apa masih mau mas temani?''


''Ah iya! Ayo!'' Aruni bergegas membereskan semua peralatan yang ia bawa termasuk gunting kecil dan kertas origaminya.


''Sudah sayang, kamu mau pesan lagi buat di bawa pulang?'' Tawar manis sang suami kali ini.


''Sudah cukup mas, mengkonsumsi gula tak baik jika berlebihan. Mas ingatkan?''


Agastya menggandeng tangan Aruni, seketika bahu Aruni terasa luruh karena ia lega sekali melihat pemandangan di meja sebrangnya tampak kosong.


'Hhhftt!! Plonggg!!!' Lirihan hati Aruni mulai menghangat.


''Sudah di jemput Dek?''


Agastya menoleh ke sumber suara yang sedang membayar bill nya, tubuh Aruni menengang seketika. Ia tak sanggup melihat tatapan tajam sang suami.


''Kenapa Pak Dokter ada di sini? Makan sama siapa?'' Agastya mulai menelisik tajam, namun ia juga sedikit melirik ke arah istrinya yang tengah menunduk.


''Ah saya sendiri, kebetulan tadi mau nyamperin Aruni. Tapi Pak Agastya sudah menjemput, yasudah saya juga harus kembali ke rumah sakit.'' Ungkap Dokter Bagus.


Agastya hanya berpura - pura membulatkan mulutnya saja sambil mengangguk - angguk sok yes.


''Mas yuk pulang!'' Bisik Aruni namun masih bisa di dengar oleh Agastya dan Dokter Bagus.


Dokter Bagus tersenyum...

__ADS_1


''Kalau duluan tak apa, nanti biar saya yang membayar tagihan ini!''


''Hanya membayar alpukat kocok tak akan membuat saya tak bisa makan 2 bulan Dok! Terima kasih atas tawarannya. Namun anak saya dalam perut istri saya hanya bisa makan uang Papa nya saja. Bukan dari yang lain!!!''


Jedyaaarrrrr!!!


'To the point amat cemburunya'


Dokter Bagus menatap kosong sembari melihat Agastya dan Aruni menghilang dibalik kuda besinya.


''Sulit sekali mendapatkanmu Aruni! Meskipun kau telah menjadi istri orang, aku semakin tertantang untuk memilikimu! Benar - benar wanita langka kamu ini!'' Gumam Dokter Bagus dalam mobilnya.


-


-


-


''Insyallah besok kalau kerjaan beres bisa kesana, memang kamu tak sakit lagi?''


''Dikunyah dulu napa!!'' Reni mendelik tajam.


Edwin meringis kikuk,


''Iya Dek! Kamu mau di bawain apa besok?''


Glekk


Gllleeeekkk!!!

__ADS_1


'Sial! Liat jakunnya naik turun malah aku yang birahi! Mana aku belum sembuh total lagi!' Reni mengumpat habis - habisan di dalam hati.


''Coba dek! Aaaaa.......!'' Edwin berpura - pura menyuapkan sesendok mie ayam bakso kesukaannya di layar ponsel.


''Aku gak napsu mas di pamerin kaya gitu! Napsuku kalau kamu telanjang dada di depanku kaya waktu itu!'' Reni merengut kesal.


Uhuuukkk....


Uhuuukkkk....


Uhuuukkkk...


Uhuuuuulkkkkk...


''Pake seragam kok gitu ya???''


''Ihhh!! Makin gak respek aku sama polisi!''


''Jangan - jangan video call an sama simpanannya kali?''


Edwin menjadi pusat perhatian kali ini, ia tak tau jika pembahasan barusan menjadi konsumsi publik yang sedang makan di warung mie ayam.


'' Dek sudah dulu ya, mas harus apel ini. Maaf ini udah di runggu Agastya dan temen - temen!''


''Itu diselesaikan dulu mas! Pamali! Cepat....!''


Tut...


''Ihhh apaan sih tugasnya?? Kalau begini ceritanya aku jadi istri Mas Edwin kelak pasti aku juga ditinggal begini. Duhh! Gimana mau jadi cebong dong kalau jantannya aja minggat mulu!!

__ADS_1


''Aaasrghhhhh!!!'' Reni frustasi karena terhalang waktu dan jarak yang lumayan jauh.


__ADS_2