Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 74 #Khitbah


__ADS_3

''Selamat siang pak, maaf ada tamu seorang laki - laki muda. Namanya Mas Edwin ingin bertemu bapak! Ya pak baiklah!''


Pelayan wanita itu berjalan ke arah Edwin yang masih berdiri di samping aneka jajanan camilan, layaknya sales keripik. Banyak beberapa pasang mata menatap ketampanan Edwin tanpa berkedip.


''Mas silahkan ikut saya!''


Edwin berjalan di belakang pelayan wanita itu, ternyata Ruko luas yang dijadikan tampak dari depan sebagai toko oleh - oleh itu benar - benar menakjubkan, di belakang layaknya kontrakan karena banyaknya kamar berpetak - petak, kemungkinan itu adalah penginapan bagi karyawan di sini.


''Silahkan mas, Pak ini mas Edwin. Saya tinggal dulu ya mas!''


''Mbak Lita, minta tolong bawakan minuman dan camilan ke sini ya!'' Pinta Firman pada karyawannya.


Cara kakaknya meminta tolongpun sangat sopan, ahh.. Kaya sekali Reni ini, bagaimana bisa aku mendapatkannya kalau ruko kakaknya saja seperti ini. Seperti bukan ruko beli, tapi bikin! Fix, dia kaya tujuh turunan!


''Silahkan duduk Mas! Hmm.. Siapa nama Anda tadi?''


''Saya Muhammad Edwin Raditya Pak, saya rekan Iptu Agastya Arsya Wijaya!''


''Ohh Agas, ya.. Ada perlu apa bang kemari?'' Firman dengan suara beratnya bertanya pada Edwin yang sangat aneh, ya! Memang aneh bukan, jika bukan Agastya namun malah rekannya yang kemari.

__ADS_1


Hening


''Maaf Pak, saya kemari bukan untuk tujuan pekerjaan dan bukan juga terkait saya teman Agastya. Namun..! Sa - saya.. Saya ingin...!'' Edwin menggantungkan kalimatnya.


Firman merasa aneh dengan pemuda ini lalu ia mencoba mengirim pesan pada temannya, apa benar Agastya memiliki teman yang bernama Edwin di tempat kerja atau teman mainnya.


''Kenapa bang? Katakan saja tak apa, silahkan!''


Mbak Lita meletakan dua gelas lemon tea dan biskuit di meja depan Edwin dan Firman. Mereka masih berdiam diri saling tunggu karena tidak tahu apa yang akan dikatakan tamunya.


''****!'' Gumam Edwin.


''Ja - jangan Pak! Tunggu sebentar, hhhfft.... Jadi begini Pak, maksud kedatangan saya adalah. Hmmm... ini perihal adik anda Pak Firman Handoko!''


Firman menaikan kedua bahunya tanda tak mengerti ucapan Edwin, ya memang ucapan Edwin ambigu. Ada apa dengan Reni, karena setahu dia adiknya baik - baik saja selama ini.


''Why? Ceritakan Bang, tak perlu ragu! Jangan memandang saya buruklah. Saya tidak sekeren anda juga kok ! Hahaha.'' Tawa Firman sedikit mencairkan suasana saat ini.


''Jadi saya menyukai adik Bapak, saya berniat mengkhitbahnya!''

__ADS_1


Deg...


Jedyaaarr..... Firman melotot sempurna saat ini.


''Apa yang kau lihat dari adiku bang? Dia hanyalah gadis kecil yang manjanya setengah mati!''


'' Hmm.. Aku tak memandang apapun, aku tertarik dengan Reni Handoko sejak pertama melihatnya di kedai es teller lengganannya! Dia selalu tampil anggun, dan saya suka itu. Terlebih dia suka menolong orang lain tanpa pandang bulu. Itu yang membuat hati saya tertarik mengajukan khitbah pada adik Anda!''


''Adik kecilku sudah dewasa rupannya, ahh tak terasa kalau dia yang dulu ingusan sudah ditaksir orang lain. Rasanya aku tidak rela melepasnya jika dia sudah menikah!''


Firman menatap Edwin secara menelisik, ia tajamkan rupa tampan Edwin dan posturnya.


''Bagaimana Pak, apakah tadi tujuan saya diterima?'' Edwin masih dalam mode gugup!


''Bang.. Perlu diketahui bahwa adikku itu tidak bisa jauh dari kata makan, fashion dan make up, dunianya hanya itu - itu saja! Makannya dia memilih menjadi model kuliner, endorse dan catwalk! Maaf jika nanti kalau kau tahu dia hanya bisa seperti itu. Namun perlu diketahui, bahwa dia memang suka dunia coba - coba. Hmm... Maksud saya jika dia menjadi istri saya akan menjamin bahwa dia tidak bisa masak! Tapi, anak itu akan mencoba menjadi istri yang baik! Aku tahu sekali.''


''Saya juga banyak kurangnya Pak, saya akan memperbaiki diri juga untuk Dik Reni. Saya akan mencoba menjadi imam yang baik untuknya! Lagiankan rumah tangga bisa perlahan - lahan dibina dengan saling pengenalan dulu.'' Ucapan dan tatapan mata Edwin membuat Firman berubah pikiran.


''Baiklah, silahkan coba saja kau dekati dia apa dia mau atau tidak. Untuk niat baikmu aku terima khitbahmu! Aku bisa pastikan tak ada yang melamarnya sebelum dia memberi jawaban padamu bang, entah di terima atau tidak! Aku tak berjanji! Karena adiku adalah bahagiaku satu - satunya!''

__ADS_1


__ADS_2