
Bidan desa yang bernama Wiwid Nurhaeni tampak senym senyum melihat kedua sejoli itu bingung dengan yang dialami.
''Eh.. Kirain kamu Gas yang mau periksa, tak kira kamu yang bermasalah, hehehe! Ohh iya Mas Agas, kamu ingin anak yang tunggal, dobel apa tripel nih kira - kira?'' Bidan itu bertanya hal tabu yang biasa di bicarakann para pasangan usia subur.
''Hah? Emang bisa bu dobel- dobel gitu?'' Emang apanya yang dobel dan tripel?''
Aruni melotot lalu bergeleng kepala.
''Mana mungkin aku hamil? Aruni membulatkan mata sempurna.
''Heh! Kita dah nikah dek, bisa - bisanya kamu lupa apa!'' Agastya merengut kesal
Bu bidan menahan tawanya, dia benar takjub dengan keduanya. Pasangan idola namun kelakuannya sangat embuh.
''Ohh iya, maaf mas aku lupa! Habis aku biasa nahan sakit sendirian sih?'' Aruni lalu dibawa ke pelukan Agastya agar tidak menangis.
__ADS_1
Lagi - lagi bu bidan hanya bisa geleng kepala melihat keduanya. Lidahnya kelu menahan malu melihat Agastya memeluk istrinya.
''Ehemm.... ehemmm! Kalau gajadi diperiksa mending pulang saja minum bodrex! Kalau mau diperiksa silahkan berbaring, sayang mau tensi dulu darahmu!'' Bu bidan lalu mengambil stetoskop dan alat pengukur hb darah.
''Hmm.. tensinya rendah ini mas! 90/80, ya tiap orang beda - beda mas, ada yang tensi segitu masih kuat berjalan tanpa merasa pusing. Ada juga tensi segitu langsung ambruk, bahkan sampai pingsan. Kalau dari tanda - tanda ini sepertinya mbak Runi masuk angin deh!'' Bidan desa sengaja membuat Agastya cemas dulu.
''Apa?'' Agastya mangap seketika.
''Ssst... sabar dulu kalau orang tua mau ngomong dikasih ruang dulu!'' Bu bidan mengambil lingkaran dari kertas itu. Entah gunanya untuk apa.
''Last haid kapan? Apa masih ingat tanggal berapa haid terakhirnya?''Bu bidan menurunkan sedikit kacamatanya ala - ala dokter sepesialis.
''Haid terakhir mbak, bulan kemarin haid enggak, atau timbul sedikit bercak merah tapi enggak se deras biasanya mungkin?''
''Hmm kalau itu sekitar bulan lalu BuHen, ya awalnya seperti itu tandanya tapi cuma habis dua pembalut trus esoknya lagi udah enggak ada darah BuHen!'' Aruni menggigit bibir bawahnya tanda ia sedang khawatir berlebihan.
__ADS_1
''Fix, kalau mau tahu hasilnya kamu pipis dulu disini. Nanti ini di celupin, tunggu beberapa saat nanti akan muncul tanda garis merah atau tidak ada satupun. Bisa juga merah di punggung tanda masuk angin! Peraturannya dibaca sendiri! Nah mas Agas, temani istrimu pipis, jangan dipipisi terus!" sindir bu bidan membuat keduanya tersipu malu.
Agastya dan Aruni keluar ruangan bergegas menuju kamar mandi.
"Hhhzt.. entah kenapa anak itu, berbau kamar mandi dan pipis aja bisa tersipu. Kalau istrinya sakit malah gak peka. Oalah bocah!! Bocah!" Bu Bidan Heni menepuk jidatnya sendiri, ia kembali asyik dengan handponenya.
...****************...
'' Dek, sudah belum? mas gasabar nih!'' Agastya menunggu di depan pintu kamar mandi, beruntung sedang sepi pengunjung. Kalau tidak gengsi yang selama ini dibangun akan lenyap seketika.
''Diem dulu mas, gasabar banget sih! Kalau gasabar mas aja yang pipis!'' Aruni semakin geram, sudah habis air mineral dua botol yang ada manis - manisnya malah gak bisa pipis.
''Eh.. Kamu mau dipipisin mas? Jangan di sini dong dek, besok kan kita bulan madu. Bisalah ngadon tiap waktu! Apalagi nanti suasananya romantis, pasti jadi deh kecebong mas di dalam sawahmu!'' Agastya senyum - senyum sendiri membayangkan bulan madunya.
Ceklek...
__ADS_1
Aruni merengut, ia memperlihatkan hasil dari tespek yang dia pipisi tadi.
''Hhhhft! Tak apa sayang, jangan sedih. Nanti kita ngadon lagi ya. Banyak - banyak minum vitamin aja sayang. Dahh! Jangan sedih nanti para tetua mengira aku menyakiti loh!''