
Aku meringis, duhh panasnya punggungku! Arghhh... Siapa sih sembarangan nabok - nabok! Ku balikkan posisi punggungku, dan ternyata. Alamakkk! Ini emak gue sendiri gaess!
''Buk, napa si nabok anaknya kaya ketahuan maling aja! Main pukul segala! Malu atuh sama mantu!'' Ujar Agastya penuh kekesalan, karena sang ibu hanya berlalu tanpa komentar apapun.
Aruni hanya menunduk karena takut menatap ibu mertuanya, ia sangat malu takut di ledek.
Rupanya Bu Hakim hanya akan mengambil ponselnya yang tertinggal di nakas dekat tas.
" Beruntung ibu! Coba kalau ke gep sama komandanmu! Malu atuh sama burung yang udah kaya ubi kayu! Hihii.."
...****************...
"Sayang, kamu kenapa diam aja? Makan yuk mas yang suapin! Kok diem aja sihh? Ini masih ada bubur kok, ada sayur bening bayam sama wortel dek, mau di suapin?''
''Heran aku sama kamu mas, kamu aja yang muntah - muntah ga nafsu sama sekali liat bubur, masa aku yang pusing di suruh makan bubur juga sih! Aneh!''
Agastya tercengang sempurna mendengar istrinya berkata seperti itu.
__ADS_1
''Kamu pusing? Jangan - jangan kamu hamil lagi dek! Astaga aku tambah anak! Alhamdulillah! Muntah - muntah gak dek ? Dek apa yang kamu mau? Kamu ngidam apa? Pengen apa!''
''Lahir aja belum ngidam lagi season dua. Dari negara mana sih mas kamu lahirnya! Aku mau istirahat aja, karena kamu udah sembuh aku yang tidur di bed ya!'' Rengek istri kecil Agastya itu.
Hoekkk... Hoekkk...
Belum sempat menaiki ranjang, Aruni kembali berbalik arah. Agastya yang tampak panik segera mengurut tengkuk leher sang istri, tak tega melihat istrinya mabok seperti itu. Kini Agastya malah menangis.
Ceklek..
''Lhoh!'' Suara kompak kedua ibu menggema di kamar pasien, Bu Hakim dan besan kebingungan melihat Aruni yang sedang muntah - muntah karena suaranya sangat kencang. Ditambah lagi putranya yang sedang menangis sesenggukan.
''Ibu panggilkan dokter ya, ibu takut kamu kenapa - napa sayang! Lebih baik diperiksa biar jelas ada apa, kelelahan atau terlalu stress!''
Aruni hanya menggeleng kepala tanda tak mau merepotkan semua orang. Ia merasa lemas sekali karena seluruh isi dalam perutnya keluar kembali.
Hoekk... Hoekkk! Aruni kembali berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Hoekkk... Hoekkk... Hoekkk! Agastya ikut muntah - muntah di wastafel.
''Piye iki jeng? Anake dewe keno opo!'' Bu Hakim tampak panik karena menantu dan putranya malah mual bersamaan.
''Jeng panggil dokter saja ya! Saya urus Aruni dan Agastya dulu!''
...****************...
''Bagaimana Pak Dokter Miftah, apa ada sesuatu dengan anak - anak saya? Apa benar sebenarnya Agastya itu terkena santet? Bukan keracunan? Bukan pula sindrom - sindrom apa itu? Ahh apa sih? Susah disebutin!'' Bu Hakim tampak tak tenang.
Agastya dan Aruni saling melempar pandangan, mereka kaget karena ibunya kembali termakan omongan Erik dan Edwin soal santet - santet. Awas aja kau ya! Besok kalau aku sembuh, habis kalian!
''Tidak apa - apa calon oma - oma yang cantik. Ini kejadian wajar karena memang sedang peralihan hormon. Seperti dulu waktu ibu - ibu hamil muda, kalau yang hamil tubuhnya sedang merespon adanya ikatan batin. Namun lain hal dengan Pak Agastya! kehamilan simpatik memang membuatnya tak bisa jauh dari kebiasaan sang istri. Bahkan bisa jadi malah dominan ke Pak Agastya dari pada Bu Aruni! Saya sudah resepkan obat ya bu! Nanti bisa diminum sesuai petunjuk. Sabar Pak, nanti juga hilang kok!'' Ujar sang dokter.
''Baik dok terima kasih!'' Timpal Agastya.
''Terima kasih banyak dok, sudah membantu kami!'' Aruni menangkupkan tangannya di dada.
__ADS_1
''Sabar ya pak, bu! Nanti juga hilang! Sering - sering ajak janin berbicara pak, biar merasa tenang dan insyallah tak akan mual lagi!''