Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
117 Ucapan Firman


__ADS_3

Tatapan bingung pasti sudah terbesit dalam pikiran Bu Hakim, beliau semakin penasaran karena melirik tas laptop sang menantu aku bawakan dengan entengnya. Ahh, buang jauh - jauh pikiran anda bu! Aku hanya perlu ngobrol berdua dengan anakmu. Itu saja!


''Ayo masuk!'' Suara Bu Hakim menginterupsi menantu dan sahabat dari putranya agar masuk ke dalam rumah.


''Silahkan duduk nak Firman, gimana nih ceritanya kok bisa pulang bersama Aruni? Hem?'' Bu Hakim sudah menetralkan pikiran dan sedikit situasi agar mencair.


''Assalamuallaikum!!!!'' Suara ngebass seorang yang mereka kenal muncul dari sudut ruangan.


Aruni, Firman dan Bu Hakim sepakat menoleh bersamaan. Bisa dilihat Agastya langsung berlari menuju istrinya.


''Ya ampun dek, mas cari kemana - mana. Ternyata kamu sudah di rumah to? Mas tuh muter - muter nyarinya! Sampai pinjam kunci ke Pak Satpam takut kamu pingsan atau ketiduran di dalam! Wait!!!! Kok ada lo?'' Agastya melirik Firman dengan tatapan penuh selidik.


'Tuhkan! Aku pula yang kena!'


''Bang Firman yang antar aku bang! Pegel banget naik motor trail!'' Jelas Aruni sembari mencairkan suasana.


Bu Hakim yang sudah menata semua masakan di meja makan memberi kode bahwa makanan sudah siap, menu hari ini adalah tumis jamur pedas, cumi - cumi krispy, ayam goreng, dan beberapa lalapan. Kalau di tanya sayur jangan heran! Selalu ada paketan pecel di meja!


Tang


Ting


Tang


Ting


Suara garpu dan sendok beradu di meja makan, Firman makan dengan lahapnya. Tak lupa lauk berupa gorengan yang ia beli di warung Mak Onah sebagai pelengkap sambal di sini.


''Heh!'' Agastya menendang ujung kaki Firman agar paham kodenya.


''Hmmm! Ganggu aja!'' Firman kembali melahap mentimun, dan segera minum!


Glekk...


Glekkk.


Glekk...


Glekkk... Ahhh!


''Tak tahu diri!'' Sindir Agastya pada Firman yang meringis.


''Aruni diam saja! Biar abang yang jelaskan! Kasian suamimu ini nanti jadi mati penasaran, arwahnya nanti gentayangan!''


Agastya seketika melotot tajam mendengar kejahilan Firman yang super pedas bagai bakul cabe itu.


''Tadi aku beli gorengan di warung Mak Onah depan Balai Desa. You know kan? Terus.....


'' Firman malah mencolekkan sambal ke gorengannya. Lalu Hap!! Kraukkk.... Krauuk!


'Cerita kok setengah - setengah! Bang Firman ini apa tak melihat kalau Mas Agastya sudah gerah mode on!'


'Anak ini masih saja seperti dulu! Saling jail!' Batin Bu Hakim.


''Sudah - sudah lanjut makan dong! Cerita nanti, mubadzir makanannya kalau di anggurin begini! Ibu sudah mau selesai loh ini!''


Agastya dan Firman saling melirik, Agastya tak mengijinkan Firman yang sedari tadi menaik turunkan kedua alisnya agar mendapat iba.


Big No! Enak aja! Bawa kabur istriku masih bisa makan enak, numpang lagi! No way! Jelasin dulu dong! Gak liat apa kalau aku kepalang tanggung denger ucapan penjelasan yang pra mulai ini!


''Ibu, mas, bang! Aruni bersih - bersih badan dulu ya! Mau sholat asar juga. Permisi!''


Edwin menjelaskan di meja makan, kejadian sore tadi membuat amarah di dada Agastya bergejolak. Di satu sisi emosi karena merasa tak bisa melindungi istri, namun di satu sisi ada kebahagiaan menyelimuti dirinya karena sang istri tak mau ikut menunggangi mobil milik Dokter Bagus.


''Ganti dokter aja Gas!'' Bu Hakim memberi saran pada Agastya setelah Firman memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.

__ADS_1


''Nanti aku bicarakan pada Aruni bu! Apa dia ada trauma atau menganggap hal ini hanya sebuah tawaran saja. Kalau memang ia merasa khawatir ya aku saranin pulang pergi di jemput ajudanku. Lagian minggu depan rumah dinas sudah boleh aku tempati!''


''Uhhh kere! Punya rumah gede ditinggal malah pilih rumah dinas, maunya apa sih hidup mu?''


''Lambene Man... Firman! Aku cuma pake sekali - kali! Aku masih nunggu rumahku jadi! Mbok pikir aku diam saja di hina sama wirausaha kroco macam kamu? Ohh tentu tidak!''


Ketiganya tertawa keras, tak ada yang tersinggung sama sekali. Memang itulah yang jadi kebiasaan guyonan Agastya dan Firman setiap kali bertemu.


-


-


Ceklekkk....


''Sayang?''


Aku mengedarkan pandangan ke penjuru kamar yang sepi dan sedikit gelap. Samar - samar aku mendengar suara rintihan dan isak tangis.


Deg!


''Kenapa sayang? Kenapa menangis?''


Ku usap, ku coba tenangkan suasa hati istriku. Mungkin ia merasa bersalah tadi pulang diantar Firman. Namun aku lebih merasa bersalah lagi kalau terjadi apa - apa dengan istriku tanpa Firman.


''Sayang! Lihat mas!''


Aruni mengangkat wajahnya yang basah, terasa sekali hati Agastya ikut tercubit.


''Maafkan mas yang datangnya terlambat. Ponsel mas lowbat! Mas juga lupa tak bawa charger di mobil. Jadi mas tak bisa hubungi kamu!''


Hiksss...


Hikss...


Greppp!


Aruni semakin terisak, Agastya membawa istrinya dalam pelukan dada bidangnya. Di biarkan sang istri mencurahkan segala sesal dan kesedihannya saat ini.


Cup!


Kecupan hangat penuh cinta pun Agastya daratkan pada kening putih nan bersih milik sang istri.


''Cupp... Cupp... Cupp...! Jangan takut sayang, jangan sedih lagi! Kasian sama Agas Junior's! Baby twins kita bisa sedih kalau Mama nya sedih! Udah ya, gak enak sama ibu - ibu, nanti di kira mas ngapain kamu lagi.''


Aruni memukul dada suaminya!


Agastya berusaha tersenyum dan meringis, padahal hatinya bergerimis melihat istrinya menyesal seperti itu.


''Maaf sayang!''


''I - Iya mas! Aku juga minta maaf!''


Keduanya berpelukan bersama, Agastya dengan telaten mengusap punggung istrinya, di uraikan perlahan anak rambut istrinya yang menutupi separuh wajahnya.


''Ehh .. Tidur!''


Cup!


'Mas sayang sekali sama kamu dek! Teruslah seperti ini sampai pagi sayang, rasanya tak sanggup jika harus menyelesaikan tugas dan meninggalkan mu seperti ini! Mas tak tenang, sehari saja kamu bisa di dekati Bagus seperti itu! Apalagi nanti ada waktu luang!'


Tap..


Tap..


Tap..

__ADS_1


''Ehh? Kamu belum tidur nak?'' Bu Hakim keluar kamar masih memakai mukena.


''Ibu mau kemana?''


''Ambil ini?'' Jawab Bu Hakim sembari mengangkat gelas berisi air putih.


''Hhhhfttt!!!'' Agastya mendengus kesal!


Bimbang dan rasa tak rela beradu menjadi satu, antara tanggung jawab negara dan tanggung jawab menjadi seorang suami.


''Kenapa? Hem?'' Bu Hakim menelisik putranya seperti menyembunyikan sesuatu yang membebani pikiran.


''Aku ada tugas berat buk, tapi aku gak bisa bercerita sama ibu. Aku belum sampai hati menyampaikan ke Aruni buk, aku bingung! Kejadian tadi saja aku rasa itu membuat istriku trauma dan merasa bersalah. Meskipun aku yang lebih salah karena terlambat menjemput Aruni buk!''


''Perlahan pasti bisa, lagian Aruni juga sudah membesar perutnya. Ia tak mungkin egois sendiri kalau suaminya memang bertaruh untuk negara. Nanti ibu juga pelan - pelan memberi pengertian padanya, kamu itu harusnya maklum. Mood orang hamil kan tak sama di setiap orang, bisa jadi sekarang bahagia nanti langsung sedih. Sepandai - pandainya kita memposisikan nya aja Gas!''


Bu Hakim berjalan meninggalkan Agastya yang masih terduduk di meja makan.


''Gas?''


Agastya menoleh.


''Bikin istrimu bahagia, perlakukan seperti ratu! Biarkan dia bersantai dan memanjakan diri! Nanti akan ibu temani!''


'Bulshit!' Agastya mengumpat dalam hati.


''Si ibu! Bilang aja mau nyalon dan spa gretong! Pake acara bawa - bawa istriku segala!''


Tut... tut...


''Ya! Selamat malam Ndan!''


''Besok kamu antar dan kawal istri dan ibu saya kemana pun mereka pergi! Ini perintah!''


''Dapet bonus dong? Assiiikkkk....!''


''Gampang!''


''Siap laksanakan Ndan!''


Tut..


-


-


-


Aruni terbangun sambil mengerjapkan mata, di raba nya sosok yang biasa terbaring di sebelahnya. Kenapa kosong?


''Kemana sih Mas Agastya ini?''


Ceklek!


''Mas!''


''Sa - sayang? Kamu sudah bangun?'' Agastya khawatir istrinya menunggu terlalu lama.


''Mas marah ya sama aku? Kok ninggalin aku sendiri? Mas mau kerja lagi? Mas gak takut aku di culik? Mas mau aku jadi nangis lagi?''


Aruni memberondong penuh kekesalan pada sang suami.


Deg!


'Matih Aku!'

__ADS_1


__ADS_2