
Firman mendengus kesal karena adiknya yang somplak bin sengklek bisa jatuh cinta dengan lelaki pendiam namun rada gesrek juga. Duhhh.. Apa jadinya mereka ini, bikin pusing aja kalau begini terus - terusan. Harus cepat - cepat di nikahkan ini mah!
''Duhh.. Duh, anak gadis ibu! Uluhh- uluh mana bagian tubuhmu yang sakit, sebelah mananya nduk? Sudah boleh dipijat belum? Kalau mau biar ibu yang bantu pijatkan, biar lemas nduk. Biar cepat pulih.'' Tawar perempuan paruh baya itu sembari tersenyum.
Reni hanya menggeleng saja, '' Ibu baru saja tiba, istirahatlah. Aku tak akan sembuh kalau ibu memperlakukan aku seperti itu. Yang ada ibu semakin lelah.''
''Eh? Mana ada kita seperti itu ya Mbak Ratmi? Kita ini mamak - mamak milenial. Spesial strong anti hempasan usia ini.'' Timpal Bu Hakim mencoba mencairkan suasana, bukan canggung tapi agar Reni kembali ceria dan PD.
''Iss... Sudah pada tua tapi mencoba melawan kenyataan.'' Reni menjawab tak mau kalah dari kedua ibu - ibu itu.
''Tua itu pasti, tapi kami bukan tua - tua menyusahkan. Kita tetep pemain ya Mbak Ratmi?''
''Yoi!'' Jawaban Bu Ratmini sukses membuat semua orang di ruangan itu bergelak tawa bersama.
''Sudahlah dek, tak usah ngeyel.'' Firman memprotes Reni yang cerewet itu.
''Hati - hati ya Win, kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah.'' Agastya menepuk bahu sahabatnya, tak ada kecanggungan lagi diantara Edwin dan Reni. Suitt.. suit.. lampu hijau menanti.
''Idihhh.. Ngapain juga aku ngabarin kamu, gunanya apa coba. Di WA aja cuma read doang belagaaaa banget.'' Sewot Edwin pada Agastya.
__ADS_1
Hiksss... Hikss...
Hiksss... Hiksss...
''Sudahlah Ren, biarin aja. Kan kerja to calon suamimu bukan mau nongkrong, mas kawin mu batu bata mau atau batako mau? Hidangannya sayur kecipir, sama sayur genjer mau?'' Tanya Aruni yang dijawab gelengan kepala Reni.
''Tak mau lah! Malu aku!''
''Nduk, jodoh tak akan kemana. Nak Edwin itu lelaki baik lohh.. Tak usah meragukan begitu, beri dia ruang buat pekerjaannya nanti juga dia bisa memposisikan kamu sebagai prioritasnya kok. Beri dia kepercayaan penuh agar nyaman bekerja karena pikiran tak kemana - mana.'' Bu Ratmini mengusap puncak kepala anak gadisnya itu, Reni masih bergelayut manja pada sang ibu.
Edwin yang dipuji pun bagaikan gayung bersambut, banyak kupu - kupu beterbangan dalam perutnya. Meringis sana sini penuh pesona.
''Cihh..'' Edwin mendecih penuh gelak tawa, mana bisa ia tahan dengan singa model begitu, apa - apa tak mau tersaingi. Untung sobat kalau gak aku babat kau!
''Jangan menyepelekan aku Win, gini - gini Aruni bisa hamil 3 burung loh! Keren kan?'' Ucapnya penuh bangga sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Glekkkk
Aruni melotot mendengar kesombongan suaminya itu. Ia tak hanis pikir hal seperti itu dikupas juga di sini.
__ADS_1
''Sumimu Run! Mulutnya rem blong!'' Sewot Reni.
'' Duhh.. ibu jadi malu sendiri punya anak kaya Agas, radio bodol memang!'' Bu Hakim geleng kepala sembari memelototi anaknya, dan yang lain hanya tertawa mendegar ucapan tadi.
...****************...
''Hallo!''
''Hallo bos, Tuan Agastya sepertinya sedang keluar kota. Tepatnya Surabaya, entah untuk keperluan apa nona.''
''Ohh ya? Apa? Surabaya!! Mau apa dia!''
''Informan kami terus memantau nona tenang saja.''
''Bagus!! Ikuti terus perkembangannya, kabari aku kapan lengah Agastya aku akan merebutnya kembali.''
Wanita berbibir merah darah itu mengepalkan tangannya, ia tersenyum smirk.
''Akan aku balas kau lelaki sialan!!''
__ADS_1