
Hishh.. Sebal sekali memiliki suami yang IQ otaknya hanya usil saja sepanjang hari, tanpa berfikir aku nyaman atau tidak yang penting mah selalu bikin kesel.
''Huffhhh... Istirahat dulu ahh! Mmm.. pesan apa yaa? Kebab enak! Burger enak! popeye enak, olive enak, hmm... Ah iya wedang ronde enak!'' Aruni bebicara sendiri di sambil mengutak atik gawainya mencari promo makanan delivery order kekinian ala - ala Reni.
''Nah ini dia! Murah meriah! Emuuuuuachhh...!'' Aruni terus menciumi handphonenya kala ia bahagia, sebab nasi padang kesukaannya buka cabang baru.
''Idihh.. Girangnya! Dah sana ah dek mandi dulu. Ayah gak tahan liat kamu cium - cium handphone, suami dianggurin malah lebih sayang ke hape!''
''Jangan protes yang.. Ini semua permintaan buah hati kita!'' Aruni berbicara dengan nada penuh kelembutan dan penekanan yang secara tidak langsung menginterupsi bahwa sang suami tidak boleh berkomentar.
''Hai, Win! Lagi apa Firman?''
''Idihh! Kangen abang kenapa telfon ke aku? Situ waras?'' Ledek Edwin kala Agastya video call dengannya malah bukan menanyakan kabarnya.
''Orang aku liat kamu aja sehat 100 persen! NgaFffainnn aku tanyain, ha? Makanya aku tanya kabar Firman lalu Reni. Gitu aja sewot! Gak malu apa sama ubi kayu!''
''Ishhh... Dasar asem! Hmmm.. Gas, untuk buser kemaren reskrim gimana? Ada perkembangan kasusnya belum?''
''Jangan ngomongin di sini, ada Aruni. Besok kalau kau pulang aku ceritakan semua!''
...****************...
'' Assalamuallaikum.. Assalamuallaikum!'' Aruni melipat mukenanya setelah mencium tangan suaminya.
Napa sih, makin hari makin aneh aja? Selalu saja begini. Kan aku jadi pengen! Mana nanggung lagi jam nya!
''Napa sih mas?'' Aruni mengekor sesuai tatapan suaminya yang terarah pada jam di dinding setelah sholat subuh ini.
__ADS_1
Greppp...
Agastya memeluk Aruni semakin kuat. Dihujani kecupan - kecupan nan lembut di keningnya. Ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Aruni.
''Senang banget? Dapet bonus ya?''
''Mas ini Polisi dek! Bukan karyawan, jadi tak ada bonus!''
Aruni hanya ber oh ria saja mendengarnya.
Duhh.. Kenapa aku baru kepikiran ya, harusnya aku itu buka usaha kecil - kecilan buat Aruni. Kalau aku minta dia resign tapi tak ada kerjaan pasti suntuk sekali di rumah.
''Mas, kenapa bengong?''
Cup!
Tiada jawaban yang terlontar dari mulut manis Agastya, namun kode itu memberitahu kita para pembaca sedang apa mereka ini.
Hosshhh.....
Heghhh.. Heghhhh...
''Sayang, mas mau tanya boleh?''
''Silahkan suamiku! Mau tanya apapun akan aku jawab selagi aku tahu dan aku bisa menjawabnya sesuai ilmu yang ku punya!''
''Baiklah!''
__ADS_1
''Mas ingin buka usaha dek, apa kamu setuju?''
Ucapan Agastya membuat sang istri langsung menoleh. Bukan masalah boleh tidaknya, tapi modal dan syarat lainnya.
''Kenapa diam sayang? Kamu tak suka mas mempunyai usaha sampingan, kan juga buat baby kita. Insyallah mas ada modal kok. Kamu yang tenang ya!''
''Hmm.. Iya aku tau, mas bantu aku siapin makan dulu dong. Nanti biar ibu terkejut karena kamu membantu aku!'' Aruni tersenyum - senyum gembira membuat sang suami tak tega menolak.
''Tapi kamu setuju kan?''
''Eitsss... Pakai ini dulu mas! Jangan buru - buru mas!''
Agastya tercengang bukan main, ia seperti boneka manekin milik istrinya saja. Aihhh... Nanti bagaimana respon ibu kala melihatku dengan celemek dan sapu tangan warna pink ini.
''Siiip.. Cakep banget!''
Cakep apanya, mana bisa aku di giniin? Nanti kalau ibu liat gimana? Nanti kalau temanku tau gimana? Aarghh... Pusingg deh! Terserah kamu aja deh dek! Untung aja istriku cantik!
Ceklek
''Assalamuallaikum, ibu pulang nak. Pada di mana ini?''
Tap..
Tap..
Tap..
__ADS_1
Tap..
''A - apa? Agastya ka - kamu kenapa?'' Bu Hakim terpaku menatap putranya tampil serba pink - pink itu. Sedangkan menantunya tampak bahagia karena sudah beres semua sesuai rencana.