Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
111 Nasi Balap


__ADS_3

Aruni berjalan cepat menuju dapurnya, ia tak menyangka kalau lupa mengecilkan kompor. Bisa dibayangin dong seperti apa rupannya kentang di maksimalkan.


''Fix, aku harus kupas lagi. Ini bukan lagi gosong. Kentang kena azab!! Kalau Reni liat dah jadi bulan - bulanan dia nih. Duhhh parahh!!! Mana mas Agastya sudah mau pulang lagi.''


Bu Hakim melihat menantunya sedang menggerutu kesal di dapur. Beliau tersenyum gemas karena Aruni sudah bisa melengkapi Agastya yang super kulkas.


''Nduk, gosong ya? Mau ibu bantu?'' Tawar Bu Hakim.


''Tidak bu, Aruni sudah mau selesai. Nih tinggal goreng lagi kok. Cuma bumbui dikit buk.''


Tanpa kata, Bu Hakim merebut pisau kupas khusus untuk wortel, kentang, dan buah teman - temannya itu.


''Biar ibu aja, kamu pegang yang lain. Kalau capek istirahat dulu. Cuma goreng kentang apa sih yang ibu tak bisa?'' Bu Hakim meringis pada menantunya yang polos - polos random itu.


Tap..


Tapp..


Tappp...


Tapp...


Ceklekk...


''Assalamuallaikum!!! Agastya pulang!!'' Teriakan memekik dari ujung ruangan ke segala penjuru rumah.


'Hmmm... Bau apa ini? Sepertinya aku tak asing dengan aroma ini. Seperti....... Nasi balap?' Batin Agastya sembari berjalan menuju dapur.


''Ehh ibu, sayang kamu bikin apa? Wanginya sampai depan loh?'' Tanya Agastya pada Aruni yang ternyata malah malu - malu karena kegosongan tadi.


Bu Hakim hanya tersenyum simpul melihat anak dan menantunya itu, ''Rukun dan akur terus ya!''


Tang..


Tingg..


Tangg..


Ting..


Suara sendok dan garpu benar - benar menghiasi makan sore mereka bertiga.


''Sayang, kamu bikin banyak buat ibu Ratmini juga?'' Tanya Agastya.


''Ehmm.. Kalau boleh sih mas, aku mau antar ke ibu. Pasti ibu seneng.''


Agastya menepuk jidatnya sambil menahan tawa.


''Mana ada mas seperti itu, jelas boleh dong! Pakai rantang jangan pakai box. Sama budemu di belakang itu juga dikasi, segini banyak mau buat apa?''

__ADS_1


Aruni hanya menggeleng, '' Bukan mas tak suka, tapi takut mubadzir kalau tak dimakan sekarang. Kalau besok basi gimana coba?''


''Gimana ya? Ibu juga tak akan makan segini banyak mas! Hmmm?'' Aruni tampak berfikir mengenai ucapan sang suami.


''Ahaaaaa!!!!''


''Apa? Atta Halilintar?'' Agastya menyahuti ide istrinya.


''Bukan itu! Tapi mas panggil aja teman - teman mas, banyak kan junior mas yang di barak pasti belum makan malam.''


Tanpa aba - aba Agastya meraih handphonya dari nakas sebelah Tv.


Boss : (Perhatian!! Bagi kalian yang belum makan malam harap merapat di rumah saya. Istri saya masak banyak!)


Ting...


Anjar : (Siap Ndan!)


Riko : (Aroma - aroma rejeki baru nih ndan!)


Edwin :( Sakit apa kau kasih makan kita semua?)


Boss : ( Untuk yang mau - mau aja! NO REWEL!!!!!)


Indra : (jangan gitu, udah mode senggol bacok tuh!)


Boss : (Belum mo mati!)


Tinggg...


(Share lokasi)


Boss : ( Kalau lama saya tutup pintunya!!)


Aruni menatap suaminya yang merengut, heran sekali kulkas ini kenapa kerap kali berubah - ubah mode.


Hueekkkk!!!


Huekkkkk!!!!


Hoekkkk!!


Hoekkkk!!


Aruni masih setia memijat tengkuk suaminya agar cepat keluar semua dan di pijatnya leher kepala Agastya agar tak merasa mual lagi.


''Sayang... Mas pengen!!''


'' Apa?''

__ADS_1


''Sesuatu! Yuuukk sebelum anak - anak kesini!''


Agastya segera menggendong Aruni ke ranjangnya, lali di kecupi seluruh tubuhnya tanpa ada yang tersisa. Suara - suara laknat mulai terdengar dari kamar Agastya dan Aruni saat ini.


Tok!


Tok!


Tok!


''****! Ganggu aja! Gatau lagi tanggung apa!'' Gerutu Agastya saat ini.


''Gas!! Stop dulu napa! Ngamar terus! Turun!! Bocah - bocah udah dateng tuh!'' Suara teriakan Bu Hakim memekik sampai ke penjuru lantai bawah.


Ceklekk..


''Ibu ini!! Ganggu aja! Suruh langsung makan napa! Nanti juga aku nyusul kok!''


''Eh??''


Aruni melotot menajam pada suaminya yang sewot pada ibunya, seketika Agastya meleyot melihat tatapan Aruni yang membunuh itu.


''Mas pipis dulu ya sayanggg.. Muwahhh!''


Tap..


Tapp..


Tap..


''Wihhh, lagi apa ndan? Tanggung ya? Terusin aja tak apa. Kami mau makan kok!'' Sahut Erik dan Rafa yang membawa piring sampai gemetaran di tatap Agastya yang seperti singa kelaparan itu.


''Panas banget ya kamar mu sampai keringatmu banyak banget gitu?'' Sahut Indra menimpali.


''Kamar komandan dekat kebon? Kok lehernya sampai merah - merah begitu?'' Riko menyentuh lehernya sendiri guna memperingati Agastya.


''Hahahahahahha '' Semua kompak menertawakan Agastya yang tengah kikuk seperti ini, bagaimana tidak ia tak sanggup menjawab semua pertanyaan adik dan kawannya karena dalam mode ketahuan.


''Gerah aku tuh!'' Edwin menimpali sambil mengunyah nasi balap.


''Ehh?'' Agastya garuk - garuk kepala karena bingung.


Ia berlari menuju kamar mandi saking malunya, ''Duhh, Aruni ini makin hari makin liar aja. Seneng deh punya istri yang kaya macan gitu di ranjang. Tapi ya gak gini juga!''


Agastya tersenyum - senyum sendiri saat mengingat kejadian panas tadi, meskipun belum tuntas tapi membekas! Cielahhh!!!


''Napa loo?'' Indra mempergoki Agastya tersenyum - senyum sendiri di depan cermin kamar mandi.


''A - aku? E - eh?''

__ADS_1


__ADS_2