
PoV Aruni
Yes... Alhamdulillah Ya Allah Ya Rabbi, terima kasih telah mempercayakan dzuriat kecil tumbuh dalam perutku ini, semoga saja aku selalu bahagia dan kelimpahan sesuatu yang positif.
''Duh... Kenapa aku ini, bangun tidur bukannya senang malah pusing. Ahh iya aku belum minum obat. Ternyata seperti ini yaa rasanya hamil muda. Hmmm bahagianya bisa di temani suami sepanjang hari. Akhirnya aku banyak kesempatan busa bermanja - manja dengan suamiku, yaa.. meskipun kadang cuek, jutek dan iseng tapi aku beruntung memiliki suami seperti dia.''
Hoekk... hooekkk... Perutku rasanya tak karuan, aku pingin banget makan nasi kucing. Kuniatkan berjalan ke depan mencari suamiku karena ingin mencari angkringan di sekitar sini mumpung belum terlalu larut malam. Aku kaget saat namaku disebut - sebut oleh suamiku, namun bisa aku tebak siapa yang sedang ia ajak berbincang karena sempat nama sahabatku disebut suamiku pasti Bang Edwin.. Ishhh, memang lelaki ini ada - ada saja, ahh aku kerjain saja! Biarlah dia kaget sendiri. Siapa suruh suka iseng pada istrinya.
Aruni masih menatap suamiku sambil memincingkan mata, tatapanku kian menajam melihat suamiku, aku melihat gelagat anehnya dia tampak grogi karena kaget aku pergoki saat ini. Hihihi...
''Sa-sayang... Kok bangun sih? Sudah gak ngantuk ya, laper? Ohh.. Pasti kamu pengen martabak di gang ujung kan. Oke mas belikan rasa red velvet kesukaanmu. Dua kardus wes!'' Agastya berbicara sendiri karena istrinya masih berdiam tak bicara apapun.
Ku pikirkan sejenak karena martabak terasa membosankan. Ahhhaa! Aku tau nutrisi untuk anakku, apalagi suamiku tergolong orang yang selalu menomorsatukan keluarga terutama istri. Segera kusampaikan keinginanku pada suamiku.
''Apa??'' Ucapnya sambil mendelik syok sekali.
Ku utarakan keinginanku makan makanan sederhana, yaitu sego kucing. Menurutku itu adalah makanan simpel tapi juga mengenyangkan karena penuh karbo.
''Hikss...huuu..huu.. Huuu...huu... Kamu tega!menu f!'' Aruni menangis tersedu - sedu dalam pelukan suaminya. Dipukulnya dada sang suami berkali - kali. Meskipun pukulan itu tak terasa sakit namun Agastya berlagak layaknya menahan kesakitan, demi totalitas perannya. Dan ternyata benar, suamiku cemas dan khawatir, awalnya aku biasa saja, namun aku jadi sedih sendiri karena dibentak suami. Akhirnya abang mau antar aku membelinya.
__ADS_1
...****************...
''Dasar bajingan tengik! Punya apa kamu bisa - bisanya ngrendahin aku! Ha! Dasar sudah tua botak beruban gatau malu!'' Reni mengumpat habis -habisan pada lelaki tua itu. Dia segera menyambar tasnya dan berlari keluar.
Brukk...! Reni tersungkur karena kakinya di tarik oleh tangan lelaki yang ngesot itu. Namun Reni tetap tak menyerah, ia berusaha keluar karena pintu sudah terbuka sedikit.
''Tolonggg...To- tolongg! Tolongg aku... Seseorang tolong aku! Siapapun yang di luar!'' Reni mengerang kesakitan karena kakinya masih di cengkeram lengan kekar bandot tua itu.
''Sudahlah, tak usah minta tolong! Pergilah bersamaku! Temani juga di ranjang dan mobilku kamu akan dapat enam ratus juta setiap bulannya! Bagaimana, menarik bukan?'' Lelaki tua itu masih terkekeh.
''Tolongg... Tolongg!'' Reni masih berusaha menggapai daun pintu yang hampir terbuka.
Tiba - tiba langkah seseorang terdengar masuk. Entah siapa itu tendangan kakinya pada daun pintu mengenai dahiku saat ini, alamak... Kejedot batukku!
Drap..drap... Drapp.. suara langkah kaki satu kompi lelaki berseragam jas negara itu masuk bersama.
''Woii... Berani sama perempuan! Sini lawan kami!'' Suara lelaki entah dari mana datangnya aku merasa pusing melihat semua bentuk kepalanya yang menyerupai cilok.
Mereka melucuti kemeja, celana, jas serta rompi yang dikenakan bandot itu hingga tersisa boxer kartun spons kuning saja.
__ADS_1
''Hahahhahahaha.... Lagak CEO boxer tetep kartun!'' Ternyata mereka menertawakan bandot itu, sukurin kamu.
''Hei.. kalian kenapa di sini? Ini kamar orang, gaboleh mengganggu privasi orang lain! Ayo kembali!'' Suara lelaki yang terkesan memonitoring para remaja lelaki di kamar itu berujung hening.
''Ta- tapi bang! Tadi kakak itu teriak minta tolong, dan ini orang yang mengganggunya. Sepertinya bukan suaminya bang! Coba abang periksa datanya atau tanyakan sendiri.'' ujar lelaki muda itu pada seseorang di daun pintu.
''Siapa dia?'' Hendi menelisik wajah bandot tua itu, lalu melangkah melingkari. Ia membulatkan mata sempurna kala melihat Reni duduk di sudut kamar ujung dekat pintu.
''Reni!'' Teriaknya sambil melotot dan beralih menatap kembali pada pria tua itu, Hendi memerintahkan teman kompinya untuk memanggil bantuan dan securiti.
''Ngapain kamu di sini? Ha? Kenapa tak pencet tombol resepsionis?''
''Ahh cerewet saja kamu ini, bantu aku keluar. Aku mau telfon kakakku, cepatlah!'' Pinta Reni pada Hendi di hadapannya.
''Apa? Aku? Yang benar saja?'' Hendi memutarkan kedua bola matanya malas.
''Ishh... Kau ini, ayo cepat. Bantu aku! Aku juga warga negara, kau kan abdi negara! Wajar bantu aku!'' Ucapan Reni yang membentak Hendi membuat semua temannya memandang penuh tanya padanya.
''Siapa dia bang?''
__ADS_1
''Kekasihmu ya? Ahh cantik kali bang!'' ujar salah satunya.
''Bukan!'' Keduanya menjawab kompak.