
Brumm...
Brumm...
''Assalamuallaikum! Bude! Bu...de! Reni datang!'' Ucapnya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Teriakan Reni benar - benar memekik di seluruh penjuru ruangan.
''Jeng!'' Sapa Bu Ratmini.
''Iya tunggu sebentar,'' sahutnya dari dalam rumah. Bu Hakim kaget sempurna, namun semua itu di tepis dengan senyuman lebar nan hangat.
''Anak wedok! Sudah sembuh kah? Bisa sampai sini juga kamu? Kapan balik, hem? Tak kabar - kabar sama bude! Kan bude bisa yang ke rumahmu nduk!''
Bu Hakim memeluk Reni yang jalannya masih sedikit terpincang - pincang karena menahan pen di tulang kakinya.
''Aku datang dengan supir bude, langsung tadi ke rumah ibu! Lalu aku minta antar kemari deh! Bude masak apa hari ini?'' Tanya Reni sembari mendaratkan pantat duduk di sofa.
'Aruni di mana ya? Kok sepi sekali sih!'
''Bude Aruni di mana? Kok sepi banget sih, mas Agas belum pulang juga?''
Bu Hakim menggeleng kepala, ''Sepertinya sangat lelah. Jadi masih istirahat. Kamu makan dulu aja Bude masak banyak hari ini! Kamu pasti suka, nanti biar ibu Ratmi yang panggilkan.'' Jawab ibu Hakim.
Tap..
Tap...
''Assalamuallaikum!'' Bariton suara ngebass, cool dan cempreng beradu menjadi satu.
''Aku pulang buk! Bawa dua anak kucing juga!'' Ucap Agastya sembari melepaskan sepatu dan kaus kaki yang Agastya dan temannya pakai.
''Sandal mahal nih! Punya siapa sih? Selera Aruni bagus juga punya sandal mahal!'' Batin Edwin kala melirik sandal berwarna putih berada di daun teras.
''Ehh ada tamu! Sudah dari tadi buk?'' Tanya sang menantu pada mertuanya yang sudah mengulurkan tangan.
Deg!
Reni tertegun melihat kehadiran Edwin di samping Agastya, bisa ia lihat Edwin pun tak kalah kaget, keduanya bertatap muka sekarang. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kedua calon mempelai ini. Hanya me..ma...tung!
''Ehhemmm! Ehmm! Pandang - pandang aja! Dosa tuh mata!'' Sindir Indra pada rekannya.
''Halalin adek dong bang!'' Sahut Agastya yang mengundang gelak tawa kedua pihak.
Edwin hanya berdiri kaku karena di tatap Reni dengan tajam.
'Asam kau mas! Katanya suka aku! Tapi udah seminggu tak pernah kasih kabar, ternyata kau malah bertelur di sini!' Ucapnya bermonolog dalam hati.
-
-
__ADS_1
''Istrimu kemana mas?'' Tanya Reni saat kami makan siang.
Uhuukkk...
Uhukk!
''Minum dulu!'' Indra memberikan satu gelas air putih pada Agastya, ia tau sekarang sobatnya sedang gugup.
Deg!
'Astagfirullah apa yang harus aku jawab? Aku bingung sekali. Tak sampai hati aku melakukannya, apa aku harus berbohong pada ibu dan Reni?' batinku mulai bergejolak.
''Aku naik saja lah! Lama nunggu kamu mas!'' Reni beranjak dari kursi makannya.
''Kalau makan di lanjut dulu dek! Tak baik meninggalkan rezeki di meja makan. Kasian ibu atuh dah masak banyak - banyak!'' Kali ini Edwin menimpali agar tak terkesan mencolok.
Reni hanya menoleh tak menjawab sama sekali..
''Biar ibu saja nduk, kakimu belum sembuh benar! Nanti cedera atau kenapa - napa malah Firman marah sama ibu!'' Timpal Bu Ratmini.
Reni hanya menggeleng, ia tetap naik ke lantai dua guna mencari Aruni. Bisa di bayangkan bagaimana suasana hati Agastya, ia pasti sedang berperang antara logika dan hati.
''Win! Gimana nih! Cewe mu susah amat di bilangin!'' Bisik Indra pada Edwin yang juga mengusap wajah pasrah dengan keadaan.
Tok..
Tokk..
Tap..
Tap..
Tap..
''Kok sendiri nduk?'' Tanya bu Ratmini saat melihat kehadiran Reni kembali dengan sendirinya tanpa putrinya di samping atau di belakangnya.
''Mungkin lelah, ibu, bude. Aku sudah ketok berkali - kali juga tak ada jawaban pun! Mungkin sedang istirahat wajar kan bumil dobel jadi lelahnya dobel juga. Iya kan Mas Agastya?'' Tanya Reni penuh selidik menatap manik Agastya yang sudah berkaca - kaca penuh kegugupan.
''Buk... Aku mau bilang!'' Kini suara Agastya
''Ya nak, bilang saja. Ibu dengarkan!'' Ucap bu Ratmini sembari mengunyah ayam garang asem itu.
''A - A! A- Aruni... Hii...Lang!'' Jawab Agastya kali ini.
Trakkk....
Sendok terlepas dari genggaman tangan ibu mertua Agastya. Ibu Ratmi tak bisa menelan makanan dengan sempurna karena tiba - tiba tenggorokannya sakit. Dadanya sakit, terasa seperti di hantam batu besar, rasanya seperti ada yang berhenti dari jantungnya.
''Su - sudah kamu? Su - sudah kamu bercandanya?'' Tanya Bu Ratmini.
__ADS_1
Tes!
''Ibu kecewa sama kamu Gas! Kenapa tak bilang dari kemarin!'' Bu Hakim menangis sesenggukan memeluk tubuh besannya yang terdiam tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya.
Hikss...
Hikss..
''Aku sudah curiga sama kalian dari tadi! Kenapa kalian bisa ingin rapi menyembunyikannya! Apa aku ini bukan sahabat istrimu?'' Tanya Reni dengan tangan terkepal.
''Sabar Mbak Reni, sabar! Kami mengetahui baru tadi. Please, dengerin Agastya dulu!" Indra mencoba menenangkan suasana yang sedang tegang.
Dua ibu yang tengah emosi kini hanya bisa menangis sesenggukan kala meratapi hilangnya Aruni, Bu Ratmini kecewa dengan menantunya yang tak jujur dan Bu Hakim juga sama.
"Ini bu!"
Agastya mengulurkan tangannya, memperlihatkan layar ponselnya yang berisi gambar di mana Aruni tengah duduk di sofa dengan tangan terikat. Bahkan voice note dalam pesan Whats App itu berisikan permintaan aneh dari orang yang menculik sungguh tak biasa.
" Siapa yang melakukannya nak? Siapa! Jawab ibu!! Istrimu tengah hamil, kenapa orang - orang jahat itu tega sama istrimu! Kami ini orang yang tak mampu! Huu....huuu...huu!''
Tes!
Agastya mengusap kedua matanya bergantian, air mata kesedihan memang sangat bisa menceritakan bagaimana kondisi seorang suami yang kehilangan istrinya, begitu pulang dengan sang ibu yang kehilangan putri tunggalnya.
''Assalamuallaikum!''
''Bang!'' Sapa Edwin dengan mengangguk, Firman hanya melewatinya tanpa ekspresi apapun.
''Tadi Si Oneng telfon aku, dia bilang ketok - ketok kamarmu tak ada jawaban! Dan memang adiku lancang langsung masuk begitu saja. Tapi zonk! Aku di minta kemari karena adiku curiga sama kamu Gas!'' Ucap Firman sambil minum es kopi di depannya.
''Bang! Itu punya Mas Edwin!'' Ucap Reni mencoba mengingatkan, namun sang abang tak perduli. Hanya mencebik kasar ucapan adiknya itu.
''Gak ayan kan dia?'' Sahut Firman membuat Indra dan yang lain melotot kaget.
'Gas, kalau kamu diem begini berati terjadi sesuatu pada istrimu. Aku tau kau tak gampang mencari solusi saat masalah sedang kalut. Mungkin nanti saat kondisi sedikit tenang dia akan cerita sama aku!' Firman bermonolog dalam hati.
Brukkk!
''Ibuuu!''
Tubuh Bu Ratmini ambruk seketika, beruntung dengan sigap Indra menahannya. Dan dibawa masuk ke kamar tamu.
''Gas?'' Sapa Firman Handoko dengan lirih.
''Ikut aku ke ruang kerjaku!'' Ucapnya yang langsung diikuti Firman dan Edwin.
Bruuughhh...
''Tell me about it! You can't lie to me! I know you since we were kid Agastya Arsya Wijaya!'' Sentak Firman yang membuat Agastya menyandarkan kepala di kursi kerjanya.
__ADS_1
''Ini fotonya,'' Firman melihat layar ponsel dengan tangan terkepal.
''Ba...jing....an!'' Umpatnya dengan kasar dan kencang.