Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
124 Misi


__ADS_3

Kedua tangan Firman terkepal sangat erat, urat - urat nampak timbul di area lengan kekarnya, terlihat sama seperti pertama kali Agastya menerima kabar itu.


''Gas! Sebelum kamu jadi suami Aruni dia dan Reni aku yang lindungi. Sekarang memang tanggung jawabmu karena dia sudah jadi istrimu. Tapi aku tak bisa melihat air mata ibu jika menangisi Aruni hingga pingsan seperti itu, Bu Ratmini sudah menjadi ibuku juga meskipun aku tak terlahir dari rahimnya. Go fast Gas! Kita gak punya waktu lama buat bertele - tele!'' Ucap Firman dengan tegas.


Agastya magut - magut memahami perkataan sang sahabat, ia memulai dengan membuat ringkasan peta kecil di ruang kerjanya.


''Rompi anti peluru ready semua?''


''Siap! Ready komandan!'' Sahut Indra sudah dengan mode kerja. Wkwkwk... Agastya terlihat garang.


''Jangan pakai mobil seperti biasanya! Kita harus ganti mobil!'' Edwin menimpali.


Ketiga lelaki itu sudah tau apa yang harus di lakukan.


Semua orang berangkat, Dafi sebagai supir Agastya melajukan mobil mahal milik Firman dengan kecepatan ghoib di jalan. Erik yang berada di perbatasan kabupaten dan kota langsung membuka jalan dengan cepat.


Sedangkan Edwin dan Indra sudah dalam mode penyamaran masing - masing. Sang Komandan Agastya hanya duduk memantau ketiga anak buahnya bertugas.


Persiapan misi menyelamatkan Aruni memang ala kadarnya alias modal nekat. Namun dengan kemahiran dan ketepatan berfikir Agastya semua di siapkan dengan cepat meskipun mendadak.


-


-


''Ambarawa!'' Lirih Agastya.


Shaaaattttttt.... Mobil Pajero hitam doff milik Firman Handoko di kendarai Dafi dengan cepat, titik lokasi Aruni sudah di dapatkan.


''Simba! Black Eyes bicara! Kita memasuki hutan pinus area Ambarawa, titik lokasi Aruni ada sekitar 300 meter lagi sampai ujung, sebaiknya kita dalam radius agak jauh agar tak mencolok.''


"Lakukan! Kita jalan dari radius 100 meter saja, mereka tak akan membahayakan istriku dengan bom! Aku tahu Aruni hanya pancingan saja!"


* Black Eyes : Indra


* Simba : Agastya

__ADS_1


* Monkey : Edwin


(Itu kode misi rahasia mereka! Ssst... Sssst! Jaga rahasia ya pembaca! )


Drap!


Langkah - langkah kaki rombongan Agastya menyusuri jalan cor di depannya, tak mau mencolok Edwin langsung menyiapkan alat tempurnya.


"Majulah! Kau yang pimpin! Hatiku tak sanggup ku harus berdzikir dulu!" Ucap Agastya yang membuat Edwin mencebik kasar.


Sleppp!


HT.. Alat komunikasi andalan para polisi dalam misi sudah di siapkan Edwin di tempat yang tepat. Ia memulai berjalan dengan PD! Baju lusuh dan compang - camping sudah melekat padanya saat ini, topi ala pemancing dan joran serta bagor besar pun sudah di siapkan dengan matang. Persis! Calon suami Reni memang patut dapat penghargaan aktor polisi terkismin... Ehh.. Miskin!


"Bauk amat bang!" Dafi menutup hidung saat Edwin sudah melewatinya dengan alat tempur itu!


Indra hanya tersenyum menahan tawa..


"Gimana gak bauk! Dia aja bajunya pinjem orang minta - minta langganan dia! Semua perlengkapan Edwin sudah ada sponsornya. Biarin aja dia menikmati perannya!'' Ucap Indra sombong.


Sreeettt...! Indra membuka resleting jaketnya, ia mengganti bajunya menjadi baju jelek.


Dafi hanya mangap menatap perubahan kedua kakak seniornya.


Indra berjalan dengan percaya diri melewati Agastya yang masih terdiam, ia tak melirik Dafi sedikit pun. Dibiarkannya Dafi menatap dirinya dari atas sampai bawah.


'Ndesoo kau Daf, ini lah kating mu! Kau harus mencermati dulu kita seperti apa di medan sesungguhnya. Meskipun jiwa perang ada dalam TNI tapi kami para polisi pun tak kalah juga!' Batin Indra bergejolak sombong sembari berjalan.


''Ndan! Kostum Bang Indra memang seperti itu ya?'' Tanya Dafi pada komandannya.


Agastya mengangguk mengiyakan.


''Memang seperti itu, kami di tuntut harus pulang dengan hasil dari setiap misi! Entah berhasil pulang atau tidak, setidaknya usaha tak akan mengkhianati hasil kecuali ada yang berkhianat!'' Ungkapan Agastya membut sang ajudan garuk - garuk kepala.


Ting!

__ADS_1


Black Eyes : Zonk... Sepi!


*Mengetik......


Monkey : Sabar... Di ujung sana masih ada satu rumah warga, siapa tahu ada petunjuk!


Ting!


Me : Aku maju! Kita cari bersama.. Kalau ini zonk berati kita di tipu mentah - mentah! Mereka hanya singgah untuk memencarkan titik ini!


"Daf! Tunggu saya di sana, nanti kalau saya menyalakan menyalakan rokok kamu maju bawa mobil!"


"Baik Ndan! Hati - hati!" Ucap Dafi dengan raut wajah yang sulit di artikan.


-


-


-


Ting!


"Hasilnya apa?" Dafi membaca WA dari Firman di ponselnya.


Me : Komandan sedang maju bang, lagi menyusul Bang Edwin dan Bang Indra! Doakan saja bang kami berhasil!


*Send


Ting!


"Share loc!" Dafi mengirim share lokasi miliknya pada Firman. Dafi yang polos dan tak tahu apa tentang misi ini hanya nurut saja pada Firman.


"****! Ini beneran zonk Gas! Kita balik, tak usah di teruskan!" Umpat Edwin pada HT nya.


"Go to lokasi ke dua! Bandungan!" Indra menimpali!

__ADS_1


__ADS_2