
Dafi hanya terbengong melihat atasannya marah - marah, pasalnya itu bukan hal yang tidak wajar. Hampir setiap hari pak polisi yang terkenal tegas itu marah pada junior yang memang menyalahi aturan atau bertele - tele.
''Panggilkan Edwin dan Indra! Cepat!!!''
'' Si - siap Ndan!'' Sang ajudan lari secepat kilat mencari keberadaan Edwin dan Indra.
Dari ujung kantor hingga ke pantry tak juga Dafi menemukan keberadaan sohib komandannya itu.
''Hah!! Hah! Hah!''
''Rasanya seperti shock therapy saja! Macam pertama masuk seba! Hah! Hah.... Bagaimana ini kalau belum ketemu, sudah hampir 3 tempat aku tak menemukan juga!''
''Ngapain kau Daf? Bikin salah apa sama komandan? Sampe keringetan gitu?'' Tanya rekannya seletting itu.
''Ca - Cari bang Edwin dan Bang Indra!'' Ucapnya sambil terengah - engah kesulitan bernafas.
Dika hanya mencebik...
''Nihh! Pakai dong! Susah amat jadi orang!'' Ucap Dika sembari mengulurkan radio panggil!
Plakk!
''Napa gak dari tadi!!'' Omel Dafi.
Segera ia melapor pada rekan komandannya mengenai kericuhan sang atasan. Entah setan apa yang merasuki muuuuu.... Itu lagi yang sedang di lantunkan Dafi spesial buat Agastya wkwkwkw...
__ADS_1
Drap...
Drap...
Drap...
''Napa Gas!'' Edwin masuk tanpa permisi.
''Nopo Gas? Ono opo? Ngomong o!'' Indra menimpali.
Agastya mengusap kepalanya penuh kekesalan! Emosi dan amarah bercampur aduk menjadi satu. Tidak ada solusi dalam pikiran nya sekarang. Hanya sang istri dan kedua calon bayinya yang ia pikirkan.
''Ini! Lacak sekarang! Please!'' Ucap Agastya lirih tampak sekali raut wajahnya menyembunyikan amarah yang terpendam.
Dua kepala mendekat menjadi satu, menatap layar ponsel Agastya yang menampilkan sang istri sudah di dudukan dalam kondisi terikat kaki dan tangan di depan.
''Siapa bajingan ini Gas?'' Tanya Edwin.
Tak..
Tak...
Takk...
Indra mengotak - atik keyboard laptop milik Agastya. Laptop berharga super fantastis itu bisa dikendalikan hanya Indra, Edwin dan Agastya, karena hanya mereka yang memiliki koneksi dalam bidang tersebut.
__ADS_1
''Masih di Jateng! Dia lewat Ambarawa!'' Ucap Indra setelah menyelidiki nomer ponsel yang barusan ia telusuri.
''Apa yang mereka mau? Kenapa Aruni yang di bawa?'' Gumam Agastya dalam lirih.
''Sorry Gas! Kalau aku rasa ini tak ada hubungannya dengan misi kita deh. Ini ada hal lain. Atau mungkin ada seseorang yang kamu curigai?'' Tanya Edwin pada Agastya.
Agastya menoleh bingung...
''Maksudmu?''
Indra dan Edwin membuang nafas kasar, benar kalau temannya sedang kalut. Dan tak bisa berfikir jernih.
''Kamu terlalu terforsir masalah kemarin hingga lupa sama istri Gas. Pola mereka menyembunyikan Aruni jelas beda dengan pola buronan kita dan interpol!'' Sahut Edwin yang diangguki oleh Indra sekejap.
Tak
Tak
Tak!
''Aku sudah kunci semua akses jalan mereka, berpindah ke daerah Semarang kota. Aku memakai gps kita buat pantau mereka. Untuk saat ini ponsel mereka mungkin masih aktif. Namun kita tidak yakin juga, kenapa mereka tidak me -non - aktifkan ponselnya? Kayak ada yang aneh Gas! Bukan tipe penculik banget gak sih?'' Keluh Indra.
''Kita bergerak cepat kali ini. Kasian kalau istrimu tak di lepaskan dan di kasih makan. Oh ya Gas! Tolong WA semua rekan Aruni cek apakah ada rapat atau pertemuan apapun di luar jam sekolah dan kegiatan apapun.''
''Makasih bro.. Kalian benar - benar membantuku, aku lagi kalut banget. Maaf aku belum bisa berfikir jernih!'' Ucap Agastya sembari mengusap air mata yang hampir menetes di pipi.
__ADS_1