Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 77 #Sms awal


__ADS_3

''Hei Run, apa? Serius? Wahh selamat yaa!''


''Makannya cepat dong nikah! Biar gak iri Aruni Bunting Ren! Agastya menimpali dari samping.


''Sembarangan kamu mas, dipikir aku sapi apa bunting - bunting segala! Reni juga normal mas, cuma jodohnya belum deket aja.


''Heh! kalian berdua gausah gegerin aku! Nikahku tuh besok kalau Mas Firman abang kesayangan aku kewong duluan! Sama satu lagi..Ibu Ratmi dan bude juga biar nikah dulu!


Reniiii.... Keduanya menajam memelototiku dengan kompak. Biarkan mereka geger dulu, huu... siapa suruh gangguin aku.


''Heh mana kadonya, ngomong mulu kau Ren!'' Suami Aruni menimpali.


''Ahahhaa... Bisa aja suamimu kanebo kering itu! Ntar aku kirimin kado yaa.. Gausah khawatir, endorsan aku semuanya aku kasih deh! Tunggu aja di rumah!" ujarku hingga aku menutup panggilan itu.


Aku ikut bahagia melihat sahabat kecilku sudah sold out dengan kawan kecil kakakku juga, tinggal kakakku saja yang belum. Ahh lelaki itu memang susah disuruh nikah. Selalu saja beralasan kalau nunggu aku dulu. Dia tak mau membagi kasih sayang padaku dengan orang lain.


Katanya sih, dia hanya ingin melihatku bahagia dan sukses dulu. Berkali- kali teman wanitaku juga ingin berkenalan dengannya tapi Bang Firman tak mau menanggapi. Aku salut dengan kakakku itu yang tak ingin adiknya terlupakan jika udah memiliki wanita atau sudah menikah.


...****************...

__ADS_1


Aku harus meminta maaf pada Mas Edwin, aku tak ingin menyianyiakan kesempatan untuk baikan. Tak ada laki - laki baik datang dua kali dalam hidupku. Hanya ada Bang Firman dan Mas Edwin. Cara dia memperlakukan aku di rumah nenek Jamilah saja sudah tercermin kalau dia bisa menjagaku dan menurunkan pandangan pada perempuan kok, argghh... Apa yang harus aku lakukan kalau begini?


Kirim pesan saja, ahh iya kirim pesan. Kemarinkan sudah bertukar nomor saat di mobil. Wait.. Aku cari dulu! Ahh ketemu! Ucap salam dulu deh!


{Assalamuallaikum Mas! }


"Semoga aja dibalas sama Mas Edwin, ihh... Deliv, centang dua! Duhh kenapa berdebar - debar ya?'' gumamku saat ini.


Ting..


{Waalaikumsallam Wr Wb}


Deg... Deg... Deg...! Duh aku jawab apa ya, masa aku langsung minta maaf sih soal aku mendiamkannya tempo hari di Jogja.


Ting...


{Gapapa mas, ibu apa kabar? Aku rindu ibu! } ''Send! Ahh.. terkirim deh!''


Sementara di lain tempat Edwin tampak deg - degan menerima pesan dari perempuan yang akhir - akhir ini sudah memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Ting..


Reni membuka pesan itu dan membacanya, ia menautkan kedua alisnya bersamaan sambil menutup mulut menahan tawa itu.


{ Kenapa kamu bertanya tentang ibu? Harusnya kamu kirim pesan ke nomor ibu bukan lewat aku Dek, kalau kirim pesan di aku berati kamu rindu aku? }


Ting... Mata Reni kian membola saat membaca pesan yang dikirim Edwin padanya. Pasalnya belum sempat ia balas namun sudah terdapat pesan baru lagi.


{ Dek, apa kamu menyukaiku? Apa kamu beralasan menggunakan ibu sebagai pelindung rasa kangenmu itu?}


Deg... Bagaimana bisa Mas Edwin berfikiran seperti ini? Kenapa orang ini beranggapan kalau aku seperti ini! Ahh.. teman - teman suami Aruni benar - benar bikin pusing! Bagaimana tidak, suami Aruni seperti kanebo kering, Si Edwin seperti Kulkas! Dan Indra dia ramah tapi.. Re..ceh!


...****************...


Tringg...


Tringg....


Reni melirik ke arah gawainya tampak nama Daniel yang tertera, ia masih malas mengangkat telfon karena kejadian kemarin membuat Reni sedikit tak percaya pada Daniel.

__ADS_1


Ting.. Sebuah pesan suara terkirim di hape Reni, segera ia buka dan dengakan. Namun Reni hanya tersenyum smirk kala mendengarnya.


''Keluar ahh! Aku mau ice skating dulu, ngadem aja biar gak setres! Nanti bakalan aku telfon Aruni biar geger sama suaminya!'' Reni menyambar kunci mobil di meja riasnya, segera ia kemudikan mobil BMW di garasi kakaknya, karena Firman belum menowing mobilnya dengan alasan si..buk!


__ADS_2