Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
112 Mau apa lagi?


__ADS_3

''Nah loh! Ketahuan kan sekarang!! Mau apa kamu senyum - senyum di sini?'' Tatapan Indra menelisik tajam, Edwin dan Erik yang merasa ada sesuatu yang tak beres langsung menguping sejenak.


Agastya merasa kikuk layaknya maling yang tertangkap basah mencuri dalaman orang lain.


''Gak papa lah! Apanya yang harus apa? Orang ini rumahku, bebas ya rumah aku dong!'' Sewot Agastya.


Indra mendengus kesal karena Agastya tak kunjung memahaminya.


''Ya aku tau ini rumahmu, yang jadi pertanyaanku kenapa kau senyumu itu lebar banget di cermin, dari tadi sambil kau usap - usap lehermu yang memerah itu? Sepanas itukah ranjang kalian?''


''Tentu! Kau tak akan bisa menandingi ku, bibit unggul dan lebih subur di dalam tubuhku sangat limited edition. Jadi mau apa apa? Menandingiku?'' Agastya merasa bangga sekali saat istrinya dapat baby twins tiga.


Semua anak tampak memasang wajah jengah, tak heran Agastya memang gemar sekali pamer.


-


-


Ting!


Mah Edwin : 'Bestie, gimana kabar Reni?'

__ADS_1


Bu Hakim yang sedang rapat PKK di balai desa tampak gusar melihat gawainya karena ada pesan masuk dari bestie nya.


Haqqim 🪻: 'Sabar! Memang belum pulih banget. Tapi Edwin di sana pengertian deh sama Reni. Gimana jeng, kamu jadi kan yang kemarin itu?'


Tingg!


Mah Edwin : 'Iya dong, aku pengen mantu juga kaya kamu. Biar bisa cepat dapat cucu. Tuh bujang harus di apain ya biar nurut?'


Haqqim 🪻: Bisa diatur ituu!! Anaknya dulu mbak urus, kalau udah di kasi murotal kenceng nanti aku jebretin langsung. Maap ya aku lagi rapat PKK! Ntar aku telfon km mbak, dahhh beib!!''


''Ibu... Ibu kenapa senyum - senyum sendiri?'' Aruni sedikit curiga karena sang ibu randomnya itu bukan senyum lagi malah tertawa makin kenceng.


''Nduk, sini deh! Nih baca!'' Bu Hakim menyodorkan gawainya yang membuat kedua bola mata Aruni membola seperti ingin keluar.


''Kamu setuju? Mereka kayaknya cocoknya, Reni yang celelekan pas kalau sama Edwin yang pendiam. Kebalikannya kamu sama Agastya, satu slengekan satunya pendiem juga.'' Sahut Bu Hakim dengan antusias.


Tap


Tap


Tap...

__ADS_1


''Ehemmmmm!!!! Dek!!'' Bariton suara deheman seseorang membuyarkan mak comblang tingkat desa itu.


''Akhh!! Pak Ka- Kades..'' Aruni meringis karena merasa tak enak hati.


''Hakim, selesaikan tanggung jawabmu dulu! Masa ketua PKK malah ngobrol di sini, jangan korupsi waktu dek! Aruni kembali ke kantor guru! Sebentar lagi juga ada jam istirahat kan. bisalah dilanjut nanti ghibahnya!'' Pak Kades Halim menegur keduanya yang sedang asik berghibah. Bahkan pak kades sampai geleng - geleng melihat adik dan istri keponakannya itu berjalan menjauh.


Di lain tempat saat ini Agastya sedang mengkonfirmasi handphonenya ia sibuk sekali di tariklah ke atas lalu di turunkan ke bawah, di gulirkan lagi ke samping. Ahhhh!! Kenapa aku ini, betapa sulitnya jadi perempuan. Pilihannya sangat banyak ternyata.


''Napa Gas?'' Edwin menatapnya dengan intimidasi yang penuh.


''Kepo!''


Agastya melanjutkan aksinya berseluncur di dunia maya, ia mengetik 'Lingerie seksi' membuat Edwin yang mengendap - endap si belakang kursi Agastya menutup mulutnya menahan tawa.


''Ahh!! Kenapa keluarnya seperti ini, apa gak ada gitu yang aman buat ibu hamil! Jijik banget aku liatnya!''


''Hmm.. murah juga nih model saringan tahu, satunya 92ribu, ah beli 10 juga tak apa! Kalau aku robek juga gak rugi!''


Tiba - tiba Agastya merasakan ada hembusan nafas seseorang di belakangnya, karena ia polisi terlatih dengan insting tajam guna untuk menangkap penjahat ia segera sigap mengarahkan layar handphonya beralih kamera.


Sedangkan Edwin yang merasa posisinya di curigai Agastya, langsung merasa dalam zona merah. Bendera perang berkibar di udara. Edwin sudah dalam mode militer, menggelinding ke sisi yang terang alias pintu, ia keluar sambil tertawa terbahak - bahak!! Tak perduli ia menjadi bahan penglihatan rekan - rekannya bahkan junior maupun senior yang saling melirik penuh tanya.

__ADS_1


''Eeedddwiiiiiiiiinnnnnnnn!!!!!!!!'' Agastya mengejarnya sampai berlarian mengintari polres tempatnya bekerja.


__ADS_2