
(Pov) Edwin
'' Ahh... pakai baju yang ini ah, hmm.. Fiks, tampannya aku! Hihihi.'' Edwin berkaca berkali - kali menilai penampilannya agar tak saltum alias salah kostum.
Cretzzz..cratzz..! Edwin menyemprotkan beberapa kali parfum aroma wood maskulinnya pada leher, tangan ketiak meskipun sudah ia pakaikan deodorant namun agar tetap memukau.
Hari ini adalah hari pembubaran panitia acara nikahan Agastya dan istrinya kemarin, yaa sahabatku itu memang aneh kok. Dia menjadi polisi bukan karena minatnya tapi hanya menuruti ibunya saja. Entahlah dari mana duitnya, dengan bergaji di bawah standar pengusaha dia bilang mau acara sederhana tapi ya tetap saja aku bilang mewah ternyata dia memang sudah kaya duluan sih! Pantas saja dia bisa seperti ini. Ahh aku jadi ingin nikah cepat - cepat gara - gara liat dia berambut basah setiap hari.
''Gantenge anak ibu.. Uluhh.. Uluhh.. Masyallah!''
''Memang aku tampan dari lahirkan? Ibu baru menyadarinya sekarang ya, astaga ibu ini? Bagaimana bisa?'' Edwin berjalan sambil mengaitkan kancing kemeja di pergelangan lengannya saat ini.
''Halah, mbelgedesszt! Percuma ganteng, tampan, sholeh! Meskipun kamu pinten cari duit percuma belum bisa beristri!''
Deg..
''Bu, aku mau keluar ya. Hari ini ada acara khusus yang dibikin Agastya sama istrinya! Ibu mau pesan apa, nanti aku bawakan pulang bu!'' Ucapku mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya, aku tau ibu menginginkan menantu saat ini. Akupun juga bu, asal ibu tau jiwaku sudah meronta - ronta ingin nikah kala sahabatku berpelukan dengan istrinya. Anakmu ya ingin bu!
''Enggak nak, hmm..Pergilah!''
Tap.. Tap.. Langkah Edwin menjauh dari meja dan kini hampir mendekati daun pintu.
''Tunggu! Kapan ya ibu bisa ketemu Reni lagi. Nanti tolong sampaikan padannya ya, kalau ibu ingin makan siang di rumah bersama cah ayu itu! Bisakah kamu diberi amanat?'' Bu Mah menatap sendu putranya saat ini.
Deg...
__ADS_1
''Kenapa ibu bertanya padaku?''
''Heii... Kamu itu ya, sudah hampir kepala tiga tetap saja nang..nang! Reni lak yo bojone kancamu toh! Gemes ibu lama - lama sama kamu Win! Ramudengan!'' Gerutu ibunya saat ini.
''Hmm.. Bi - Bisa buk! Nanti aku sampaikan pada Reni. Kan dia teman istri Agastya buk jadi gampanglah nanti di aturnya, seperti yang ibu bilang tadi, tinggal ibu saja masak yang banyak dan enak - enak yaa!'' Edwin tersenyum getir saat ini.
''Kenapa jadi kamu yang atur? Kan ibu yang ingin makan sama Reni, kalau dia gak mau di rumah ya ibu keluar makan sama dia toh! Aneh kamu Win!''
Edwin bingung harus berkata apa, dia segera menyalami ibunya dan berpamitan segera menjemput Indra karena hari ini dia tak ada kendaraan sebab mobilnya dipakai adiknya ada acara di kampusnya.
''Lama amat Win! Aku karatan tauk nunggu panas- panasan, dah yuk cap cuss nanti si macan ngamuk kalau kita telat! Oiii... Ayooo mangkat! Kesuen banget! Ra krungu pa aku ngomong!'' Bentar Indra memekik dalam mobil
''Iya ahh.. Bawel amat!''
''Win, udah buka instakilo belom? Duetku sama Si Reni tenyata dapat like, komen banyak banget loh! Malah sampai di repost sama akun kota ini loh Win! Pak Kapolres juga loh Win! Kerenkan!'' Indra menda0at cebikan bibir dari Edwin saat ini.
...****************...
''Pedasnya... Huhahhh...Huhahh.. Huhahh! Win.. Minum Win, cepatlah!'' Indra kepedasan makan sambal jamur di resto ini. Sudah tau tak doyan pedas tetap saja ngeyel, bikin males aja anak ini.
''Kenapa Win? Diet kau? Apa sariawan gak makan banyak, biasanya juga makan gak kira - kira,'' sindir Agastya lirih sekali namun masih bisa di dengar orang yang di dekatnya saat ini.
''Gak mood! Gas, Reni di mana? Ibuku mau telfon!''
''Lagakmu 'Leh Uga'! Tau leh uga gak?'' Edwin menggeleng kepalanya.
''Boleh juga! Hahahahhaa''' Agastya tertawa sedikit kencang, sampai miss Angela dan team melihatnya.
__ADS_1
''Aku serius nyet! Ibuku mencarinya, aku cuma mau menyampaikan amanat ibu!''
''Tak usah seperti itu, bukankah itu keuntungan bagimu? Ibumu memintamu menyampaikan, namun kau juga merindukan. Jadi kau berlindung dari amanat ibumu agar tak ketara bahwa kau menyukainya.''
Tebakan Agastya memang selalu ngena di hati Edwin, entah seakut apa Agastya saat itu, dia seperti alumni jokes - jokes kekinian!
''Oiya mbak Aruni, kenapa Reni tak terlihat? Apa dia tak ikut acara ini?'' Indra memulai pertanyaan yang mewakili Edwin.
''Ohh, iya Bang Indra. Reni ada project di Jogja dan Surabaya. Gatau ya berapa lama, tapi biasanya kalau sudah selesai dia langsung pulang ke Magelang!'' Indra hanya magut- magut mendengar penuturan sahabat Reni ini.
...****************...
''Thanks ya Win, besok aku kerja pakai motor aja! Tak payah kamu jemput aku!'' Indra melambaikan tangan pada kawannya saat ini.
Segera Edwin melajukan mobilnya ke arah jalan yang berlawanan dengan arah pulang.
Kemanakah Edwin akan pergi saat ini? Bikin penasaran saja ya...
''Permisi mbak!''
''Iya mas, ada yang bisa saya bantu!'' Ucap salah seorang pramuniaga di toko ini.
''Hmm.. Sa- saya mau bertemu dengan Pak Firman mbak. Apa beliau ada di tempat?''
''Ohh ada mas, tapi maaf apakah sudah membuat janji dulu. Memang beliau ada di sini, tapi saya gatau adakah klien atau orang yang sudah janji duluan atau berkepentingan!'' Ujar pramuniaga itu.
''Hmm.. baiklah, tanyakan saja dulu. Saya Edwin mbak, bilang saja mau ada perlu pribadi dengan Pak Firman!''
__ADS_1
Pelayan itu segera menuju ke meja kasir guna mengambil gengam telfon yang akan ia gunakan.