
Tap..
Tapp..
Tap...
Tapp..
Suara langkah kaki bersahutan kian mendekat, pendengaran Reni cukup membaik sembari mencari sumber suara itu.
''Abang pasti mencarikanku makanan enak, tau saja dia kalau aku tak nyaman makan seperti ini. Hambar kaya makan rumput!''
Ceklek..
Dua pasang mata bertemu dengan mesra, tanpa kedipan menelisik namun bisa di yakini keduanya saling ingin memastikan keadaan yang sebenarnya.
Deg
Mimpikah aku?
Benarkah ini dia?
Ya Allah, kenapa engkau tak buat aku amnesia saja? Kenapa kau biarkan aku sembuh? Aku menyesal tak memeluknya waktu itu.
Antara sakit dan bahagia melihat dia menatapku seperti itu.
Ya Allah, kabulkanlah pintaku kali ini.
Sadarkan aku sebelum aku bunuh diri karena sesal yang terlalu mendasar di sanubari
Dari pada aku berhalusinasi tak karuan seperti ini. Huh.. Rasanya terasa sekali, seperti nyata!
__ADS_1
''Ehemmm... Hemm!!! Dek, kamu kenapa?'' Tanya Firman iseng pada adiknya yang sedikit kaget itu.
''Ahh.. A - Aku tak apa! Ya aku tak apa!'' Sahutan Reni dengan penuh elakan seolah - olah ingin turun dan menepuk lelaki yang bersama abangnya itu.
''Ahh kenapa tak hilang?''
''Sopo?''
''Dia,'' tunjuk Reni pada sosok Edwin yang masih berdiri mematung diantara pintu masuk.
''Apa abang bisa melihatnya? Apa ini nyata?''
Brruuuuurrrrr...........
Minuman yang semula ingin ditelan Firman sontak kembali membasahi tembok di depannya.
''Abanggggggggg!'' Reni tersentak kaget.
''Abang tak apa? Kenapa bisa tersedak?'' Edwin menepuk - nepuk punggung kakak iparnya itu.
Bukannya menjawab Edwin malah memelototi tingkah Reni yang menurutnya tak prihatin pada abangnya itu.
''Dek, kau tak boleh berbicara seperti itu pada orang yang sedang makan dan minum. Bisa fatal loh akibatnya! Beruntung abang tak apa!'' Cecar Edwin pada Reni yang masih menutup mulutnya karena tak percaya.
Triiinggg...
Triiiingggg....
''Hallo.. Apa gas?'' Firman mengerutkan kedua alisnya melihat sobatnya itu tampak bersantai duduk di jok mobil.
''Hoii.. Aku otewe ke Surabaya loh! Mau di bawain apa nih? Sebelum sampai.''
__ADS_1
''Ohh oke, tak perlu bawa apa - apa! Baju dan makanan ada banyak di sini. Lagian rumah di sini tak pernah di pakai juga. Kau nginap di sini kan? Tak perlu cari hotel!''
''Good boy! Memang itu yang aku mau! Tau aja kamu!'' Sahut Agastya pada Firman yang memutar bola matanya karena jengah.
''Belangmu di mana aja aku hafal apalagi gratisan Gas,'' Firman menoleh pada adiknya yang meminta handphonenya.
''Masssss.... Agasssss!!!! Mana Aruniiiiiii!!!!!''
''Wihhh... Banteng betina dah siuman nihh... Nanti aja video callnya, dia dan ibu - ibu tidur nih di mobil,'' seraya memperlihatkan kameranya ke arah istri tercintanya yang sedang terlelap.
''Mas, bawain aku martabak telor ya! Aku laper pengen itu!''
''Idiiiihh.. Ogahh! Ada lakimu, ngapain minta aku! Biarin dia modal dong, ya nggak Dra!'' Sanggah Agastya dan Indra yang sedang menyetir sambil tertawa meledek.
''Bang....sat!'' Gumam Edwin lirih, posisi yang tidak mengenakan karena mati kutu di depan layar kecil yang menampilkan wajah kedua temannya itu.
Reni melirik ke arah Edwin dengan kamera membelakangi wajahnya.
''Apa mas Agas lihat dia? Apa kalian juga lihat?''
''Ya kami lihat, kenapa memangnya? Adakah yang salah dengan kamera hape mu?'' Tanya Indra.
''Berati memang aku sadar 100 persen! Aku kira aku hanya berhalusinasi saja! Ahhh... Leganya aku!'' Ungkapan Reni barusan membuat para lelaki yang ada di depannya dan dalam video call itu sontak melotot sempurna.
'Ohh.. Jadi ini yang membuat abang tersedak tadi, ini juga yang membuatmu menatapku dari ujung kaki sampai kepala. Dikira aku setan apa! Awas aja kamu dek! Saat sembuh nanti tak akan aku biarkan kamu sedikitpun sedih! Yang ada hanya me...riiiinn...duu!'' Batin Edwin dengan bangganya.
''Iya Ren, Edwin emang kaya setan!'' Sahut Indra penuh tawa.
''Bukan kaya setan lagi, emang mbahnya itu setan!'' Agastya menimpali dengan tertawa penuh syukur karena berhasil membuat telinga Edwin memerah.
''Mas Edwin!''
__ADS_1
''Apa dek Reni? Mau dibantu apa?''
''A- aku..!''