
Apa yang bisa disebut selain rindu jika kamu pergi lagi meninggalkan aku?
Apa yang akan aku lakukan ketika rindu menyapaku?
Apalagi yang akan aku lampiaskan untuk menghindarimu?
Teruntukku kamu lelaki yang sekarang aku kagumi.
Semoga rindumu hanya untuku juga. Batin Reni sedang bergejolak antara bahagia dan senang.
''Hati - hati ya bro! Maaf aku hanya bisa antar sampai depan bro. Pokoknya tenang aja di sini aku sama Indra jaga full time kok.''
Lalu ke empat lelaki itu meninggalkan kamar VIP dengan langkah serius, tak ada niat untuk tengok kebelakang sejenak.
Aku bingung harus bagaimana, aku bahagia saat orang lain yang sudah menganggapku saudara bahkan putrinya tiba disini dengan selamat. Namun di sisi lain aku juga sedih karena harus melepasmu kembali mas, bukankah ini tak adil jika aku menahan rindu sendirian.
''Woii... Ngelamun aja ni anak,'' Aruni menjawil Bu Hakim yang langsung tau apa yang di maksud menantunya itu.
''Oke!'' Bu Hakim mengacungkan kedua jempolnya bersamaan.
Tak
Tak..
Takk...
__ADS_1
Kringgg... Kringgg....
Bunyi suara nada sambung telfon memekik telinga Aruni, Reni dan Bu Ratmini.
''Bude kaya gapernah punya hape aja kenceng- kenceng!'' Sindir anak tak tahu diri itu.
''Ssstsstt... Diem ah! Anak kecil ngoceh mulu!!''
Jari telunjuk Bu Hakim tepat berada di bibirnya, beliau menginterupsi agar semua diam.
Kringgg...
''Hallo assalamuallaikum jeng!!! Apa kabar?'' Sapa Bu Hakim mengawali telfon hari ini.
''Waalaikumsalam, kabar baik ini. Situ gimana say? Sehat kan?'' Jawab Bu Mah dengan akrabnya.
''Jeng lagi apa nih, aku ganggu gak? Mu curhat nih!''
''Ooww.. Tentu boleh dong, kebetulan aku baru aja selesai beres - beres, porsi pas kalau istirahat begini ada yang ajak ngobrol - ngobrol!'
''Ehh... Jeng, lagi dimana sih kok putih - putih semua? Liburan ya?'' tanya Bu Mah sambil keheranan.
Klik...
''Astaga... Astagfirullah anak gadis akuu!!!!!'' Teriak Bu Mah dengan histeris saat Bu Hakim memperlihatkan dirinya sedang terkapar di atas bangkar rumah sakit.
__ADS_1
''Apa yang terjadi padamu nak? Kenapa bisa seperti itu, Kamu dimana ini. Ibu kesana ya?''
Reni dengan terpaksa menerima gawai dari Bude nya itu, ia berpura - pura lembut saat menceritakan kronologinya pada Bu Mah itu.
Cklekkkk...
''Telfon siapa sih dia bu?'' Tanya Agastya pada sang ibu.
Tak ada jawaban yang tersirat dari keempat wanita di ruangan ini membuat Agastya memutar bola matanya jengah.
Aku harus tau dengan siapa dia telfon, kalau sama cowok lain bisa jadi nagasari oleh Edwin! Gak... gak bisa!! Harus di cek ini!
''Hayoooo...!!!!!!!!!!!'' Agastya mengagetkan Reni yang sedang melakukan panggilan video dengan calon mertuanya itu.
''Astaga mas, napa sih ganggu mulu!'' Protesnya dalam keadaan lemes.
...****************...
''Win, kamu yakin tak akan ikut naik pesawat bareng saya? Lebih enak lhooo!!'' Tanya Firman.
''Siap tidak bang! Saya akan ikut kegiatan besok Minggu. Ya meskipun tidak banyak. Tapi kan hari selasa tanggal merah. Insyallah, nanti aku senin sore akan ke sana lagi.''
''Apa kau tak repot?''
''Membelah lautan pun aku bisa bang! Cuma ya takut hiu nya aja! Hahaha... Ya gak?''
__ADS_1
Tawa Edwin dan Firman memekik di seluruh lorong parkiran.
Kini keduanya telah bersiap - siap untuk balik ke Magelang lagi, dengan kuasa dan rekan se loyalitas. Mobil keduanya berjalan lancar sampai di tujuan tanpa memerlukan waktu yang lama.