Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
118 Rencana Jahat


__ADS_3

Agastya setengah mati merayu istrinya yang merajuk dengan segala jurus. Mulai dari jurus cium, peluk - peluk, voucher belanja, makanan kesukaan pun tak mempan. Apalagi voucher nyalon. Istrinya pun tak suka dengan hal - hal yang terlalu rumit.


''Kalau yang tadi tak mempan kamu maunya gimana wes dek? Mas manut kamu!'' Agastya menyerah pasrah pada sang istri.


Aruni hanya mengedikan kedua bahunya bersamaan..


''Duh, mas itu harus gimana lagi dek? Mas kan cuma keluar sebentar. Tanya ibu deh, mas tuh makan di bawa tadi! Suwer cintaku!''


Aruni makin terdiam....


''Besok jadwal kontrol mas!''


Deg!


'Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membawa Aruni ke tempat bajingan itu lagi? Hmm.. Jangan sampai kejadian ngidam - ngidam nyentuh pipinya terjadi lagi!'


''Kenapa mas diam? Tak ingatkah dengan jadwal kontrol aku?'' Tanya Aruni dengan manik berkaca - kaca.


''Sa - sayang? Kita jalan - jalan malam mau? Kita beli jajanan di kuliner malam yuuk! Nanti mas ajak nonton bioskop!''


Agastya segera mengganti baju tanpa menunggu persetujuan istrinya, di liriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 21.00 malam.


Ya! Masih cukup waktunya, aku harus booking cepat tiketnya. Tak apa pulang malam dari pada tidurku di punggungi istri! Mati kutu aku!


''Aku siap!''


''Alamakkkkk!'' Agastya menjerit kaget karena sang istri sudah berada di belakangnya saat ini.


Aruni hanya menggunakan one set bunga - bunga, jilbab kaos, dan sling bag. Tak lupa jaket parka yang menutup atasan tubuhnya.


''Dek? Ini bukan Eropa! Kamu pake jaket kaya gitu gak gerah? Kenapa gak pake sweater aja?'' Agastya melirik istrinya yang sama sekali tak merasa salah kostum, padahal biasanya dia harus rapi, sopan dan anggunly.


''Gak! Mau pakai ini aja! Gak usah nonton bioskop!''


'Alhamdulillah!' Batin Agastya.


''Aku mau nongkrong di alun - alun! Ayo keburu malam!''


Aruni meninggalkan Agastya yang masih menganga mulutnya, heran benar dengan sikap sang istri kali ini. Aneh bin ajaib!


-


-


''Mbak Dian?''


''Ya dokter? Ada yang bisa di bantu?''


''Hmm, apa pasien saya yang bernama Ibu Aruni belum datang?'' Tanya Dokter Bagus pada sang perawat.


''Ohh, Ibu Agastya Wijaya itu dok? Tadi sih sudah daftar online dok. Mungkin belum datang, biasanya kan belakangan dok! Ada apa ya?''


''Kasih dia nomer terakhir! Saya banyak pembicaraan dengan dia!''

__ADS_1


Dokter Bagus meninggalkan ruangannya untuk absensi wajib.


'Ihh mana bisa dokter ini! Kan di pendaftaran sudah tertera kalau daftarnya urut. Suaminya kan polisi yang tampan itu, kalau ketahuan di tukar ya bisa - bisa aku yang di marahi. Aneh benar Dokter Bagus, tak biasanya seperti ini!'


Batin Dian kali ini.


''Dek!''


''Hmm....!'' Aruni menyantap semangkuk soto sapi tanpa melirik suaminya.


''Kita pindah aja ya kontrol dokternya!'' Agastya sengaja menukar jadwalnya dengan Edwin, beruntung tak ada kegiatan yang parah lemburnya.


''Kok tak menjawab sih? Dek!''


''Hmmm...!''


'Ampun deh! Aku kan bukan Nisya Gambyus itu! Kenapa malah istriku yang ham hem ham hem? Perempuan kalau sudah merajuk, masyallah! Naudzubillah warasnya!'


Ting....


''Yups! Selesai!''


Glekkk...


Glekkk...


Haikkkkkkk!!!!!!


Agastya membekap mulut istrinya, ia tak peduli dengan tatapan para pengunjung saat ini.


''Malu dek, mana ada bu guru kaya begitu? Kalau ada wali muridmu yang lihat bunda di sekolahnya seperti itu apa gak malu dek?''


Aruni hanya meringis menampilkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi tanpa pagar.


Brummm...


''Alhamdulillah sampai!'' Aruni melepas seat belt nya saat ini, ia bercermin sembari memoleskan lip balm nya kembali.


''Mas!''


Panggilan Aruni mengurungkan niat Agastya untuk membuka kan pintu mobil, ia kembali duduk memperhatikan istrinya.


''Ya sayang?''


Greeep!


''Aku mau kontrol di sini terakhir! Besok aku mau di bidan aja. Biar dekat! Bidan Hani juga bagus kok mutunya, sudah terlatih. Jadi mas tak perlu meragukan lagi! Hmmm... Aku juga nggak mau mas dan ibu jadi kepikiran aku kalau jauh - jauh kontrol nya!''


Cup!


''Mas sayang kamu dek! Dah gak usah di bahas, yuk kita ke Bidan Hani aja kalau begitu. Tanpa antri!''


Agastya kembali menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, dua sejoli yang meninggalkan rumah sakit dengan mesranya membuat tangan sang dokter terkepal erat. Entah dendam atau kemarahan seperti apa hingga membuat mata sang dokter terlihat memerah.


''****!''


Siapa lagi yang mengumpat jika bukan Dokter Bagus!


''Kemana pun kamu pergi kamu harus jadi milikku! Agastya tak ada apa - apanya di bandingkan aku! Arghhh...!'' Umpatan kesal Dokter Bagus terlampiaskan pada tembok di sampingnya itu, namun ia masih menjaga sikap karena di rumah sakit penuh cctv.


'Siapa dia? Kenapa dia menyebut nama pecundang sialan itu? Ahh.. Aku harus cari tahu! Mungkin bisa jadi ini jembatan aksiku! Hahaha!'


''Permisi dokter?''


''Ya?'' Dokter Bagus menoleh.


'Tampan!' Batin wanita berbibir merah merona itu.


''Terus terang saja dokter, saya mengenal Agastya! Ada urusan apa dokter hingga mengumpat sebegitu hina pada mereka yang tak jadi turun mobil tadi?'' Tanya wanita berbibir tebal nan merona itu.


'Apa maksud wania ini? Apa dia tahu kalau aku tak suka pada Agastya? Atau ini selingkuhan Agastya?' Ucap Dokter Bagus dalam hati.


''Saya Dokter Bagus mbak, bisa berkenalan terlebih dahulu?''


''Saya orang yang dendam dengan Dia! Tak perlu kita berkenalan, saya sudah tau jika anda mengagumi istrinya. Saya bisa menebaknya Dokter! Ini kartu nama saya, telfon saya jika anda butuh bantuan. Akan dengan senang hati saya membantu Anda!''


Tak


Tok


Tak


Tok


Suara heels meninggalkan Dokter Bagus yang masih terpaku kaget dengan kehadiran wanita itu.


'Buset tajir juga dia, gayanya kece! Naik mobil mewah! Fix, bukan kaleng - kaleng!'


''Dokter!''


''Ya,Nona?'' Dokter Bagus berusaha tampil elegan dan jual mahal karena gengsi tadi hampir saja ketahuan.


''Tatapan anda tak bisa membohongi. Pandai - pandailah bermanuver wajah! Sampai jumpa Tuan Dokter Tampan!''


Muwah... Fyuuhhh!


Flying kiss melayang ke arah Dokter tampan yang masih mematung kaget, ia benar - benar syok terapi hari ini.


''Dokter!''


''Ya mbak Dian? Ada apa?''


''Sudah waktunya buka praktek. 10 menit lagi kita buka, apa dokter belum siap? Jika belum saya undur tak apa!''


Bagus berjalan memimpin ke arah ruangannya, kehadiran wanita tanpa nama itu benar - benar membuatnya menjadi semakin penasaran.

__ADS_1


'Aku harus bertemu lagi dengan dia! Siapa tahu ini bisa menjadi jembatan awal hubunganku dengan wanita istimewaku!'


__ADS_2