
Agastya dan Aruni memasuki ruangan Bu Bidan lagi, dengan langkah gontai dan ekspresi yang sulit diartikan Agastya segera ingin berpamitan.
'' Bu..!'' Agastya menegur bu bidan yang sedang asik dengan gawainya.
''Ehh... copot.. copot!! Hmemm.. Gimana mbak Aruni sudahkah di cek? Mana hasilnya saya lihat dulu!''
Bu bidan menadahkan tangannya tanda ingin minta benca kecil itu, tanpa ragu Aruni memberikannya tanpa ekpresi apapun. Bu bidan merasa aneh dengan pasiennnya.
''Kenapa ibu natap istriku seperti itu? Ada apa bu?'' Tanya Agastya memastikannya.
''Gini nak Agas, perlu di ketahui bahwa bisa jadi juga terlalu berlebihan air seninya. Jafi enggak muncul garisnya kalau polos begini. Saran saya sih langsung ke poli kandungan saja di rumah sakit! Mau pakai rujukan atau langsung kesana?'' Tanya bu Bidan pada kami.
Aku bawa istriku bergegas langsung ke Rumah Sakit, aku tak mau terjadi hal - hal dikemudian hari. Apalagi tadi pas di tes tak ada garis sama sekali. Padahal kalau aku lihat status story temanku selalu ada garis dua muncul entah biru atau merah tapi kenapa kali ini tak ada.
...****************...
__ADS_1
Ciiittt.... ! Kuparkirkan mobilku dan segera ke sana. Alhamdulillah aku sekarang bisa memakai fasilitas kekuasaanku, guna periksa tanpa antri.
''Silahkan di tanda tangani dulu Pak Agastya, wahh ternyata kabar menikahnya memang beneran ya!''
''Iya sus, masa bohongan!'' jawabku.
''Saya kira bohong pak! Duhh.. sakit hati saya!'' Ucap perawat tadi sambil terkekeh.
Namun senyum itu sirna kala melihat Aruni tangah melotot penuh padanya, Agastya jadi kikuk sendiri. Ia tak ada niat untuk genit.
''Ehh... kamu.. ! Dokter tampan itu kaget bahwa pasiennya adalah mantan teman SMA nya sendiri.
''Apa kabar Run? Wahh.. lama gak kelihatan malah udah bunting, kapan nikahnya?''
''Ya baru kok, awal tahun ini Gus! Kamu keren jadi dokter sekarang!'' Puji Aruni tanpa menyadari bahwa suaminya tengah naik darah saat ini.
__ADS_1
Ya salam, bagaimana bisa istriku memuji lelaki lain keren di depanku. Sedangkan aku sagu - satunya polisi ideal di kantor yang limited untuknya. Kenapa juga ngadepin orng hamil model ginian. Semoga aja kamu beneran hamil dek! Awas saja kalau enggak, gak bakalan tak kasih ampun kamu di rumah!
''Ini suamimu Run,'' tunjuknya pada Agastya yang duduk di sampingnya.
''Ahh iya hampir lupa, kenalan dong mas. Ini temanku SMA dulu, namanya Bagus Herawan. Mas.. Kenalan dong!'' Aruni melotot mengintimidasi suaminya agar mau berkenalan.
''Aa- Agastya.. salam kenal dok!'' Ucapku sambil berjabat tangan. Bagaimana ceritanya aku bisa di atur istriku sendiri, ahh.. aku merasa ditindas kalau begini.
''Darah bu Aruni rendah pak, bagaimana kalau ibu berbaring dulu. Kami akan cek kelanjutannya!'' pinta asisten dokter Bagus itu.
Aku merasa jijik ketika perut istriku diolesi gel dari botol apa itu aku pun tak tahu. Namun aku mengikuti saja prosedurnya dari pada nanti aku salah lagi dimata istriku.
''Ehhh.. mau diapain itu, mau apa sama istriku?'' Agastya membentak Bagus kala ia memegang alat seperti ulekan cabe yang digenggamnya saat ini, Agastya memang menegaskan kata istriku biar lelaki itu tak macam - macam pada Aruni.
''Sus'' Dokter Bagus mengisyaratkan sesuatu pada asistennya. Dijelaskanlah fungsi alat itu, setelah diaplikasikan para perut Aruni Agastya hanya mangap karena tak tahu itu apa.
__ADS_1
''Hmm... Run.. Aku melihat ada kantong janin di rahimmu. Mungkin sekitar dua belas mingguan ya usianya, masih rentan banget ini!'' Dokter bagus masih fokus dengan tangan kiri memegang alat sedangkan tangan kanan mengontrol keyboard monitor.