Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 45 #kepanasan


__ADS_3

Hosshhh....


hos hoshshhh....


hossshh.... hossh... deru nafas Aruni dan Agastya beradu.


Tubuh kekar Agastya ambruk di sisi istrinya, ia kelelahan karena pertempuran berkali - kali dengan istrinya memakan banyak tenaga.


Diselimutkan tubuh polos sang istri dan dikecuplah keningnya.


"Terima kasih sayang..selamat tidur.. Mas sayang kamu.


cup!!!!


hoshhh... hosshhh... astaga! Panas sekalii!! rasanya seperti lari puter - puter saat binsik!!!..


Jraazzzt... huhhhftt... huffft... Agastya menyesap rokoknya dan duduk di tepian jendela kamarnya.


Sembari menyesap rokok, matanya membulat penuh ke bawah, disana ia melihat dua insan yang sedang kejar - kejaran dini hari.


"****!!!! Apa aku tak salah liat??? Benarkah??? Agastya mengucek matanya berkali - kali. Ngapain dia belum masuk jam segini. Jam 2 malam.


Hmmm...


fix!!! Edwin kasmaran!!!


Dinginnya di kantor terbayar sudah dia bisa tertawa riang dengan Reni. Semoga Gusti Allah melindungi kalian orang baik. Kalian memang pantas di sebut sahabat, gumam Agastya.


Gemericik suara air di kamar mandi membangunkan Aruni yang tertidur pulas karena kelelahan mengimbangi sang suami. Dicarinya sosok sang suami namun tak mendapati.


Kricikkk....


kriicikkkkk...


"Ahh.. mungkin mas Agastya lagi mandi.. hah... sudah masuk jam sholat!!! Astaga... melelahkan sekali menenangkan bayi besar itu. Mass.... Sudah belum mandinya... Aku mau mandi ini...


Sudah masuk jam subuh lohh... teriaknya.


Ceklek..


Grepp...


Agastya menarik tubuh istrinya hingga handuk yang melilitnya jatuh...

__ADS_1


Di cumbui tubuh Aruni yang menjadi candu baginya.


Ahh... Mass... Suuu.. sudah mas.. ini sudah subuh.. Ayo sholat!!!!


ucapan Aruni tak di gubris sama sekali oleh Agastya. Kembali Agastya menyesap biji chery di dada istrinya hingga membuatnya kelabakan. Ahhh... massss... Pilinan demi pilinan dan beberapa jejak kemerahan memenuhi dada Aruni karena perbuatan bayi besarnya.


Ja... Jangan masss!!! Aku tak sanggup.. aampun mass!!!


Apa sih dek!!! Jangan keras - keras.. kamar ini tak kedap suara!!! ucapan suaminya membuat Aruni terbelalak kaget. pasalnya dia sangat keras merancau dari tadi.


Cupp...


Agastya membungkam bibir sang istri dengan kembali berciuman. Aruni tak berdaya jika suaminya begitu sangat menginginkannya.


Tangan Agastya tak bisa diam, Aruni sempat menahan tangan suaminya agar tak kemana - mana namun Agastya tetap membajak sawah yang candu baginya, Agastya memulai kembali penyatuannya dengan sang istri hingga membuatnya mengerang kenikmatan untuk kesekian kalinya.


Ahhh... ahhh... masss!!!!


Jangan Beginiii.... Aku tak kuat!!!!


Ahhh... sayang... sungguh nikmat kamu inii!!! Dikasih makan apa sihh sama ibu bisa semok gini??? Aruni terbelalak kaget mendengar suaminya semakin ngawur bicaranya. Bisa - bisanya saat begituan bahas tak penting. Ahhh masss... Sudahh... ayooo..!!!! Masss.. ... aku mau sampai..


crittt....


critttt..


...****************...


Lain di ranjang panas Agastya dan Aruni. Kedua insan di luar ini menikmati makan jagung berduaan hingga lupa waktu.


"Makasih ya mbak Reni sudah memaafkan saya. Saya janji tak akan seperti itu lagi. ucap Edwin super duper lembut.


"Hmm... panggil Reni aja. Saya gak setua kamu Pak. Lagian gausah janji - janji seperti itu. Buktikan saja ucapan anda. Jangan sampai menyakiti hati perempuan di luar sana. Cukup saya saja. Timpal Reni.


"Jangan se formal itu. Jangan pula panggil aku Bapak. ini bukan di kantor kok.. Aku lebih suka dipanggil mas oleh kamu. Hhahahaha mereka tertawa bersama sambil menikmati jagung.


Hati Reni menghangat mendengar penuturan Edwin kala ia merasa disukai dengan panggilan 'mas' itu. Memang njawani tapi bermakna penghormatan dan terkesan lebih luwes.


"Iya mas Ed...Win!!! Apa kabar ibu dirumah?? beliau sudah baikan?? Reni mengalihkan perhatiannya sembari memakan jagung kembali. Ia merasa malu jika terlihat salah tingkah di depan Edwin.


"Baik kok.. ibu sudah bisa jalan normal seperti biasa. Sudah bisa lari - lari pagi. Kemarin sudah dipijat sama tukang pijet langganan ibu. Kamu main lah kerumah.. pasti ibu senang sekali.


uhuukkk....

__ADS_1


uhuukkkk....


"Ehh.. Aku carikan minum dulu yaa... Edwin berlari mengambil minum air botol di teras.


dugg....


dugggg....


dugg...


Suara jantung Reni berdebar tak beraturan kala mendengar Edwin berkata seperti itu. Seperti nya rasa suka Reni bak gayung di sambut karena Edwin membuka pintu harapan selebar mungkin.


glekkk...


glekk..


glekkk...


"hmm... makasiih mass... Ahh... leganya aku..


"Kamu tak apa?? Edwin memastikan keadaan Reni dengan meletakan telapak tangannya di dahinya, lalu membawa kedua tangan Reni berdiri ke atas kepala.


"Mass... aku gak demam.. kenapa malah di cek suhunya. aneh kamu!!!! Ini kenapa malah tanganku di tarik begini???


Aku ini tersedak lohh... bukan malah muntah -muntah.. Protesnya.


"Dek.. kalau kata ibu.. bayi tersedak itu harus tangannya di bawa ke atas begini alias hands up!!! Biar sirkulasi pencernaanya lancar gak tersedak lagi..


Lagian kamu gak makan hati - hati kok.. Gausah membatin sesuatu kalau lagi makan. yang relax gitu loo.. Sayangi badanmu, kalau terjadi apa - apa gimana??? cuma aku looh yang disini!! nanti aku yang kena tuduh di marahin Agastya dan keluarganya. Edwin mencerocos tiada henti.


Reni melongo mendengar omongan panjang kali lebar kali tinggi bibir Edwin. Seperti ceramah ustad yang selendangnya di sampirkan ke kanan kiri.


Jadi ini mas sisi baik kamu.. Selain suara indahmu saat mengumandangkan adzan, perhatianmu bikin rahim adek anget bang... Duhhh guee!!!! kenapa lagiii sama gue??? Kenapa aku bodoh banget baru menyadari indahnya ciptaanmu Ya Rabbi... batin Reni.


"Hmm... maaf dek.. mas gak bermaksud membentak kamu. Mas takut terjadi apa - apa sama kamu.


ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur saja. Masuk gihh!!! Kasian badannya kalau gak istirahat!!! Edwin mengalihkan pembicaraannya.


tuhkann!!! dia tengsin lagiii!!!! aaaa.... gumushhhnya!!!! Ya Allah... dia semakin tampan kalau lagi khawatir begini.. batinnya.


"Dekk... Dekk??? Edwin melambai - lambaikan tangannya..


Ya Allah... Astagfirullah... Semoga dia gak papa!!! Jangan..... jangan...

__ADS_1


dekkk!!!!!.... Edwin memanggil Reni berkali - kali namun tak di gubris.


bersambung


__ADS_2