
Firman hanya mencebik tak heran dengan kedua makhluk itu, sepertinya ia harus mulai terbiasa melihat keuwuan adiknya ini.
''Mas.. Mass.. A - aku'' Ucapan Reni tertahan kala ia menyeka air matanya sendiri.
Greeeppp
Edwin membawa Reni dalam pelukannya, ia tak tak kuasa menahan air mata yang memanas itu.
Hikss.. Hikss...
''Aku kangen dek! Mas gabisa di giniin! Kamu yang kuat ya! Yang sabar!'' Sahut Edwin
''Mmmmkkk... Lepas mas!''
''Tak akan!'' Edwin semakin mengeratkan pelukannya.
Menyadari ada sepasang mata yang menatap tajam dari sofa Edwin melepaskan Reni begitu saja. Duhh tengsin kan sama abang! Salah sendiri Win, gak liat - liat!
''Katanya khitbah, ehh di peluk juga!'' Sindir Firman sambil mengunyah apel di tangannya.
Duhh.. Matih aku!! Bagaimana kalau nanti aku di cap sebagai lelaki tak bertanggung jawab. Habis liat doi begitu, mana tahan buat gak peluk.
Nah.. Salah tingkah kan sekarang. wkwkwk...
Tang...
Tinggg...
Tanggg...
__ADS_1
Tingg...
''Hmm.. Dek, abang besok harus pulang! Karena ada tamu di toko. Jadi abang tak bisa menungguimu di sini.''
''Kenapa harus abang, tak bisakah Mbak Ela atau Beni yang urus toko?''
''Ini acara buat ulang tahun Kota dek. Ada Bapak Wali dan jajaran, mas juga sudah taken kontrak dengan instansi. Mana bisa mas seenaknya sendiri. Ya meskipun nanti selesai acara mas minta pengawalan Edwin kemari biar cepat sampai.''
Tanpa kakak beradik itu sadari Edwin diam - diam menerbitkan senyum yang hampir tak terlihat.
''Aku bisa sendiri kok, lagian kan hanya sehari. Nanti ada Aruni dan ibu. Pasti seru kalau mereka sudah disini, jadi abang dan kamu mas tak perlu buru - buru kembali kemari. Hihii...''
Gerimisss hati ini Dek! Niat mau nemenin malah tak diinginkan!
...****************...
''Sabar Dek, paling lagi perjalanan kemari. Kan Aruni juga menginap di rumah sini. Mas WA dulu ya. Tunggu sebentar!''
Reni hanya mengangguk sambil tersenyum menatap senja di luar jendela kamar rawat inapnya.
'' Mass.. Sini deh! Cepat! Indah ya mas, kita di lantai berapa sih? Kok bagus banget kaya di Santorini. Hihi.. Serba putih - putih semua.'' Tunjuk Reni pada Edwin yang malah menatapnya dengan ekspresi datar.
''Kok liatinya seperti itu. Mas tak suka ya dengan Santorini?''
''Bukan! Aku suka sekali Santorini. Hanya aku tak suka disini. Ehmm.. Soal Rumah Sakitnya, mas lebih suka kamu tersenyum dan cerewet lagi'' ucapan penuh penekanan itu berhasil membuat hati Reni kebat kebit karena dag dig dugg.
Ceklek..
''Assal....''
__ADS_1
''Ya ampun! Sosor!! Sosor!!! Inget Win!'' Ledek Agastya.
Edwin sedikit menjauhkan kepalanya dari kikisan wajah Reni. Ia menjadi kikuk sendiri karena ketahuan mau kecup kening pujaan hatinya.
''Ahh.. ganggu aja kalian ini. Sana keluar dulu!'' Sahut Reni membuat Agastya dan Aruni serta Edwin terbelalak.
''Siapa yang di suruh keluar?? Ha?'' Bariton suara ngebass nan menginterupsi itu membuat Reni dan Edwin menegang seketika.
''Mampuss!!'' Agastya menjulurkan lidahnya pada kedua pasangan setres itu.
Edwin mengalihkan pembicaraam dengan merebut barang bawaan Agastya dan para tetua itu. Ia berusaha bersembunyi dibalik kata ma...luu! Malu kalau ketahuan mau cium adik singa. Hahahaha..
''Win, kenapa adiku mau mengusir Agastya? Kamu tahu kenapa?''
''Ehmm.. Tak ada bang!''
''Yakin kamu?'' Telisik Firman yang mana para tetua dengannya sudah paham kejadian yang sebenarnya.
''Ehmm.. Anu..! I- itu..!''
''Anu siapa?''
''Anu bang... Hmm.. Anuu.'' Edwin makin gugup di cecar pertanyaan yang menjebak.
''Anunya Reni bang!''
''Haaaaaa!!!!!!!!!''
Semua pasang mata kian menatap Reni dengan penuh tanya. Seakan akan di telan hidup - hidup oleh semuanya.
__ADS_1