
''Eeh!''Reni mendelik
''Kenapa nduk? Kamu tak mau jadi anak ibu?'' tanya perempuan paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
''Uhuukkk... Uhukk!'' Reni tersedak karena kaget, Edwin pun reflek memberi minum padanya. Ibu Mah makin heran menatap anaknya yang tampak khawatir pada lawan jenisnya. Karena Edwin tak pernah berlaku seperti itu pada gadis lain.
''Kamu suka sama cah ayu ini lee?'' Tanya Bu Mah tanpa melihat situasi.
''Hah?'' Edwin tambah mangap ibunya kini seri dengan ibu Agastya. Sama -sama blak -blakan.
''Enggak.. Enggak buk!'' Kami berteman jawab keduanya kompak. Tentu saja membuat para adik tingkat menatap penuh curiga. Apalagi Erik yang menangkap sesuatu yang berbeda dari raut wajah kawannya.
''****!! Kau pikir aku percaya bualanmu Win!'' batin Erik.
''Apa kau percaya kayang bang Edwin ucapkan barusan,'' tanya sang junior pada yang lainnya.
__ADS_1
''Aku juga baru melihat sekarang bang Edwin salah tingkah begini. Biasanya mau secantik apapun polwan di kantor dia tetap kaya es batu. Aneh gak?'' sahut junior yang ada di sisi Erik.
''Jangan ghibahin saya!. Saya dengar loh!'' Edwin menyindir para junior yang ramai membicarakannya.
Tiba - tiba suara pemecah keheningan timbul. Mungkin masalah pribadi yang membuat Erik berani menyindir temannya.
'' Edwin sepertinya naik pangkat jadi Iptu akan ada bayangkharinya, bukan bayang- bayang lagi. Hahahahha... '' kata Erik menyindir dengan sengaja keras di dengar pula para junior menertawakan mereka.
''Ehh.. Tunggu deh! Ini beneran mbak Reni yang di Instakilo itu? Affiliator itu?" Axel menghentikan keriuhan itu, seketika suasana menjadi bingung.
Bu Mah mengangguk, ia menggandeng tangan Reni menuju pelaminan. Sontak Edwin pun mengikuti dari belakang. Ia takut nanti ibunya bercerita yang tidak - tidak apda ibu dan mertua Agastya.
Tap.. Tap.. !" Langkah kaki menaiki panggung tanpa mengantre dulu, karena ibu Edwin termasuk tamu VIP.
"Waahhh.. Cantiknya!" puji Bu Mah pada Bu Hakim.
__ADS_1
"Alah mbak ini bisa saja! Mbak kan lebih cantik dariku, lebih senior! Hahahaha"jawab bu Hakim
sambil tersenyum- senyum. Namun kehadiran Bu Mah dengan menggandeng Reni, membuat kedua mempelai dan keluarga merasa bingung.
Agastya dan Aruni melototin Edwin seolah meminta penjelasan kenapa ibunya bisa bersama Reni sekarang, Edwin hanya menggaruk tengkuk leher yang tak gatal itu.
''Mari foto Bu Mah, semoga nak Edwin cepat ketularan ya! Sinii Bu Mah kita di depan!'' Posisi Bu Ratmini, Bu Mah dan Bu Hakim berdiri di depan pengantin, sehingga Agastya dan Aruni malah tak terlihat.
''Bu!'' Agastya tersenyum getir kala melihat antusias para ibu - ibu yang di pimpin oleh Reni malah menutupi mempelai.
''Ren, aku gak kelihatan loh! Masa malah kamu yang mejeng sih!'' gerutu Aruni pada sahabatnya.
Chissszzzt.... cekrekk!" Agastya tersenyum miris karena dia beralih tugas menjadi mas - mas tukang foto.
''Hikssszzz...Mau nangis tanggung juga, kelu ni lidah kalau gini caranya, mana yang dipinjem buat foto itu istriku lagi! Sebel!'' Gumam Agastya saat melihat ibu -ibu turun dan berganti junior yang naik ke pelaminan.
__ADS_1
''Ehemm... Ehemmm!'' Miss Angela naik ke panggung bagian orkes di teras rumah Aruni. Beruntungnya Agastya memiliki mertua yang rumahnya berhalaman luas, jadi tak perlu lagi menutup jalan.