Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
126 Pelukan cinta


__ADS_3

Maafkan saya ya teman - teman literasi... Dari kemaren tak update, hpnya kemarin sulit untuk online..


...****************...


''Aruni!'' Panggilan ngebass, yang sudah ia kerap dengar setiap hari.


Aruni menoleh..


"Sayang..! Maafkan Mas yang terlambat!" Ucap Agastya dengan suara bergetar.


''Masss... A - aku takut!'' Lirihnya menjawab panggilanku, ia hanya menoleh sekejap lalu menunduk kembali.


Tak sanggup aku kehilanganmu dek! Kamu sudah jadi bagian terpenting dalam hidupku. Hanya kamu yang bisa membuat aku berubah 100 persen.


''Jangan menangis lagi! Aku di sini! Maafkan mas yang terlambat menemukanmu! Adakah yang terluka?''


Ku peluk erat dirinya, alhamdulillah. Aku amat sangat bersyukur hari ini. Ku pastikan semua yang ada padanya tak terluka dan hilang secuil bahkan sedikit pun.


Jlebbb...!


Berkali - kali aku menyeka air mata yang menetes di setiap tetes yang keluar dari manik bening itu. Sakit..... Sungguh sakit, melihat orang yang kita sayang menjadi seperti ini. Apa yang harus hambamu lakukan Tuhan?.


'Siapapun kamu yang membuat istri dan anakku terluka! Kamu harus membayar mahal atas semuanya!'


''Aku ta - takut mas!'' Ia semakin memeluk erat badanku, menyembunyikan kepalanya dalam dekapanku.


Tanpa Agastya dan Aruni sadari, Fiman hanya tersenyum kecil melihat rekan sekaligus Aruni yang sudah ia anggap seperti adik sendiri terluka batin seperti itu. "Kau kecolongan Gas!" Umpat Firman dalam lirih.


''Ehmm.. Gas.. Mandilah! Teman - temanmu sudah semua, istrimu biar Reni yang jaga! Setelah itu kita makan bareng - bareng ya!'' Firman memberi kode agar Agastya keluar.


''Hmm...!''


''Jangan kau tanya - tanya dulu, dia belum siap sepenuhnya. Biarkan dia tenang dulu! Sana kamu mandi!''


Agastya yang sudah terbiasa keluar masuk rumah Firman pun sudah tak asing lagi, ia sudah tau di mana letak kaos, celana dan sandal baru untuk tamu.


-


''Dek.. Kamu gak balas pesanku loh dari kemarin!'' Tanya Edwin pada Reni yang sedang memotong buah melon di meja makan.


''Hmm...!''

__ADS_1


''Dek..? Kamu ada acara gak besok sabtu, movie date yuk!'' Tawar Edwin pada gadis berambut hazelnut itu.


Indra hanya mencebik saja karena bualan receh Edwin tak seberapa.


''Hemmm....!'' Reni meneruskan mengupas buah mangga dan semangka tanpa menoleh sedikit pun pada Edwin.


''Dek...! Kamu sakit gigi ya?''


Reni menggeleng saja, sejujurnya ia masih kesal pada Edwin karena tak memberitahu masalah Aruni hilang kemarin dan satu hal lainnya.


''Tak marah Iptu Edwin! Kenapa?''


Deg...


Edwin berdebar - debar ketika kedua mata itu bertemu, ya! Setelah dipanggil Edwin berkali - kali Reni menoleh dan.... Aaaaa... Soswiiittt!


''Ehhmmmm! Ehmm...! Dek! Sudah belum kupas buahnya? Abang suruh kamu kupas buah bukan gatel begitu pada polisi!" Komentar Firman dengan nada sindiran.


Hening..


Suara ngebass nan berat Firman seolah menginterupsi keadaan di meja makan, semuanya diam. Sepi.. Sunyi.. Dan hanya suara pisau yang Reni pegang menggores buah dan talenan di dapur.


Tak..


Tak...


''Kalau makan ya makan! Usahakan tak bersuara, jangan kaya anak Paud! Masalah pribadi di bawa - bawa! Kalian sudah dewasa, harusnya membicarakan berdua! Bukan di meja seperti ini! Hargai abang dong dek!'' Lantang Firman pada Reni yang masih terdiam.


"Eh?" Reni terhenyak, ia merasa tak enak pada Aruni dan Indra.


"Aku pula yang salah, tau di mana letak kesalahku bang? Kasih tau dong gatelnya di mana?" Sahutnya tak mau kalah.


Agastya, Edwin dan Indra hanya mencebik saja melihat kelakuan kakak beradik bak tom and jerry itu.


"Gas.. Kau sudah dua kali kecolongan! Apa tak sebaiknya kau tempatkan polisi jaga di rumah dan kawal saat Aruni dan ibu bepergian?"


Agastya mendongak, ia menatap Firman dengan sendu. Diliriknya sang istri dan Reni sedang makan salad buah di sofa.


Hufffhtt..!


" Aku sudah menempatkan orang kepercayaan, tapi aku dua kali ini memang kecolongan. Dan itu semua kamu juga yang menemukan Aruni." Agastya menjawab sembari mengusap puncak kepalanya.

__ADS_1


"Entah kasus apa Bang Firman hingga rumit, tak tau aku kenapa harus orang hamil. Ditelantarkan pula di terminal. Apa mungkin terlalu beresiko membawanya." Lirih Indra.


"Kalau kamu Win?" Tanya Firman pada Edwin.


Glekkkk...


"A- aku? Me - menurut aku?" Hanya anggukan Firman sebagai tuan rumah di meja makan itu mewakili kawan sebelahnya.


" Ini bukan soal politik dan orang terdekat. Tapi mungkin kita bisa cari persamaan masalah dari kejadian pertama. Kalau boleh tahu apa kejadian pertama yang abang maksud?"


"Aruni hampir di seret paksa oleh Dokter kandungan pribadinya. Aku menyanggahnya dan mengantarnya pulang. Kejadian itu tidak lama sebelum ini kok!" Sela Firman pada kedua rekan Agastya.


Ya ampun, semakin rumit saja ini. Apa benar Dokter Bagus yang melakukannya? Tapi apa tujuannya? Keuntungan apa yang ia dapat dari semua ini jika Aruni sebagai tawanan mereka?


"Stop Gas! Jangan kau paksakan berfikir sekarang, tugasmu pada negara membuatmu tak akan konsen dengan masalah ini. Istirahatlah, ambilah cuti! Soal laporan dan lainnya biar aku dan Edwin yang handle." Sarkas Indra menengahi, tak tega rasanya membiarkan sang sahabat termenung terus menerus.


"Heem Gas, percayakan pada kami. Esok sepulang kerja kami akan mengunjungi mu kita buat solusi bersama. Saranku cek segala sisi rumah, sudut baik di dalam atau di luar. Aku takut ada penyadap di sana. Mungkin istrimu telah diincar mohon maaf sebelumnya bukan untuk jual beli." Ucapan ini membuat Agastya melotot.


"Bisa jadi Dokter itu menyukai istrimu atau bisa kita lingkari jika salah satu kerabat atau saudara dokter itu berkaitan dengan apa yang ingin kita selesaikan. Aku hanya bisa mengkritisi itu untuk sekarang." Sambung Edwin kembali.


"Aku setuju dengan Edwin!"


Lirikan Indra, Agastya menatap tajam pada Firman yang meneguk hampir habis air kelapa muda.


Bak gayung bersambut, bisa kita bayangkan bagaimana salah tingkahnya Edwin sekarang. Angin sepoi - sepoi, bunga bermekaran dan kupu - kupu beterbangan di rongga dadanya. Ia bahagia jika mendapat sambutan baik dari calon iparnya.


"Memang aku yang terbaik!" Lirih Edwin yang masih bisa di dengar orang - orang.


"Lebih baik lagi diam!" Sewot Indra sembari menariknya agar keluar rumah.


Kini hanya tersisa tuan rumah dan pasangan galau kacau ini.


" Mas Agas!" panggil Reni dengan lirikan tajam.


Hanya mengangkat sebelah alisnya saja sudah membuat Reni muak, marah? Jelas! Emosi apalagi!


Hiks...


Hiks....


"Mas? Aku takut!" Aruni kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2