
'' Maaf mas, saya ini tidak kenal kamu. Tapi kenapa kamu bawa saya ke sini?''
'' Mbak Reni, tadi sudah kenalan pas kita di dalam sana. Waktu mbak nabrak saya tadi, apa masih ingat? Hem? Apakah saya mudah dilupakan oleh mbak Reni?''
Ya tentulah aku ingat, mana mungkin aku lupa. Emang aku udah pikun apa. Tapi tunggu deh, kenapa dia bawa aku ke resto gini, ihh bikin ngeri bahkan curiga deh, mana cuma kenalan biasa masa main tarik - tarik aja langsung ajak makan. Narsis lagi. Takutnya kalau aku di guna - guna.
''Oke, tapi saya jalan sendiri. Tak perlu geger begini. Emang aku anak TK apa!'' Sindir Reni pedas pada teman lelaki baru itu.
Tampak lelaki itu tersenyum di samping Reni, dia memesan makanan banyak sekali. Entah lambungnya terbuat dari besi atau memang made in india sehingga cumi asam manis, ayam mentega, mie ramen, bakso pangsit dan dimsum juga memenuhi meja makan siang mereka.
Reni menelan ludah melihat lelaki itu makan dengan lahapnya, dia tersenyum sendiri membayangkan jika Edwin di depannya.
''Mbakk.. Ayoo makan!'' ucap lelaki itu dengan makanan penuh di mulutnya.
''Hem!'' Jawabku simpel, padahal aku sedang diet ketat. Ahh, tak apalah mubadzir hanya memandang makanan saja.
__ADS_1
''Ndan!'' Seorang lelaki memanggil dari sebrang meja.
''Ohh hai Hendi, iya ini kenalkan teman baruku. Kemarilah! Cantik, ini adalah ajudan aku. Dia sangat berbakat berenang dan bisa di andalkan dalam segala situasi.
'' Reni....'' Ucapnya sambil menatapku dengan raut wajah yang sedikit bingung. Aku paham matanya membola melihat aku yang duduk di meja makan, aku yakin dia akan mengintimidasi dengan tatapan atau tuturannya. Kita tunggu saja.
Aku tau si cuka pasti akan mencari gara - gara, awas aja kalau sampai membahas yang bukan - bukan habis kau nanti! Week! Lidahku ku julurkan mengejeknya! dia tampak melotot sengit padaku. Ahh bodo amat! Tetap lanjut makan dong! Ngapain gengsi! Nurutin gengsi gak akan kenyang! Mumpung gratisss!
''Ren.. Reni! Woi!'' Teriak Hendi sambil mengulurkan tangannya untuk di jabat. Namun aku tak menggubris, iyuhh.. Mana mau aku berjabat tangan dengan si cuka yang ada nanti aku ketularan pelit dan kebanyakan halu kaya dia.
''Enggak Ndan, dia temanku waktu kuliah. Bukan mantan atau orang spesial di hidupku. Kalian kencan kah,'' mereka berdua menggeleng kepala bersama.
Atau memang ada proyek bareng? Jangan bilang kalian kencan buta! Atau one night stand!''
Uhukk... Uhukkk...
__ADS_1
Reni tersedak udang asam manis yang dia kunyah belum selesai.
Reni mengepalkan tangannya di meja dengan erat disertai mata yang memicingkan ke arah Hendi, bisa dilihat Hendi dan Rafa kalau Reni tengah emosi karena ucapannya.
''Please, jangan emosi. Selaw Ren! Aku bercanda aja! Kamu ini dikit - dikit emosi, tahan napa. Biar awet muda gitu!'' Sindir Hendi yang sebenarnya takut jika dia emosi dan kakak Reni datang memukulinya kembali. Ahh ingatan Hendi kembali pada dulu saat ia tengah bertengkar dengan Aruni dan dia dihajar habis - habisan oleh Firman.
Kalau bukan karena menghargai Rafa sudah memesan banyak makanan mungkin kepala Hendi sudah bonyok di tonjok Reni, aku tak percaya begitu saja dengan pertemuan ini. Bisa jadi ini hanya akal - akalan si cuka buat jebak aku di sini. Oke! Aku harus ikuti permainan manis cuka! Awas kau ya!
''Maaf makananku sudah habis, aku ada pekerjaan lagi. Makasih Tuan Rafa yang terhormat. Lain kali semoga kita bertemu lagi. Terima kasih atas traktirannya! Permisi!'' Reni membungkuk dan berlalu begitu saja.
''Reni.. Reni!'' Teriakan Rafa tak dihiraukan Reni. Dia langsung masuk lift dan segera menuju parkirannya, ia gunakan kacamata hitam dan segera melajukan mobilnya.
Reni tahu bahwa Hendi dan Rafa kemungkinan akan mengejarnya sampai di basement. Namun hal ini bisa aku minimalisir, aku sudah paham dengan otak lelaki itu. Ahh memang brengsek dia, mengingatkanku saja dengan kejadian Aruni dan kejadian pada kamar hotelku kemarin!
''Arghhhhh! '' Reni sangat benci dengan dirinya sendiri yang selalu kesepian.
__ADS_1
...****************...