
Senja melukis keindahan di atas sore hari. Semburat warna oranye menyelimuti sang mentari, menambah keindahan tersendiri bagi Edwin. Ia tersenyum sepanjang jalan, membayangkan betapa bahagianya ketika memeluk Reni. Entah apa yang dirasakannya, kali ini ia merasa lebih baik dari kemarin.
''Kamu harus segera aku halalin, dek. Tak kuat aku menahan seperti ini! Benar-benar menggelitik hati!'' gumam sang Iptu itu.
Brummm...
Brumm...
''Ahh, sampai juga akhirnya. Alhamdulillah ya Allah!''
Brakkk...
Edwin menutup pintu mobil dengan semangatnya, ia berjalan sambil bersiul-siul gembira.
Ceklekkk..
''Edwin pulanggggggg!! Ibu di mana?'' teriaknya memekik ruangan rumah itu.
''Dari belahan bumi mana kamu dilahirkan? Kenapa jadi berubah seperti ini setelah tiga hari tak nampak di rumah? Hemm?'' sindir ibunya karena Edwin berteriak layaknya orang utan yang bebas di belantara.
''Cup!! Assalamualaikum ibu! Hihii.. Aku kan lagi senang jadi ibu tak usah khawatir, anakmu ini tetap ingat salam. Hanya ibu saja yang tak mendengar aku mengucap salam tadi. Iya kan? Ibu tak tahu kan aku masuk tadi?'' sarkasnya.
''Eh?? Masa iya? Kok tak dengar ya?''
''Iya dong! Ibu kan lebih memilih masak daripada anak! Anak pulang pun tak tahu, masak apa sih hari ini. Ibu kelihatannya serius amat?'' tanya Edwin pada Bu Mah yang tetap menumis bumbu itu.
Klekkk...
Suara kompor dimatikan dan Bu Mah menarik tangan Edwin untuk didudukkan di sofa.
__ADS_1
''Nutup pintu mobil kaya nutup pintu angkot aja kamu! Bisa-bisanya bilang ibu tak dengar, lebih kencang mana salammu dibandingkan saat kamu nutup pintu tadi? Ha??'' Bu Mah berkacak pinggang terhadap Edwin yang masih meringis itu.
''Gimana keadaan Reni? Bagaimana bisa kamu menyembunyikan ini dari ibu, hem?''
''Ha??? A-apa?? Ba-bagaimana?'' dipotongnya ucapannya ketika sang ibu menyela.
''Bagaimana ibu bisa tahu? Bagaimana ibu ngerti kalau kamu sedang menjalin hubungan? Kamu suka kan sama Reni?'' Bu Mah bertanya dengan wajah serius.
Hening...
''Ibu di telepon Jeng Hakim Lah, bestie ibuku itu. Dia tak akan menyembunyikan masalah yang mengkhawatirkan, kecuali hal yang serius-serius. Memang ada apa-apa dengan Reni, Win?'' tanya Bu Mah akhirnya.
''Ehmmm... An-anuu!'' jawab Edwin dengan enggan.
''Anu apa? Anu siapa?'' Bu Mah semakin tidak mengerti kenapa anaknya mendadak menjadi gelisah seperti ini.
Bu Mah terbelalak sempurna. Matanya yang membola seakan-akan ingin keluar saat ini juga!
Deg...
''Anjirrrr.... salah ucap aku! Gimana kalau ibu serius menanggapi ini? Duhh.. Mulutku ini serasa ingin aku tampar berkali-kali saja! Sebel!'' gumam Edwin dalam hatinya.
''Win? Kamu gak aneh-aneh kan? Kamu gak gitu-gituan kan?'' Bu Mah mendekat ke sebelah Edwin.
''Ha?'' Edwin mengangkat kedua alisnya tanda tak mengerti arti kode dari sang ibu yang masih menautkan jari-jarinya layaknya mengadu ayam.
''Laki-laki apa bukan sih kamu ini? Apa jangan-jangan kamu tidak suka pada perempuan?'' Bu Mah memijat pelipisnya karena kesal.
''Ibu ini! Normal seribu persen aku tuh! Mana mungkin aku setres sudah lupa lubang! Dah ahh.. Edwin masuk dulu, gerah! Mau mandi. Nanti aku ceritakan soal Reni, Bu. Silakan memasak, ndoro ratu!''
__ADS_1
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi sang ibu.
-
-
Di rumah Reni, Aruni dan Reni tampak menggila dengan konten yang mereka buat.
''Sudah dong, dek! Malu-maluin!'' bisiknya pada sang istri.
''Sebentar saja, Mas! Ini kurang sedikit kok, sabar dong!'' jawab Aruni pada sang polisi kekar itu.
Bu Ratmini dan Bu Hakim menahan tawa melihat Aruni yang ingin membuat konten bersama suaminya itu, Agastya, yang kini didandani layaknya artis Korea kesukaannya.
Bulge tabeoryeojin neowa na
Nan gwaenchana neon gwaenchaneulkka
Gureum han jeomeopsi yeppeun nal
Kkothyanggiman namgigo gatdanda
Kkothyanggiman namgigo gatdanda
Alunan musik Jisoo Blackpink menggema di kamar Reni. Tak lupa, para tetua tertawa melihat Agastya yang mempraktekkan gerakan ala flowers demi istrinya tercinta.
''Apes-apes!''
__ADS_1