Assalamuallaikum Bu Guru !!

Assalamuallaikum Bu Guru !!
Bab 69 #Bengek


__ADS_3

Suara seseorang yang dikenal Agastya langsung menusuk jantungnya, siapa lagi kalau bukan istrinya. Agastya makin merinding dengan istrinya.


''Duh, bisa kacau ini. Bumil lagi moodnya awut - awutan malah denger aku gibah. Matihhh aku!'' Gumamnya saat ini. Agastya lalu menoleh pelan agar Aruni tak curiga.


Aruni masih menatap Agastya sambil memincingkan mata, tatapanku kian menajam melihat suamiku. Entah kenapa dengan suasana hatiku ini. Hawanya tiap melihat sesuatu yang aku tidak suka selalu saja ingin marah. Apakah ini yang dinamakan sindrom awal kehamilan?


''Sa-sayang... Kok bangun sih? Sudah gak ngantuk ya, laper? Ohh.. Pasti kamu pengen martabak di gang ujung kan. Oke mas belikan rasa red velvet kesukaanmu. Dua kardus wes!'' Agastya berbicara sendiri karena istrinya masih berdiam tak bicara apapun.


''Hikss...huuu..huu.. Huuu...huu... Kamu tega! Kamu jahat!'' Aruni menangis tersedu - sedu dalam pelukan suaminya. Dipukulnya dada sang suami berkali - kali. Meskipun pukulan itu tak terasa sakit namun Agastya berlagak layaknya menahan kesakitan, demi totalitas perannya.


''Kenapa sayang? Kamu mau apa? Bilang dong, mas kan bukan dukun yang bisa nebak isi hatimu. Cupp... Cup.. Dah yok, jangan nangis lagi! Ututtuutuu.... Bu komandan masak nangis, malu ahh sama bawahannya yang lain, ntar dikira mas gak hebat nafkah batinnya!''


Tangan Agastya masih sibuk mengusap - usap punggung istrinya, ia coba tenangkan pelan - pelan. Duhh... Semoga ibu tak keluar kamar lagi. Bisa panjang urusannya kalau ada ibu, malah nanti aku dikira KDRT lagi. Mana Aruni kalau nangis menghayati lagi, duhh resiko punya istri polos dan lemah lembut kenyal - kenyal kaya jelly.

__ADS_1


''Mau makan nasi kucing! Ayo mas, carii.. Aku laper! Ayokk mas!!! Ayokkk!!! Cepatlah!''


''Apa? Sego kucing? Dek, nek ngidam mbok sing berkelas nopo sih. Mosok sego kucing?''


''Mas?? Kok kamu bentak aku sih! Aku kan cuma pengen makan nasi kucing dibeli dari angkringan, makan di rumah pun tak apa! Kenapa mas malah marah - marahin aku sih, salahku apa coba? Kalau mas memang gamau anter aku ya bilang aja, gausah bahas yang berkelas - berkelas, aku memang bukan orang yang suka makan mahal mas!'' Aruni menyerocos hampir sampai 20 menit, ngomongin itu - itu aja.


''Ya sayang.. Yuukk, anak papa yuukk carii yuuk!'' Agastya tersenyum smirk.


''Oke once again beib..


1...2....3..... Cekrekkk... Cekkreeekk.. Cekrek..!''


Suara blitz kamera memyeruak si ruangan. Hari ini adalah hari pemotretan Reni bersama team produksinnya. Ownernya mah para horang kaya dari Jogja, Magelang, Solo sampai Surabaya.

__ADS_1


''Hhhftt... Capeknya!'' Reni minum Cuci 1000 di atas balkon kamar hotelnya saat ini, ia merasa kaget karena tangan kekar seseorang memeluknya dari belakang.


Reni diam sejenak, karena tidak ada tindakan lagi dia menunggu sedikit untuk mengulurnya. Namun tangan itu malah beralih turun ke pantatnya.


Klakk..


Bugh... Bughh..bughh.. Reni memelintir san menendang sesuatu yang berharga, tampaknya ada kecurangan kontrak yang bisa di tebak Reni.


''Hei ******! Kenapa kau menyakitiku! Harusnya kau berterima kasih, model hanya modal kurus dan seksi sepertimu ada yang menggunakan. Bukan malah menghinaku seperti ini!'' Teriak lelaki itu.


''Daniel... Danielll!!'' Reni memanggil berkali - kali namun tak ada suara, seolah memang acara ini sudah di atur sedemikian oleh pengecut satu ini.


''Kau tak akan bisa kemana - mana! Aku bisa memberikanmu banyak uang, cukup jalan - jalan saja denganku! Temani aku di manapun aku ada kepentingan. Bagaimana? Hem?'' Ucapan lelaki tak dikenal itu benar - benar membuat Reni naik darah.

__ADS_1


__ADS_2