
Sesuai Saran Prayoga Januar, David bertemu dengan seorang ustadz yang dikenalkan oleh Prayoga untuk bisa membimbing David untuk membaca Alqur'an.
"Saya bersyukur..Mas David udah tamat iqra satu..setidaknya udah bisa membedakan huruf Hijaiyah." Ustadz Yusuf Abdullah membimbing David untuk bisa membaca satu-satunya huruf yang terlukis dengan indah.
"Terima kasih Ustadz Yusuf udah sabar membimbing saya dan menyesuaikan dengan waktu luang saya." Wajah sumringah David terlihat berbinar setelah ia berhasil belajar huruf Hijaiyah.
"Mas David semoga istiqamah ya...susah ketika memulai untuk hijrah...saya yakin Mas David bisa mengatasi itu...Semoga Allah memberikan kedamaian di dalam hati Mas David." Ustadz Yusuf meletakkan kembali buku panduan huruf Hijaiyah dekat rak buku ruangan ini.
"Ustadz Yusuf boleh saya bertanya sesuatu? Ini tentang lebih pribadi." Ada nada keraguan yang dilontarkan David.
"Silahkan Mas...Semampu saya akan menjawab nantinya."
"Apakah saya bisa mendapatkan perempuan yang sesuai dengan empat jenis yang disarankan oleh nabi Muhammad... sedangkan saya seorang pendosa.... Minggu lalu saya mendengar kajian bahwa Laki-laki baik-baik untuk perempuan baik-baik juga.... Laki-laki jahat untuk perempuan jahat pula...Saya takut nantinya mendapatkan seorang perempuan yang tidak taat pada suaminya." Jelas David menceritakan isi kajian yang didengarnya di sebuah majlis.
Ustadz Yusuf tersenyum, anak muda didepannya ini pasti memikirkan jodoh yang akan dikirimkan Allah untuknya. Pria paruh baya itu mengambil Al-Qur'an lalu membuka surah An-Nur ayat dua puluh enam.
"Mas David coba baca artinya dan makna ayat ini, bahwa Allah menjelaskan orang-orang yang keji pasti bersama orang yang keji pula.... Sesungguhnya Allah maha menerima taubat...Mas David berdoa kepada Allah dengan kerendahan hati bahwa ingin dipertemukan dengan perempuan baik secara kecantikan, harta, akhlak dan Agama...yang diutamakan perempuan yang memiliki ilmu agama yang kuat dan berkelakuan akhlak mulia."
"Allah maha mendengar dan maha mengetahui hati hamba-Nya...Mas David perlu ikhtiar dan tawakal untuk selalu berdoa." Penjelasan Ustadz Yusuf Abdullah memberikan kesejukan di dalam hati David.
"Saya akan memberikan beberapa buku doa untuk bisa Mas David baca sebagai pegangan....semoga bermanfaat ilmu yang kita pelajari hari ini." Ustadz Yusuf Abdullah memberikan beberapa buku panduan doa ke tangan David.
Sudah dua Minggu David belajar agama, mengikuti kajian majlis yang berada tidak jauh dari Kalandra Tecno. Setiap Weekend dia memilih untuk mematikan ponsel pintarnya, agar tidak terganggu niat baiknya untuk menghadiri pertemuan majlis.
Pola hidup David juga lebih teratur, biasanya pulang dari kantor ia akan mampir ke sebuah klub untuk memanjakan diri dengan para wanita bayaran di sana. Kalau weekend dia juga akan menikmati liburan singkat ke pulau atau villa di temani wanita kencan yang di rekomendasikan temannya dengan ditemani minuman alkohol dengan kadar tinggi dan berbagai merek dari belahan dunia.
Dua Minggu ini dia akan pulang dan beristirahat di apartemen lalu melanjutkan hafalan surat pendek, David sudah hafal surat As-syamsi yang selalu dibacanya ketika sholat subuh. Dia juga menyempatkan diri untuk melakukan sholat Sunnah Dhuha sebelum memulai aktivitasnya.
Setelah melaksanakan sholat zhuhur berjamaah, David berniat untuk membujuk Celine agar berbesar hati mempertemukan dia dengan Arsya. Dalam doa David, dia meminta kepada Allah dipermudahkannya untuk bertemu dengan buah hatinya.
__ADS_1
Duduk di teras mesjid sambil menatap langit cerah ini, David menutup mata melafalkan doa kepada Allah. Dia kembali membuka mata lalu mengambil sepatu yang terletak di bagian tangga mesjid.
David melihat seorang anak laki-laki seumuran dengan anaknya berdagang di sekitaran masjid tersebut, Anak itu menjual rempeyek yang terlihat masih banyak.
David langsung membeli makanan khas itu, dia langsung memborong jualan anak itu. David sempat bertanya kepada anak yang bernama Andri, hasil jualan ini digunakan untuk apa. Anak itu bercerita jika ibunya menderita kanker payu-dara ayahnya cuma bekerja sebagai sopir truk pasir yang tidak menentu penghasilan. Mendengar cerita anak itu, David memberikan beberapa lembar uang seratus yang langsung dimasukkan ke saku celana Andri. David berharap uang yang diberikannya bisa digunakan Andri untuk membeli obat ibunya, David juga meminta alamat rumah Andri. Air mata Andri mengenak di matanya, masih ada orang berbaik hati menolong dia dalam keadaan ekonomi serba terbatas.
Rempeyek itu langsung David bawa ke dalam mobilnya, David juga mengantar Andri menuju rumahnya. Jarak rumah Andri dengan Mesjid tadi sepuluh kilo meter, Andri berjalan dari rumah untuk menjajaki dagangannya. David tidak bisa berlama di rumah Andri, hatinya merasa tidak karuan setelah mengantarkan Andri tadi. Bukan masalah yang diceritakan Andri tapi David tiba-tiba ingin bertemu Arsya walaupun nantinya akan di tolak oleh Celine.
Ponselnya berdering sejak tadi, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenalnya. David tanpa pikir panjang menekan tombol hijau untuk menghubungi kembali nomor itu.
"Assalamualaikum..." Suara David menyapa penelpon di seberang sana.
"Waalaikumsalam...David ini aku Celine.....bisa datang ke rumah sakit RSPAD....Arsya kecelakaan..dia butuh darah AB+...sekarang waktu kamu untuk bisa menjadi ayah yang sesungguhnya."
Detak jantung David bertabuh dengan kencang setelah mendengar langsung berita yang diucapkan ibu dari anaknya.
David memacu kendaraan menuju rumah sakit yang disebutkan Celine, ada dua perasaan yang dirasakan David saat ini. Pertama dia bahagia Allah menjawab doa yang selama ini dipanjatkannya, kedua dia sangat bersedih karena anaknya harus merasakan kecelakaan.
"Ce...Celine...dimana Ar...sya... sekarang." Nafas David naik turun untuk memastikan keadaannya anaknya.
"Arsya sekarang di ruangan UGD...untuk pemeriksaan apakah ada tulangnya yang retak.". Andi menjawab pertanyaan David, Celine masih tergugu dengan kejadian di mata kepalanya Arsya tertabrak oleh sepeda motor yang melaju dengan kencang.
David mengusap wajah dengan kasar, dia belum sempat minta maaf kepada Arsya, memberikan kasih sayang yang tertunda dan mengatakan jika dia selalu menjadi pahlawan Arsya.
David beristighfar dan berdoa dalam hatinya agar proses pemeriksaan ini secepatnya selesai, apapun kondisinya nanti David akan memberikan seluruh hidupnya bahkan nyawanya untuk Arsya.
Pintu UGD terbuka, dua orang dokter keluar dari ruangan itu. Keduanya menghampiri orang tua anak yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Orang tua Arsya Rahman." Suara Sifa mengejutkan David yang terdiam duduk di bangku dekat ruangan UGD.
__ADS_1
"Apakah sudah mendapatkan golongan darah AB+...Arsya banyak kehilangan darah...kami sedang berusaha mencari di PMI pusat."
"Saya siap untuk mendonorkan langsung....Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk anak saya dokter." David berdiri menghampiri Sifa dan dokter Emilia ibu Sifa yang menjabat sebagai spesialis bedah anak.
Sifa terkejut dengan keberadaan David di rumah sakit ini, dia sudah dua Minggu tidak bertemu dengan David. Emilia juga tak kalah terkejut jadi anak yang di maksud David waktu itu adalah Arsya, tadi dia berpikir ada kejanggalan ketika memeriksa Arsya seperti mirip seseorang.
"Kedua orang tua Arsya Rahman ikut Dokter Anashifa dulu...untuk mendengarkan penjelasan kondisi Arsya sekarang." Ucap Emilia menyuruh David dan Celine untuk mengikuti Sifa ke ruangan perempuan itu.
Sifa membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan keduanya masuk, ruangan itu sangat luas dengan berbagai alat medis di dalamnya.
"Silahkan duduk dulu bapak ibu...saya perlu berbicara tentang kondisi Arsya." Sifa mengambil dua air mineral yang selalu tersedia di sana.
"Kenalkan saya dokter Anashifa Robbi Prayoga spesialis radiologi."
"Saya Celine Paramitha ibu dari Arsya." Celine gugup dihadapan dokter perempuan ini, dia takut mendengar hal terburuk tentang Arsya.
"Saya David Morales...ayah biologis Arsya...bagaimana kondisi Arsya sekarang." David tidak sabar untuk mendengarkan ucapan Sifa.
"Begini Bapak dan Ibu...Setelah pemeriksaan CT scan...Arsya mengalami keretakan tulang bagian tungkainya...Kami akan memasang gips..pada bagian kepala tidak mengalami cidera berarti...untung saja kepalanya tidak langsung terbentur ke jalan...Arsya banyak kehilangan darah setelah kecelakaan...Jika bapak ibu sudah menemukan golongan darah untuk Arsya... tindakan selanjutnya akan langsung kami tangani." Sifa menjabarkan kondisi Arsya dengan hasil foto CT scan anak itu.
Celine mengucapkan terima kasih kepada Sifa yang telah memberikan informasi meringankan beban pikirannya, sejak tadi dia sudah kalut yang akan terjadi pada Arsya selanjutnya. Celine lebih dulu pamit untuk bertemu Emilia mendiskusikan kapan pemasangan gips untuk Arsya.
"Saya tidak tahu jika bapak memiliki anak....Bapak sangat mirip dengan Arsya... golongan darah Arsya juga AB+." Sifa melihat David menunduk entah apa yang dipikirkannya setelah mendengar penjelasannya tadi.
"Sifa... tolong berikan yang terbaik untuk anak saya....saya belum mengucapkan minta maaf kepadanya...dia berharap saya akan menjadi pahlawannya...saya baru tahu jika Arsya darah daging saya yang terlupakan selama tujuh tahun ini." tangis David pecah, hatinya hancur mendengar kondisi Arsya.
"Saya akan berusaha...bapak berdoa agar Allah memudahkan untuk kami tenaga medis melakukan tindakan kepada Arsya....dia pasti bangga memiliki pahlawan seperti bapak." Sifa mengusap tangan David untuk menenangkan pria dihadapannya ini.
"Maaf...saya minta maaf tidak sengaja menyentuh tangan bapak." Sifa tersadar dengan tindakannya langsung menjauhi tangannya dari tangan David.
__ADS_1
Ini ujian pertama David saat dia memutuskan hijrah menuju jalan yang diridhoi Allah, apakah Sifa akan menjadi tempat pelabuhan terakhir David? Menemani pria itu sama-sama mengapai ridho Allah.