
Prabu mengadakan pertemuan dengan mitra Kalandra Tecno yang berada di Surabaya. Ketika jam makan siang ia mendapatkan telepon dari Aurora.
"Abang kapan pulang? Abang kok tega sih tinggalin aku?" Prabu sampai tersedak makanan mendengar ucapan Aurora.
"Abang kan udah bilang jika ada pertemuan dengan Mitra Kalandra selama dua hari....Abang pulang besok." Terdengar dengusan keras dari Aurora. "Sekalian ga usah pulang....tutt." Prabu menatap horor ponselnya kenapa langsung mati.
"Aku ga mau tahu pulang sekarang! kalau tidak aku berencana ke Amerika malam ini." Wajah Prabu langsung pucat pasi mendapatkan pesan dari istrinya.
Dimas yang menemani Prabu dalam pekerjaan ini menatap big boss yang berubah pucat. "Pak ada sesuatu terjadi di rumah? kenapa wajah bapak pucat?" Dimas menegur Prabu yang terkulai lemas di kursinya.
"Kamu carikan penerbangan sore ini... saya harus kembali ke Jakarta....Nanti jika pihak mitra menanyakan keberadaan saya....kamu buat karangan indah yang menyakinkan." Prabu mengalah dengan keadaan ia tidak ingin kehilangan Aurora.
"Abang akan pulang sekarang....Kamu stay di apartemen dengan anak-anak! " Prabu membalas pesan untuk istrinya agar niat Aurora untuk pergi diurungkan.
Akhirnya Prabu kembali ke hotel mengambil kopernya beserta dokumen penting. Dimas menunggu di lobby hotel untuk menerima perintah selanjutnya dari big boss.
"Nanti saya kasih bonus untuk kamu....Saya harus pulang ke Jakarta karena Urgen." Prabu masuk ke dalam mobil hotel yang mengantarkannya menuju bandara.
Dua jam kemudian Prabu mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Pak Maman sudah menunggu di ruang tunggu kedatangan.
"Pak selama saya pergi ada sesuatu yang terjadi dengan ibu?" Prabu ingin tahu apa yang terjadi dengan Aurora selama ia tidak berada di Jakarta.
"Tidak ada tuan....tapi ibu sering meminta saya membelikan ice Cream kesukaannya sehari tiga kali." Pak Maman menatap Prabu dari kaca spion depan.
Prabu tercegang mendengar cerita sopir istrinya. Ada apa dengan Aurora kenapa nafsu makan semakin hari meningkat dan ada beberapa bagian ukuran tubuh istrinya membesar. Sejak kepulangan dari rumah mertuanya Aurora selalu mengajaknya bercinta setiap hari.
"Pak nanti mampir ke supermarket saya mau membeli sesuatu." Prabu pusing dengan tingkah istrinya saat ini. Ia perlu kopi untuk bisa berpikir jernih menghadapi sifat Aurora.
Prabu masuk ke supermarket mencari sesuatu yang ia inginkan dan membeli beberapa cookies kesukaan Keluarganya, ia tidak tega tidak membawa buah tangan dari perjalanan ke luar kota.
Prabu masuk ke unit apartemennya dilihatnya istrinya dan kedua anaknya sedang menonton serial kartun Upin Ipin. Mereka tidak menyadari kedatangan Prabu, Ia mengendap-endap untuk memberi kejutan untuk istrinya.
Prabu bersembunyi di balik sofa yang diduduki Aurora. Ia menarik rambut istrinya dengan lembut. "Mbak Embun kenapa rambut Buna ditarik?" Aurora menatap Embun yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku ga mungkin menarik rambut Buna tangan aku di rambut Ade." Embun terkejut Aurora yang menuduhnya menarik rambut ibunya.
"Mbak Embun....Buna kok merinding ya....seperti ada makhluk astral gitu." Aurora merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Bunaaaaaaaaa aku takut.....Buna jangan tinggalin kita." Embun langsung merapatkan tubuhnya ke arah Aurora.
"Mbak Mbum Kenapa?....Upin Ipin ga Selem...kok takut sih." Arumi menatap Embun dan Aurora yang ketakutan.
"Kita ke kamar aja yuk....atau kita ke Amerika aja ya....Buna udah siap untuk langsung pergi." Aurora akan membalas kejahilan Prabu, Ia sebenarnya tahu kedatangan suaminya.
"Buna aku mau ke Amerika aja....ga mau tinggal disini banyak hantunya....Ade ikut Mbak ya....ayo kita siap-siap." Tadi Aurora memberi kode jika Papi mereka berada dibalik sofa.
"Janggggggannnnnn...... kalau kalian Keluar Papi ga akan izinkan." Prabu muncul sambil berteriak. Ternyata senjata makan tuan.
"Papi........Bunaaaaa bilang tadi ada hantu.... papi ketemu dengan hantu tadi?" Arumi berlari memeluk bapaknya.
"Hantunya udah pulang ke goa....sekarang udah aman." Prabu merasa bersalah Keluarga ketakutan karena kejahilannya.
"Alhamdulillah lancar.... Abang belum makan dari siang....kamu masak apa emang?" Prabu menuju meja makan untuk melihat hidangan makanan buatan Aurora.
Arumi dan Embun sibuk membuka beberapa kantong yang berisi makanan dan oleh-oleh yang dibawa Prabu. Aurora mengikuti suaminya yang berada di meja makan.
"Aku buat ikan tuna kuah kuning....Abang mau minum apa?" Aurora menghidangkan masakan kesukaan Prabu.
"Air jeruk panas.... Setelah makan Abang mau bicara sama kamu di kamar." Prabu menyantap nikmat makanan buatan Aurora.
Aurora tahu pasti mendapatkan ceramah dari Prabu karena memintanya kembali pulang ke Jakarta dengan ancaman. Aurora langsung lesu kenapa suami berubah dingin karena permintaan yang ingin Prabu disisinya.
Aurora mengajak kedua anak segera tidur karena hari sudah larut malam. Aurora menceritakan tentang kisah hidup seorang prajurit berkaki satu yang pernah diceritakan ayahnya dulu. Setelah melihat kondisi kedua anaknya aman Aurora memperbaiki selimut dan mematikan lampu kamar.
Masuk ke kamarnya Prabu sudah selesai mandi. Ia sedang memakai celana boxer dan baju kaus. Mata Aurora seperti tersihir melihat suaminya malam ini begitu tampan.
"Sini duduk." Aurora bisa merasakan aura kemarahan yang dikeluarkan Prabu. Ia mengikuti Prabu yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Reditha....aku ga tahu maksud kamu mengancam aku tadi....Kamu tahu berapa kerugian aku kehilangan mitra." Prabu sejak tadi sudah menahan emosi dengan kelakuan istrinya. Ia tidak mungkin langsung marah dihadapan anaknya.
Mata Aurora berkaca-kaca mendengar ucapan dingin dari suaminya. "Jika permintaan aku bisa merugikan untuk perusahaan Abang....aku minta maaf....salah jika aku merindukan suami aku." Aurora berdiri meninggalkan Prabu yang menatapnya dingin.
Aurora naik ke tempat tidurnya mengulung semua tubuhnya yang bergetar menahan tangis. Prabu mengusap wajah dengan kasar, Ia keluar kamar menenangkan perasaan yang masih emosi.
Prabu menatap kota Jakarta dimalam hari pikiran masih melayang memikirkan sifat istrinya yang berubah cengeng dan manja bukan Reditha Aurora sama sekali menurutnya. Selama setengah jam berdiri di balkon ia kembali ke kamar untuk tidur.
"Ini kenapa sih closed ga bisa pus keluar air....Abang Gaza bantu aku." Prabu bisa mendengar teriakan Aurora dari kamar mandi. Jam menunjukan pukul empat pagi.
"Ada apa? Kamu bisa ga tidak teriak....aku masih bisa dengar....Aku ini suami kamu tidak perlu berteriak kencang...jelas!" Prabu menghampiri Aurora, wajah istrinya tidak enak untuk di pandang.
"Kenapa sih....Abang berubah dingin....udah bosan sama aku." Aurora menghentakkan kakinya kesal sikap suaminya.
"......" Prabu hanya diam memandang istrinya yang kesal.
"Airnya ga bisa keluar.....jijik aku lihat belum disiram pipisnya....itu kenapa aku panggil Abang." Aurora meninggalkan Prabu yang tidak bergeming mendengar ucapannya.
Karena masih kesal Aurora mandi di kamar lain dan bersiap menuju Sara building kantor baru Sara Grup. Aurora pergi dengan kedua anaknya tanpa mengucapkan pamit kepada Prabu karena kesal dengan ucapan suaminya.
Sehari ini mood Aurora turun drastis Prabu tidak sekali pun menghubunginya. Ia sudah menanyakan kepada Serena keberadaan kakaknya tapi jawaban tidak tahu pergi kemana.
Aurora kembali ke apartemen untuk mencari keberadaan Prabu. Pikiran sudah berkelana kemana-mana. Tanpa permisi air mata menetes karena teringat bentakan pertama kali yang diucapkan Prabu.
Aurora meletakan tasnya di sofa keluarga. mencari setiap ruangan apartemen ini, tidak melihat keberadaan Prabu. Ia menoleh ke meja makan ada sebuah kotak berpita. apa mungkin Prabu berkhianat, Kotak ini seperti kotak perhiasan.
"Buka isi kotaknya....kamu hubungi Abang langsung" Aurora membaca note yang tertempel di atas kotak itu.
Prabu suka main teka-teki Aurora udah turun hujan seperti Arumi. Jika benar dugaan Aurora jangan sampai lepas Prabu dari kadang Aurora.....
🌹🌹🌹🌹
vote like and komentar raider tercinta
__ADS_1