
Sifa dan Emilia sudah berganti baju dengan pakaian steril, keduanya ditemani dokter anastesi dan ahli bedah.
Kedua masuk setelah berpasan dengan David, Celine dan Andi yang menunggu di depan ruangan operasi. Jantung David berdebuk kencang melihat lampu ruangan operasi menyala.
"Bapak silahkan pakai ruangan saya untuk sholat dulu.. doa bapak semangat Arsya bisa melewati ini... Allah maha tahu untuk Hamba-Nya." Sifa menyerahkan sajadah yang biasa dipakainya untuk sholat.
"Terima kasih Sifa...kamu telah mengingatkan saya...memberi semangat melewati ujian ini." David berlalu masuk ke kamar mandi yang berada di ruangan dokter itu.
Sifa pamit sebelum David berwudhu, dia tidak ingin jika nantinya wudhu pria itu batal karena melihat Sifa masih berada satu ruangan.
David masih mengigat kejadian satu jam lalu, perempuan itu menyentuh punggung tangannya untuk menenangkan perasaannya, berbeda dengan wanita biasa yang menemani David selalu menyentuh dengan gaya sen-sual.
David mengigat betul nama perempuan yang baru masuk ke ruangan operasi anaknya. "dr.Anashifa Robbi Prayoga.Sp Rad" David membaca papan nama perempuan yang berprofesi dokter itu.
Dia tidak tahu jika Sifa dan Emilia dokter, David terpikir jika Sifa hanya seorang pengajar di rumah singgah. David bisa menilai jika Sifa bukan tipe perempuan bergaya glamor, hanya jam tangan biasa di pakai Sifa untuk menghiasi pergelangan tangannya. Jam tangan yang bisa David beli sebayak seratus buah senilai dengan jam tangan mewah miliknya.
David terus melafalkan doa agar tindakan operasi Arsya segera selesai, setelah melakukan donor darah tadi dia ingin menunggu langsung operasi Arsya.
"Bapak David... istirahat dulu mungkin satu jam lagi akan selesai operasinya...ada kantin di lantai dasar." Andi menyapa David yang sejak tadi gelisah menanti berakhirnya operasi ini.
__ADS_1
"Saya gapapa menunggu di sini saja...jika Mas Andi dan Celine mau istirahat dan sholat dulu...kita gantian...saya ga bisa meninggalkan ini" David melihat Andi dan Celine akan beranjak dari tempat duduk mereka.
"Kalau begitu saya permisi dulu... Celine juga butuh tenaga...saya duluan." Andi dan Celine meninggalkan David sendirian di ruangan Operasi ini.
David menoleh ke arah lampu ruangan itu belum berubah sama sekali masih berwarna merah, terkenang wajah Arsya yang memberikan sebuah permen Minggu lalu. Sekarang tubuh anak itu merasakan pisau bedah, terlalu dini Arsya merasakan sakit yang luar biasa. Jika bisa David lebih baik berada di dalam sana, hatinya menyerit merasakan penyesalan yang tiada berujung ini.
Jika saja dia tidak meminta Celine menggugurkan darah dagingnya tujuh tahun lalu pasti sekarang dia sudah di panggil ayah oleh anaknya, David sadar dengan perbuatannya selama ini. Allah kembali menegurnya lewat anak kandung, bahwa perbuatan di masa lalu bisa berakibat di masa depan.
Baru saja David akan mengangkat kepalanya, lampu ruangan berganti menjadi Hijau menandakan operasi telah selesai, Andi dan Celine juga sudah berada di sana.
Sifa dan Emilia keluar di ruangan operasi sambil membenamkan pakaian, keduanya membuka masker untuk memberitahu kondisi Arsya.
"Terima kasih dokter...semoga Arsya cepat siuman... ini sebuah keajaiban bagi kami semua." David melafalkan rasa syukur atas keberhasilan tindakan operasi Arsya.
"Sudah menjadi tugas kami...Kami permisi dulu." Emilia menarik Sifa yang sejak tadi menunduk tanpa ingin melihat tatapan binar seorang David Morales.
"Celine...bolehkah saya untuk memesan ruang perawatan VVIP...saya mau Arsya mendapatkan perawatan yang ekstra." David menoleh ke arah Celine, walaupun perempuan tidak pernah menatapnya tapi anggukan sudah menjadi jawaban bagi David.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya...Mas Andi Terima kasih untuk selalu berada bersama Arsya...saya banyak berhutang kepada Mas Andi."
__ADS_1
"Bagi saya Arsya tidak akan lagi merasakan kehilangan sosok ayah...kita sama-sama memberikan yang terbaik untuk Arsya."
David langsung mengurus ke bagian Administrasi untuk pemindahan ruang perawatan Arsya. Dia akan memberikan apapun untuk buah hatinya, anaknya akan mendapatkan kasih sayang jutaan kali dari sebelumnya.
Arsya sudah berada di ruang perawatan, kaki bagian kanan terlapisi oleh gips. Ada selang infus yang menancap di tangan bocah itu, David yang melihat anak berumur tujuh tahun itu harus melewati hal terberat ini.
"Mommy....."Suara Arsya mengejutkan ketiga orang yang berada di ruangan itu.
"Iya...Anak Mommy paling ganteng." Celine dengan cepat menghapus air matanya, dia tidak tahan melihat kaki Arsya terbalut gips.
"Aku ketemu Papa...dia sendiri dan nangis...aku kasian...aku mencoba untuk memeluk tapi Papa bilang...dia tidak pantas jadi Papa aku... Mommy aku kasian lihat Papa." Arsya menatap ibunya yang penasaran mendengar cerita dari siuman Arsya.
"Kamu bermimpi tentang seseorang? Ayah kah? kamu maksud." Andi juga penasaran dengan cerita Arsya.
"Bukan Ayah....aku pernah lihat Papa di kantor ayah....dia Om David...Mommy kenapa Om David bisa jadi Papa aku." Arsya meminta jawaban dari Celine, dalam pengaruh bius dia menceritakan ketika Arsya tertidur begitu lama.
Nafas kedua orang itu tercekat bagaimana untuk menjelaskan hubungan rumit yang mereka jalani, Satu sisi Celine sudah lama ingin memberitahu jika Arsya memiliki ayah kandung sebelum kedatangan Andi. Celine selalu mengarang cerita jika ayah kandung Arsya pergi ke luar angkasa untuk sebuah misi, jika sudah selesai ayah Arsya akan bertemu dengannya.
David tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungannya dia dengan ibu Arsya di masa lalu, apalagi David dulu tidak menginginkan kehadiran Arsya.
__ADS_1