
Persiapan Pernikahan David dan Sifa hampir sembilan puluh persen, Kedua keluarga hanya mengundang beberapa tamu penting dan selebihnya hanya pihak keluarga inti David dan Sifa.
Hari ini David akan pergi ke rumah Celine bersama Sifa untuk menjemput Arsya, Karena tidak ada yang menjaganya, Celine dan Andi sedang melakukan sidang pra nikah di Kantor Urusan Agam.
"Selamat pagi." Sapa David ketika Sifa masuk ke dalam mobilnya.
"Pagi..Ba...." Ucapan Sifa terputus ketika David menggelengkan kepala, Ada yang salah dalam panggilan Sifa terhadap David.
"Kita sebentar lagi mau jadi suami istri...Kamu masih panggil Aku dengan bapak gitu....Bapak kamu kan Prayoga bukan Bilal Yusuf." Wajah David sudah di tekuk mendengar panggilan Sifa yang belum berubah.
Sifa heran dengan perilaku David akhir-akhir ini, pria itu mudah merajuk jika kemauannya tidak dituruti. Sifa seperti memiliki adik setelah Zulaikha dalam menghadapi David yang sekarang pikirnya.
"Selamat pagi Mas Yusuf..... Anashifa udah di sini."
Senyuman pria itu terbit, Ingin sekali David mencium bibir yang menggucapkan namanya dengan suara lembut itu. Tapi dia ingin menjadi laki-laki yang bisa menahan keinginannya terhadap perempuan, dia mencoba mengubah perilaku untuk yang lebih baik.
"Selamat pagi sweety." Balas David, memberikan ciuman jarak jauh, Hati tidak bisa berbohong ingin memberikan ciuman tapi apa daya, kunci perubahan ada di tangan Sifa.
"Mas...Mbak Celine udah tahu kalau aku mau jadi Mamanya Arsya.... takutnya dia ga menerima aku." Ada ketakutan Sifa jika Celine tidak menerimanya sebagai ibu sambung Arsya.
"Seminggu lalu dia udah tahu kok....aku juga udah dapat imbalan yang setimpal dengan perilaku tujuh tahun lalu."
Sifa menoleh ke arah David, memang Seminggu lalu mengatakan akan bertemu Celine dengan keluarga wanita itu untuk meminta maaf atas perilakunya meninggalkan Celine dalam berbadan dua.
"Maksudnya?" Tanya Sifa yang tidak mengerti arah pembicaraan David.
"Aku datang langsung ke rumah Papa kandung Celine....Fakta yang harus aku tahu jika Papa Celine mengusir dia setelah kejadian tujuh tahun lalu....Aku langsung dapat tendangan dan pukulan dari stik golf milik Papa Ferdi."
Sifa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, David tidak datang lebih seminggu ke rumahnya, biasanya David akan di temani Radityo atau Malik untuk mengurus keperluan persiapan pernikahan.
"Mas kenapa ga cerita ke aku....Aku seperti ga berguna aja tau."
__ADS_1
"Gapapa....Aku harus laki menghadapi kesalahan di masa lalu...seperti sekarang menerima Mas Andi sebagai ayah sambung Arsya."
David tidak ingin meminta banyak, sudah diperbolehkan bertemu setiap hari dengan Arsya sudah bersyukur.
Tidak ada obralan setelah itu, David dan Sifa langsung ke rumah Celine yang berada di kawasan Mampang. Pria ini akan senang jika Arsya menyambut kedatangannya, seperti ada aliran listrik yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Papa....Aku udah siap....aku izin Mommy dulu." Arsya memanggil Celine yang berada di dapur, dia sedang berbicara dengan Bibi Tina.
"Masuk dulu...David...Sifa...aku juga lagi nunggu Mas Andi." Celine masuk ke ruang tamu, sepertinya perempuan itu bersiap akan pergi.
Tak lama Andi datang dengan Pelangi, pria itu harus membawa Pelangi karena anaknya ingin pergi les private.
"Kami pamit dulu ya....Aku bawa Arsya...Nanti aku antar sore." David menuntun Arsya untuk memakai tas punggung yang bergambar Transformers itu.
"Malam ini biarkan Arsya bersama kamu...katanya dia juga ingin tidur dengan Papanya...Aku dan Mas Andi harus ke makam Mama."
"Boy....Malam ini kamu tidur dengan Papa ya...jangan nyusahin Papa ya... Mommy udah Kabulkan permintaan kamu." Pesan Celine melihat anaknya yang antusias pergi dengan David.
"Iya...Aku sayang Mommy dan Ayah....Papa dan Mama." Anak itu sejak dini sudah diajarkan untuk menerima keadaan.
Arsya duduk di bangku penumpang, dia yang memilih karena ingin bermain action figur yang dibelikan David untuknya.
"Kamu kok diam sejak dari rumah Celine tadi?" David merasa heran, kenapa Sifa mendadak menjadi pendiam.
"Mas Cinta dengan Mbak Celine? aku hanya ingin memastikan perasaan aku tidak bertepuk sebelah tangan."
Bola mata David membulat sempurna, pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh David, bagi David untuk menebus kesalahannya tidak perlu menjadi suami dari Celine, karena wanita itu tampak bahagia dengan pria pilihannya, sedangkan David sudah melamar Sifa tidak mungkin dia mempermainkan perasaan perempuan yang baik hati ini.
"Kenapa nanya gitu? kalau aku cinta dia....udah dari pertama kali aku mengetahui keberadaan Arsya untuk berjuang mendapatkan cinta dia...tapi nyatanya kan ga....Aku hanya menghormati Celine sebagai ibu dari anakku tidak lebih."
Sifa takut jika nantinya dia mendengar fakta lain dari bibir David maupun Celine, wajar saja dia masih muda. Jarak umur Sifa dan David delapan tahun, dia tidak ingin salah memilih pasangan yang masih menyimpan perasaan pada masa lalunya.
__ADS_1
"Sweety...dengarkan aku....Aku bajingan itu dulu sebelum ketemu kamu....Kamu yang merubah aku ke arah lebih baik...jadi pria paling bodoh aku jika melepaskan kamu.... Allah yang menjodohkan kita...Tujuan aku menikahi kamu untuk beribadah karena menikah adalah ibadah terpanjang." Jelas David yang mengetahui kegalauan hati Sifa.
"Aku takut Mas poligami...aku ga siap dengan itu."
Helaan nafas panjang keluar dari mulut David, ini cobaan menuju menikah, dia tidak boleh emosi. "Jika Mas berkhianat kamu bisa menyuruh Abi untuk memeng-gal kepala Mas." David mengeratkan pegangan pada stir mobil. "Hanya kamu yang menerima pendosa ini...Aku yakin pasti kamu tahu banyak masa lalu aku."
Sifa menyesali mengucapkan kalimat yang menyinggung perasaan David, dia hanya takut David akan berpaling.
"Aku minta maaf atas ucapan aku tadi...Mas Yusuf...aku percaya kalau Mas Yusuf menjadi jodoh terbaik yang diberikan Allah."
"Sifa....Jangan pernah ragu dengan perasaan aku.. kamu itu obat aku."
David berhenti di sebuah restoran mewah, dia sudah reservasi ruangan untuk makan bersama Sifa dan Arsya.
Pria itu sudah seperti famili man, David dengan cekatan mengurus Arsya yang sudah mulai lancar berjalan pasca kecelakaan.
"Sendiri saja...Pak Danu? Lagi nunggu siapa?" David melihat seseorang yang dikenalnya.
"Saya lagi nunggu Prabu dan Ditha...kamu mau makan ya? Gabung saja ya...saya udah lama nunggu si Prabu dari tadi." Danu menawarkan David ikut bergabung dengannya yang duduk sendirian.
David dan Sifa akhirnya menemani Danu yang sendirian. "Kenalkan ini Pak Danu Kalandra... Atasan aku di kantor."
"Salam kenal Bapak Danu...Saya Anashifa Robbi." Sifa menangkup kedua tangannya untuk berkenalan dengan Danu.
"Saya Danu Kalandra." Menjawab tenang, dia menatap lama David dan Sifa yang yang ingin ditanyakan kepada David tapi diurungkan.
"Papa udah lama? Maaf ya aku tadi jemput Arumi dan Embun." Suara laki-laki lain menghampiri meja Danu Kalandra.
"Lumayan...Untung ada David di sini."
Pria yang bernama Prabu itu menoleh ke arah David dan Sifa, tak jauh dari Prabu ada sosok perempuan yang menghampiri meja mereka.
__ADS_1
"Papi...kenapa Si Arsya ada di sini....aku sering dijahili si Boy ini." Arumi tidak senang melihat Arsya yang duduk tenang di samping David.
"Aku ke sini duluan... Papa dan Mama aku juga mau makan...bukan hanya kamu saja Arrrrummmi." Melihat Arumi, Arsya sudah kembali menjahili anak perempuan itu.