Aurora Marriage

Aurora Marriage
Si Hitler Kuda Jantan


__ADS_3

Embun dan Arumi memakai safety protector, bersiap untuk menunggangi kuda, Kuda jantan bernama Hitler, Kuda berumur lima belas tahun.


"Arumi tunggu ya...Buna mau mengajari Mbak Embun naik kuda" Aurora membantu Embun naik kuda ini.


"Rara ini tidak akan jatuhkan, Abang takut jika Embun dan Arumi naik kuda" Prabu khawatir melihat kedua anaknya antusias naik kuda.


"Abang percaya sama aku...disana juga ada pelatih kuda Keluarga ini" Aurora menunjuk pria paruh baya yang mengeluarkan seekor kuda jantan.


Aurora menuntun Embun cara berkuda dengan baik, memegang talinya dan posisi duduk dalam berkuda. Arumi tidak sabar ingin mencoba naik kuda.


"Arumi naik bersama Buna kita iringi Mbak Embun berlatih" Aurora berkuda bersama Arumi melihat Embun berlatih dengan Pak Zaki, Pelatih berpengalaman selama dua puluh lima tahun.


lebih dari satu jam Ketiga berkuda, Prabu hanya menonton dari pinggir lapangan, dia tidak berani naik kuda takut jatuh.


"Buna...besok ajak lagi kesini ya....Si Hitler jinak juga tadi" Embun turun dari kuda, memberikan kembali ke pak Zaki.


"Mbak senang main kuda, si Hitler untuk kamu saja Buna kasih" Aurora mendengar teriak gembira dari Embun.


Menjelang sore mereka semua berkumpul didekat helipad, pemandangan kota hujan terlihat dari rumah ini.


Mereka berempat membuat acara piknik dadakan, dibentangkan tikar dan beberapa cimilan pengisi perut, Prabu mendirikan tenda gunung yang dipinjamnya dari Antariksa.


"Sekarang kita main Truth or dare siapa yang kalah akan Buna kasih pilihan kejujuran atau tantangan..... setuju" Aurora mengambil botol soda kosong.


Aurora memutar botol hingga berhenti, ujungnya berada tepat didepan Prabu.


"Abang pilih jujur atau tantangan"


"Kejujuran"


"Abang Gaza tempat yang belum pernah untuk dikunjungi selama ini apa?"


"Tempat kenangan kita berdua" Prabu menjawab cepat pertanyaan Aurora.


"Kenangan?"Embun memotong ucapan Prabu.


"Iya....Papi dan Buna dulu sering mengunjungi sebuah tempat, disana banyak kisah Papi bersama Buna kamu.....Mami Wida tidak tahu tempat itu"


"Aku boleh kesana seperti apa tempatnya"

__ADS_1


"Tentu kita akan melihat bintang langsung"


Prabu tidak sabar mengajak Aurora ke apartemen lamanya yang telah direnovasi setelah mengetahui rahasia yang disimpan Aurora.


Prabu memutar botol tepat ujung botol mengarah ke hadapan Embun.


"Mbak Embun pilih jujur atau tantangan" Ucap Prabu ini kesempatan untuk mengungkapkan isi hati anaknya.


"Kalau aku jujur ada hadiah ga? kalau tentangan melakukan Apa?" Pilihan Ganda ternyata hebat juga anak ini.


"Kalau jujur Papi akan mengabulkan permintaan Mbak Embun jika tantangan mencari kutu Si Hitler" Prabu tahu kuda tadi sangat bersih tidak mungkin ada kutunya.


"aku pilih jujur kalau gitu"


"Mbak selama tinggal dengan Pepo Memo makan berapa kali sehari?" Prabu berusaha tenang untuk memberi pertanyaan untuk Embun.


"Satu kali....itu malam hari kalau makan bersama...kalau tidak ada makanan bibi cuma bikin susu panas untuk aku"


"Mbak Embun kalau sekolah pernah dibikinin bekal atau dikasih uang jajan lebih" Aurora bertanya kepada Embun gadis pendiam ini.


"Aku ga pernah bawa bekal, Untuk uang jajan dikasih cuma bisa sampai makan siang...aku pulang sore terus"


Mata Prabu membesar mendengar cerita anaknya, untungnya Arumi bermain didalam tenda yang dipasang Prabu.


"Tante Lisa mencubit aku kalau tidak mau bermain dengan anaknya, Si Aurel sering jahatin aku...mengambil mainan pemberian Papi"


Aurora mendengar cerita Embun langsung memeluk tubuh kurus itu, berbeda dengan adiknya yang gembul.


"Mbak kenapa tidak pernah cerita sama Papi"


"Pepo Memo mengancam jika aku cerita tidak akan pernah ketemu Papi lagi, Pepo akan membawa aku ke luar negeri dijual perdagangan anak...hwa....hwa...aku tidak mau lagi tinggal disana Papi....aku mau menyusul Mami aja gitu" Tangisan Embun menyayat hati keduanya.


Prabu geram dengan orang tua Wida, apa yang mereka ingin sebenarnya dari Prabu, dulu memaksanya untuk menikahi Wida.


"Mbak Mbum Napa nagis....air mancul banyak-banyak" Arumi keluar dari tenda persembunyiannya.


"Mbak Embun nangis karena bahagia Buna kasih kuda jantan untuk Mbak Embun" Aurora mengalihkan perhatian Arumi melihat Embun menangis cegukan.


"Mbak Minggu ini ujian kenaikan sekolah, selesai ujian Nena mau ke Belanda Mbak Embun dan Arumi mau pergi?" Aurora teringat Mama Sarah memang akan pulang menemui orang tuanya, setelah keberangkatan Raditya ke Nepal.

__ADS_1


"Mau.....tapi aku ga dijualkan" Masih dengan cegukan Embun mengangguk usulan Aurora.


"Ga mungkin....Nena bisa digantung Atuk di batang toge..Mbak percaya Buna disana banyak teman seusia kalian berdua" pemikiran anak ini pasti dijual melulu.


"Abang Gaza Embun dan Arumi ada paspor, kita akan diskusi dengan Mama dan Ayah pasti ada yang salah dengan keluarga Mbak Wida" Prabu setujui usulan istrinya, mertua seorang TNI bagian kopassus pasti tahu taktik menghadapi lawan.


Embun masih memeluk Aurora,matanya bengkak kelelahan menangis.


botol kembali berputar kini berada disisi Aurora.


"Kejujuran atau Tantangan Rara"


"Kejujuran"


"Harapan kamu dengan pernikahan kita" Prabu bersiap memasang telinga, Aurora tersenyum melihat kelakuan Prabu, walaupun sudah berumur namun kelakuannya seperti remaja baru jatuh cinta.


"Aku berharap menjadi Pelangi setelah hujan badai....Kedatanganku membawa kebahagian untuk Abang, Embun, Arumi dan anak kita lainnya" Pipi Aurora memerah mengucapkan kata anak kita.


"oh iya... Serena memberikan tiket perjalanan selama dua Minggu....apa kamu mau pergi bersama Abang....jadwalnya ketika Embun libur sekolah....Embun dan Arumi pergi bersama Mama, kita juga berangkat"


"Aku siap kapan Abang ajak pergi.... Akhir bulan ini ya" Aurora melihat tiket yang diberikan adik iparnya.


"Ya udah semua udah kebagian permainan ini....kita masuk udaranya dingin, Abang takut Arumi kedinginan" Prabu dan Aurora mengajak masuk ke dalam rumah.


Makan malam penuh kehangatan anggota keluarga lengkap, Antariksa bermain dengan Embun dan Arumi berkejaran antar sesama, umur boleh tua tapi jiwa anak-anak Antariksa tidak pernah memudar.


Aurora dan Prabu masuk keruangan kerja Raditya untuk mendiskusikan tentang keluarga Wida. Ruangan kerja Raditya sangat luas seperti perpustakaan berbagai buku berjejer rapi.


Prabu menceritakan yang dialami anaknya, Raditya dan Sarah terkejut mendengar cerita menantunya.


"Sekarang kita lihat gimana reaksi mereka jika Embun dipindahkan ke sekolah yang direkomendasikan Mama tadi.... Sekolah itu dibawah naungan TNI hanya Keluarga TNI bisa keluar masuk" Raditya membuat langkah taktis untuk permasalahan Prabu.


"Sesuai permintaan Ayah dulu, Aurora akan menempati jabatannya pulang kalian liburan, Dia akan lebih bebas untuk meretas" Raditya tidak lupa kesepakatan dengan keluarga Kalandra saat Lamaran.


"Ayah aku malu sebenarnya menceritakan ini....Aku bersyukur Aurora menerima Arumi dan Embun" Ada perasan minder yang dirasakan Prabu menceritakan Aib Keluarganya


"We are Family Prabu Gaza Kalandra....Siapa Nama keluarga almarhum istri kamu?" Raditya menatap tajam Prabu, Aurora senang tiasa mengengam tangan suaminya.


"Antoni Thanjra" Bunyi gebrakan tangan Raditya mendengar nama yang disebut Prabu.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Ada hubungan apa Antoni dengan Raditya ikut terus ya kisah Aurora Marriage....jangan lupa vote dan like ya...❤️


__ADS_2