Aurora Marriage

Aurora Marriage
Janji adalah hutang


__ADS_3

Prabu tidak tahu jika selama ini Embun tersiksa tinggal bersama keluarga Wida, Anaknya menahan lapar, itu tidak mungkin setiap malamnya dia sering menghubungi mertuanya menanyakan kabar anaknya.


Prabu memijat pangkal hidung, jika Aurora tidak memperlihatkan video tadi mana tahu kondisi anaknya, Prabu lalai memperhatikan Embun, Dia sudah beberapa kali meminta Embun untuk tinggal bersama Namun mertuanya selalu ada alasan agar Embun berada disisi mereka.


"Abang merasa gagal menjadi orang tua....Abang bersalah Ra...Embun dan Wida terluka gara-gara Abang.....Abang percaya kepada keluarga Wida bisa merawat Embun"


"Abang kecewa dengan diri Abang.....Embun darah daging Abang tapi seperti dianaktirikan....Abang harus bagaimana Ra" Prabu menumpahkan tangisan dipelukan Aurora.


Aurora mengusap punggung Prabu menenangkan belahan jiwanya, Dulu jika Prabu bersedih Aurora akan selalu tempat sandaran Prabu.


"Abang Gaza papi yang baik....aku tahu itu....cuma keadaan saja memaksa Abang memberikan kepada keluarga Mbak Wida.....Abang semangat untuk mengambil kembali hak asuh Embun....aku akan berusaha membantu Abang"


tubuh Prabu bergetar menangis, teringat kesalahan dilakukan kepada anaknya, Mendengar kata sial dari mulut Lisa pertahanannya runtuh, Prabu menunggu selama berbulan agar Wida hamil anaknya untuk keluarga kecil mereka.


"Abang Gaza udah baikan....gimana kalau kita jemput Arumi untuk makan siang bersama" Prabu merasa tenang setelah menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada istrinya.


"MiaMor Aurora" Prabu berbisik sambil mengatur nafasnya yang sesak.


Mendengar ucapan sang suami Aurora memberikan kecupan dipipi Prabu, Senyuman Prabu kembali terbit, diberi ciuman oleh istrinya.


"Abang ke toilet dulu cuci muka dulu...Kamu siap-siap jemput Arumi"


Aurora menulis pesan untuk sekretarisnya, Dia ada keperluan mendadak, Hari ini Ia akan memberikan kenangan indah untuk belahan jiwanya.


Lantai delapan sunyi karena semua staf istirahat makan siang, Aurora lega tidak akan ketahuan stafnya nanti.


"Abang nanti kita sholat dulu setelah jemput Arumi"


"Didekat sekolah Arumi ada mesjid disana kita sholat ya"


Tiba disekolah Arumi Prabu masuk ke halaman luas sekolah paud ini, ada beberapa orang tua murid menunggu dipagar pintu masuk. Prabu merupakan donatur tetap paud ini, Dia bisa masuk tanpa harus melaporkan dulu.


"Abang lokal Arumi nomor berapa?" Aurora melepas safety belt Ia akan menjemput langsung Arumi.


"kita pergi berdua aja kejutan untuk Arumi, Nanti kita jemput Embun tadi Abang dapat pesan dari Pak Maman, Ia tidak bisa jemput Embun" Prabu berjalan menuju lokal Arumi.


Aurora melihat Arumi sedang berdoa untuk pulang, teriak suara murid membahana ada aliran kebahagiaan yang dirasakan Aurora.


"Papi.....Buna....emput Lumi" Arumi keluar dari lokalnya melihat kedua orangtuanya.

__ADS_1


"iya...gimana sekolah anak papi hari ini?" Prabu mengacak gemas rambut Arumi.


"Seru....tadi Lumi hambal tentang Family" Arumi merentangkan tangannya.


Prabu tertawa melihat Arumi memberikan gambaran Keluarganya, Arumi memberikan semangat untuknya setelah down melihat fakta yang ditemukan tadi.


"Siang pak Prabu jemput Arumi" Bu indah keluar dari lokal Arumi.


"Ia Bu....saya jemput Arumi, kami berangkat dulu" Prabu melangkah keluar bersama Aurora meninggalkan sekolah Arumi.


Indah terpaku melihat Prabu bersama perempuan tinggi semampai, cantik putih, Arumi memeluk erat perempuan yang dipanggilnya Buna. Dia merasa kalah saing dengan perempuan itu.


Dari pertama bertemu Prabu, indah sudah tertarik, wanita berhijab itu harus menelan kekecewaan karena Prabu telah milik orang lain, tadi Ia melihat cincin melingkar dijari perempuan itu.


"Arumi mau ikut Buna sholat" Arumi ikut berwudhu bersama Aurora.


"Iya Lumi mau sholat Juda....di school diajalin Cala sholat" Arumi mencuci muka setelah itu pergi.


Aurora tersenyum melihat Arumi, gadis berpipi chubby sangat mengemaskan Ia tidak bosan untuk dipandang, wajahnya mirip Prabu versi perempuan.


Selesai sholat Aurora sudah menunggu Prabu didalam mobil, Arumi tertidur dipangkuannya. Prabu keluar dari mesjid, Wajahnya bersinar setelah habis sholat, rambut depan yang masih basah menambah kadar kegantengan Prabu.


"Kita jemput Embun dulu, Tadi wali kelasnya kirim pesan ada rapat majelis guru, semua murid pulang cepat" Prabu masuk sambil memasang safety belt.


"Abang juga berpikir gitu....Dulu Embun sekolah negeri bukan swasta....Wida meninggal keluarganya mengambil hak asuh Embun....padahal Abang tidak kesusahan mengurus keduanya" Prabu menghela nafas, Kini dia harus mengetahui isi hati Embun.


"Aku akan support selalu tindakan Abang" Aurora melihat dadanya penuh pulau buatan Arumi.


sepuluh menit menunggu digerbang pintu masuk, Embun keluar bersama teman-teman, anak itu terlihat lelah seharian belajar.


"Papi jemput aku....bukannya pak Maman" Embun masuk kedalam mobil Prabu.


"Pak Maman pergi ngantar Oma ke rumah sakit, kita pergi makan dulu...Mbak Embun mau makan apa?" Prabu melihat dari kaca spionnya.


"aku mau stik....eh...ada Buna" Embun menyadari keberadaan Aurora dan Arumi yang tertidur didepan.


"Iya Buna dan Ade kamu kelelahan, Mbak mau tidur juga" Prabu melihat Aurora tertidur seperti Arumi, ibu dan anak kompak membuat pulau.


"Papi foto Buna tidur, ini jarang terjadi... langka papi"

__ADS_1


Prabu memfoto keduanya, perpaduan saling melengkapi, Arumi memeluk Aurora dan sebaliknya.


masuk Restoran kawasan Kemang Jakarta Selatan, Prabu memilih tempat privasi untuk keluarganya.


"Rara bangun kita udah sampai" Prabu menepuk bahu Aurora.


"Dimana ini" Aurora membuka mata, melihat kiri kanan.


"Kita di Kemang, Embun mau makan stik" Prabu mengambil Arumi yang tertidur.


"Mbak Embun dari kapan didalam mobil, Buna kok ga tahu"


"udah lama, Buna ketiduran sama Ade....Buna ayo turun" Embun membuka pintu belakang berlari masuk ke restoran.


Prabu memesan tempat privasi dilantai atas, kesekian kalinya Aurora menemaninya makan bersama anak-anaknya.


"stik ukuran medium tiga....small satu....minumannya jus mangga dan apple" Ucapnya setelah memilih menu andalan.


Pesanan mereka datang tiga puluh menit kemudian, Prabu menyuapi Arumi karena belum bisa memegang pisau dengan benar.


"Abang kita ke rumah aku habis ini ya....kita nginap disana besok weekend" Aurora menyelesaikan makan yang tersaji di depannya.


"Buna....janji mau ajak aku naik kuda....kapan?" Embun teringat janji Aurora dua hari lalu.


"Buna tidak lupa gadis manis.... sekarang kita ke rumah Atuk, nginap disana" Aurora merangkul Embun keluar restoran.


"Aku kirain lupa....Buna bisa berkuda? aku ga pernah naik kuda, Papi dan Mami takut naik kuda"


"Pernah dulu waktu Buna sekolah SMP, ikut kejuaraan gitu"


"Wah....Buna atlet berkuda juga..Aku mau seperti Buna" Embun bersemangat mendengar cerita Aurora.


"udah lama ...Buna dulu berkuda di Amerika latihan bersama Aunty Atena....kalau kamu mau nanti Buna ajari teknik berkuda" Aurora sudah lama tidak berkuda, ingat waktu Om Geraldy mengajarinya teknik berkuda.


"Lumi nanti sama siapa....papi tidak bisa naik udaaa"


"Arumi naik kuda bersama Om Anta, Kita akan sama-sama naik kuda"


"Papi kenapa tidak dari dulu Buna datang dikeluarga kita" Prabu tersentak dari lamunannya mendengar ucapan Embun.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Antariksa siap jadi pawang untuk Arumi....jangan ragukan Antariksa 😂😂😂😂


__ADS_2