Aurora Marriage

Aurora Marriage
Jungkir balik dunia pernikahan Prabu


__ADS_3

Prabu mengajak duduk di balkon kamarnya, Ada dua kursi santai dan meja kecil, Aurora belum bisa menghapus keterkejutan melihat Prabu merokok.


"Sejak mengetahui kamu mempunyai trauma Abang berusaha berhenti minum Ra.....Beban tekanan pekerjaan dan keluarga.... Abang mengalihkan pikiran dengan merokok" Prabu merokok diam-diam, Ia tertekan memikirkan Embun, Prabu merasa melalaikan tanggung jawab sebagai orang tua.


"Abang dulu ga pernah aku melihat merokok....kita bisa melewati ini bersama.... rokok itu tidak bagus bagi kesehatan tubuh....Aku lalai memperhatikan Abang." Aurora menghembuskan nafas lelah. "Kamu tidak lalai Ra....Abang terima kasih sebulan ini kamu menjadi istri yang luar biasa" Prabu memandang wajah Aurora, Jari mengusap bekas tamparan mertuanya.


"Kamu kuat Ra....tidak seperti Abang yang lemah.... berhadapan satu musuh tidak sanggup gimana mau bertemu yang lainnya....dari dulu Abang hanya biasa menerima takdir yang Tuhan berikan.....Abang lemah dari dulu Ra" Aurora meneteskan air mata. "Abang menyesal tidak menunggu kamu saja memilih menyelamat sahabat Abang" Prabu menghapus air mata Aurora, Wanita ini tidak akan lemah didepan orang banyak. Aurora jika sedih akan menumpahkan kesedihan kepada orang terkasihnya.


"Maksud Abang?...menyesal menikahi Mbak Wida?" Aurora melihat bola mata hitam pekat, suaminya tidak berhalusinasi. "Ada rahasia Wida yang Abang simpan sampai sekarang Ra." Prabu menyandarkan kepala di bahu Aurora.


"Rahasia?" Keluarga ini kenapa penuh teka teki pikir Aurora. "Rahasia hanya Abang yang tahu Ra....Abang menyelamatkan Weda dari percobaan bu**** **** ....Ia malu hamil duluan" Mata Aurora melotot mendengar ucapan Prabu.


"Ibunya menemui Abang di rumah sakit jiwa ketika Abang masih terapi penyembuhan....Wida meminta Abang menemuinya....Abang sudah menolak tidak ingin bertemu siapapun hanya kamu yang Abang butuh saat itu." Prabu menyeda ucapannya. " Ibunya menangis meminta Abang menemui Wida." Aurora diam seribu bahasa, ia harus mendengar kenangan pahit milik suaminya.

__ADS_1


"Selesai terapi penyembuhan depresi Abang....Wida datang ke rumah Abang menceritakan ia hamil anak Arya...Arya tunangan Wida....tapi harus meninggal karena over dosis obat-obatan" Aurora beristighfar dalam hatinya. "Ia takut orang tuanya tahu jika ia hamil duluan....Wida meminta Abang untuk jadi suaminya....Abang tidak bisa Ra....Kasih sayang seseorang berbeda-beda....Abang menganggap Wida teman dan sahabat tidak lebih Namun kamu beda Rara....Abang tidak bermaksud membedakan kedua istri Abang" Prabu takut istrinya tersinggung.


"Embun bukan anak kandung Abang?" Aurora memotong cerita Prabu. "Anak yang dikandung Wida gugur umur janin itu empat bulan berjenis laki-laki." Prabu kembali melanjutkan ceritanya. "Mama dan Ibu Wida memohon untuk menikahi Wida agar memiliki status....Abang tidak mungkin menolak permintaan Mama yang menangis." Prabu tetap setia bersandar di bahu sang istri.


"Gimana kehidupan pernikahan Abang dulu?" Aurora masih setia mendengarkan cerita suaminya. "Setelah keguguran itu Abang menikahi Wida atas permintaan keluarga kami ...Ibu memberikan obat perangsang ke dalam jus buatannya....Mereka tahu Abang belum bisa menerima pernikahan dengan anaknya...Abang baru menyentuh dia setelah selesai masa nifasnya....Rasanya beda Ra..... walaupun dipengaruhi obat Abang bisa merasakannya jika Wida sudah lama making love bersama Arya"


"Mbak Wida sudah sejauh itu berhubungan dengan Mas Arya....aku tidak percaya kenyataan ini" Aurora menggeleng kepala. "Abang lepas perjaka karena obat sialan itu...Kamu tahu kan kita pacaran tidak pernah melewati batas aku takut jika sex sebelum menikah berakibat fatal untuk kehidupan kita....Wida dan Arya hidup bebas....Sejak tahu mereka pacaran seperti suami istri Abang menjauh Ra.....Abang menepi dari pertemanan kami...Abang bersyukur bertemu kamu malam itu"


"Wida hamil sebulan setelah itu.... Abang penuhi kebutuhan pagan sandang papan....tidak dengan Ranjang" Aurora menoleh cepat, kehidupan pernikahan apa yang dijalankan suaminya. "Gimana Abang menuntaskan hasrat jika tidak menyentuh Mbak Wida." Prabu tahu pasti ini yang akan ditanyakan Aurora.


"Kenapa Abang tidak mengajukan cerai...Abang berhak bahagia" Prabu menghela nafas kembali. " Pernah waktu Embun berumur satu tahun....Abang meminta berpisah baik-baik....Abang akan mencari kamu saat itu Ra....Tapi dia berjanji akan menerima Abang sebagai suaminya dengan sepenuh hati....Namun hanya janji angin surga yang Abang terima.....Dia tidak bisa menjadi istri seutuhnya" Aurora memberikan minum air putih, suara Prabu habis setelah berteriak keras tadi.


"istri seutuhnya maksud Abang menunggu dirumah ketika suami pulang kerja?....memasak makanan kesukaan Abang?....tapi Mbak Wida tidak melakukannya." Prabu mengangguk analisis istri selalu tepat sasaran.

__ADS_1


"Dia tidak bisa memasak Abang terima....Dia tidak bisa membersihkan rumah Abang terima....tapi Abang tidak terima dia berkeluyuran seharian bersama teman-temannya....menghabiskan uang untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan....kami bertengkar hebat saat itu.... Akhirnya dia mengalah mengasuh Embun dirumah....Namun gaya hidupnya harus terpenuhi keluaran jam tangan baru harus dibelikan....tas berharga ratusan juta dimintanya untuk kado ulang tahunnya harus terpenuhi....padahal Abang dulu masih manajer pengembangan" Luka lama kembali menganga rahasia yang selama ini Prabu sembunyikan.


"Sekarang siapa yang lebih hina.....Abang menyimpan ini agar nantinya Allah akan menyembunyikan aib Abang di Padang Mahsyar" Prabu menyelesaikan ceritanya, hinaan ibu Wida tadi mengigatkannya kembali dengan luka lamanya.


"Ini buah kesabaran Abang....Allah berfirman dalam surat Al-Insyirah... Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan....Allah mengirimkan Embun dan Arumi untuk menjadi obat luka Abang selama ini" Aurora bersyukur ia dibekali ilmu agama dari kedua orang tuanya.


"Sekarang kamu tahu....Abang tidak pernah mengkhianati cinta kita....sepuluh tahun tanpa kamu hidup Abang berantakan Ra....keluar kadang singa masuk kadang buaya." Prabu merasa lega menceritakan kehidupan selama ini ia tidak pernah berbagi kepada siapapun baginya kebahagian kedua putri paling utama.


Aurora tertawa suami selalu mengungkap perasaan cinta kepada dirinya, Prabu tahu tempat terakhir dia pulang ialah Aurora. Ia berdiri dan masuk ke kamarnya bersama Aurora.


"Abang kenapa tidak ada foto pernikahan Abang disini?" Rasa penasaran Aurora sejak tadi ingin bertanya kepada suaminya. "Kamar ini milik kamu Ra.... Dulu jika kami menginap memakai kamar dibawah....kamar ini Abang kunci sepuluh tahun....Kamar ini untuk kamu istri Abang" Prabu membuka kotak disudut ruangan itu.


"Abang Gaza....Aku" Aurora tercekat melihat foto kencan pertama mereka. "Abang telah menyiapkan ini sepuluh tahun lalu...Ingatkan waktu kita ke Bromo bersama Angkasa" Prabu memberikan frem foto itu, Foto ia berboncengan bersama Aurora memakai motor RX king milik temannya.

__ADS_1


"Ditha... oleh-oleh untuk gue mana." Serena menerobos masuk kamar kakaknya. "Ups sorry I have to go" Serena kembali menutup pintu melihat kakaknya bertelanja** dada memeluk Aurora.


"menggangu saja" Sembur Prabu, Bapak dan anak sama saja mengacaukan keromantisan dirinya.


__ADS_2