
Aurora merasa kelelahan jika berada diluar rumah, ia meminta Prabu untuk kembali ke rumah Raditya.
"Abang Gaza ayo pulang aku capek." Aurora mengeluh kakinya yang sering kesemutan jika duduk lama.
"Ya udah kita pulang.....Kamu sekarang mudah kelelahan ya? Biasanya kamu bergadang bisa sampai pagi." Prabu heran dengan kondisi istri yang sering mengeluh kecapekan.
"Ga tahu juga....aku kurang semangat kalau belum ketemu Embun dan Arumi." Aurora mengengam erat tangan Prabu.
Prabu tersenyum istrinya lebih mementingkan anaknya daripada dirinya sendiri. Prabu tersenyum getir ia kasihan melihat istri belakang ini banyak beban pikiran kantor dan keluarga.
"Papi......Bunaaaa....." Arumi turun dari mobil Raditya setelah melihat keduanya.
"Hai....bagaimana acara berkuda Arumi dan Mbak Embun? Papi kok ga diajak sih" Prabu langsung menggendong Arumi yang terlihat bahagia.
"Syenang.....Lumi mau tidur disini lagi.....ya....yaaa....yaaaa" Arumi mengeluarkan jurus puppy eyes agar permintaan disetujui. Prabu mengangguk tanda setuju ia bersama Aurora juga akan menginap dirumah Raditya.
"Bunaaaa cantik pakai kerudung." Embun terpana melihat penampilan baru Aurora.
"Terima kasih pujiannya gadis pintar....gimana berkuda senang....Atuk dan Nena mana?" Aurora tidak melihat keberadaan ayah dan Mama.
"Lagi di pos satpam.... Atuk dan Nena mau jalan kaki dari sana....aku dan Ade diantar pak Maman ke sini." Embun tidak mau lepas pandangan dari Aurora yang begitu cantik dengan hijabnya.
"Ya udah kita masuk....Papi dan Buna nginap disini juga." Aurora masuk ke dalam rumah bersama kedua anaknya beserta Prabu.
Raditya dan Sarah terkagum melihat penampilan anak perempuannya. Mereka berdua sampai meneteskan air mata. "Masha Allah....ini Aurora anak Ayah? semakin cantik kamu sekarang." Raditya menatap dari atas hingga ke bawah.
"Abang.....cantik anak kita....Aku sampai ga tahu.....aku kirain siapa tadi." Sarah belum sempat melepas baju olahraganya karena terkejut melihat anaknya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Ayah....Mama... Aku udah lama kepengen pakai ini.....di Amerika aku takut menggunakannya....tahulah negara mereka." Aurora tersenyum mendengar kekaguman orang tuanya. ia menemani keluarga kecilnya menonton acara televisi.
"Alhamdulillah....jika kamu nyaman menggunakan pakaian tertutup....Ayah dan Mama mendoakan semoga kamu istiqamah." Raditya memberi pesan penyemangat untuk anaknya agar tetap selalu memakai hijab tanpa ada drama lepas tutup.
"Prabu....Mama besok bawa Arumi dan Embun ya." Sarah menatap Prabu yang menyuapi Arumi makan.
"Mau kemana Mama? Bukanya besok tanggal merah ya." Aurora menyela pembicaraan ibunya dengan suaminya.
"Kamu kok curigaan gitu sih....Mama ada acara Persit besok.....Mama aja yang belum bawa cucu..... teman-teman ayah udah pada punya cucu." Sarah yakin pasti Aurora tidak akan mengizinkan ia membawa anak Prabu.
__ADS_1
"Gapapa Mama....Jika keduanya senang....Mereka ga bawelkan Ma?" Prabu menengahi perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Noh....lihat suami kamu aja bolehin..... Sekali-kali mama pergi dengan mereka.....Kamu gitu sih" Aurora menghembuskan nafas pelan bukannya ibunya yang selalu memonopoli kedua anaknya.
"Ya udah....Emang kegiatannya apa? perasaan Persit jarang bawa anggota keluarga." Aurora menatap curiga ibunya pasti ada udang dibalik batu.
"Kamu ga tahu.....sekarang satu bulan sekali Anggota Persit mengadakan temu ramah keluarga besar....ga mungkin Mama pergi bersama Antariksa atau kamu." Lanjutkan alasannya buk Persit.
"Ayah juga kalah set sama Mayor Yohannes....dia udah punya empat orang cucu karena Arumi dan Embun sedang bersama kami....kamu dan Prabu ga boleh gangguan gugat.... kekuasaan di tangan Ayah sekarang." Raditya memberikan dukungan untuk istrinya.
"Ya udah....Kalau Ayah dan Mama senang aku bisa apa." Aurora akhirnya menyerahkan satu lawan tiga tidak akan pernah menang.
Aurora masuk ke kamarnya setelah menemani kedua anaknya membacakan dongeng pertarungan kera dengan ayam. Dilihatnya Prabu sedang fokus menonton pertandingan bola Real Madrid dengan Barcelona.
Seminggu ini Aurora jarang bisa berduaan dengan Prabu karena berbagai masalah. Ia masuk ke walking closed mengambil sesuatu yang pastinya akan disukai suaminya.
Aurora membaca sebuah artikel kajian fiqih Islam jika seorang istri meminta duluan maka Allah memberikan pahala setara haji dan umroh. Semakin hari Aurora ingin memperdalam ilmu agama yang selama ini masih kurang menurutnya.
Prabu tidak menyadari Aurora menuju tempat tidur dimana ia masih serius menonton pertandingan bola tim favoritnya.
"Abang Gaza......Aku mau ike ike mochi" Aurora berbisik sambil menggigit daun telinga Prabu.
Prabu menggeram mendengar ajakan Aurora, hasratnya sudah membubung tinggi tanpa mengurangi waktu ia langsung menyerang bibir merah merekah Aurora yang menggoda imannya. Tangan Prabu dengan lincah membuka kimono yang melapisi tubuh istrinya tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.
"Supriseeeee..." ucap Aurora mendesah di telinga Prabu
Prabu menatap mendamba warna peach yang membungkus aset berharga milik istrinya. Ia dengan tergesa-gesa melepaskan pengait bra Aurora dan membuang sembarangan.
"Sayang kamu sengaja memakai bra yang pengaitnya di depan ya.....ini memudahkan pekerjaan Abang." Ucap Prabu sambil terus memberikan beberapa kissmark di dada Aurora.
"Ehhhhgggg..." Aurora melenguh karena menikmati permainan mulut dan tangan suaminya. Ia tidak tinggal diam memberikan sentuhan pada otot sixpack yang terpahat nyata di perut suaminya.
"Sayang.....kamu cantik malam ini....Abang tidak akan berhenti mengajak kamu menuju nirwana" Prabu melepas penutup terakhir Aurora.
"Your Mine" Aurora pasrah ketika Prabu akan mengajaknya menuju nirwana.
Prabu kembali bermain pada aset kembar milik istri yang menantang. Ia heran kenapa ukurannya menjadi XL dan tidak pas di telapak tangannya.
__ADS_1
"Rara ini kenapa tambah besar...... Perasaan kemaren masih bisa digenggam penuh telapak tangan Abang." Ucap Prabu memastikan keraguannya ini.
"Ga tahu...Tangan Abang ajaib mungkin....buruan ah....gimana sih masih nanya" Aurora melihat tatapan mesum suaminya setelah mendengar ucapannya.
"Kamu pilih Kasar atau lembut" Prabu memberikan pilihan untuk sang istri.
"Pilihan perrrrrrrtaaaaaamaaaa" Aurora tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena Prabu menggodanya dengan permainan tangan sang suami.
"Abang doa dulu...." disaat keadaan tengang Aurora masih bisa mengigat Prabu untuk membisikkan doa sebelum memulai permainan. Prabu memulai permainan dengan gencar melakukan serangan kepada kedua bukit terindah milik Aurora.
Terdengar ketukan pintu dari luar, usaha keduanya dalam gencatan senjata sirna. "Papi......Bunaaaa.......kenapa pintunya dikunci...lumi mau tidur disini." Prabu langsung mengulingkan tubuhnya di samping Aurora.
"Papi....Bunaaaa" Arumi tidak sabar menggedor pintu kamar Aurora.
"Rara tanggung nih.... Abang ga kuat." Prabu enggan untuk membuka pintu untuk anaknya yang selalu mengganggu aktivitasnya.
"Abang kasian Arumi....mungkin dia takut suara hujan." Aurora mencari pakaian yang dibuang suaminya.
Dengan terpaksa Prabu memakai kembali celananya dan menuju pintu kamar yang terkunci rapat. "Papi kok lama bukaaaaaanaaa....Lumi takut syuallaaaa hujan." Arumi langsung masuk ke kamar Aurora.
"Buna kenapa pakai baju papi?" Arumi menaiki tempat tidur menatap penampilan Aurora yang berantakan.
"Baju Buna belum kering di jemuran.....Arumi sekarang tidur ya....Papi mau meniduri Buna" Aurora melotot mendengar ucapan Prabu tanpa filter. Ia langsung menutup telinga Arumi.
"Buna kenapa telinga Lumi ditutup?" Arumi ingin melepaskan tangan Aurora berada di kedua sisi telinganya.
"Oh....itu ada petir.... halilintar....Arumi ga kuat dengarnya biar Buna aja ya." Aurora menatap tajam suaminya yang tertawa cekikikan.
"Papi ga boleh peluk Buna ya....sekarang Buna jadi kekuasaan Lumi" Arumi memeluk erat Aurora. Matanya kembali menyatu setelah mendapatkan berapa tepukan dari Aurora.
"Rara lanjut yuk yang tadi.....Arumi udah tidur....Abang masih tegangan tinggi nih." Prabu memohon agar istrinya mau kembali menuju nirwana.
"Kita ke kamar depan aja.....Abang duluan ini kuncinya." Aurora prihatin melihat suaminya seperti meledak ia akhirnya memberikan solusi agar bisa pergi menuju nirwana.
🌹🌹🌹🌹🌹
Semoga Arumi tertidur hingga pagi ya......Abang Gaza udah voltase tinggi..... Aurora butuh sengatan voltase dari suaminya......Jangan lupa bintang lima dan like dan vote love you all❤️
__ADS_1