
Selama dua hari Prabu dan Aurora menikmati liburan di pulau Mentawai, Kedua melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata di Sumatera Barat. Om Fikri mengutus sopir untuk menemani selama perjalanan.
Dimulai dari kota Solok melihat pemandangan danau Singkarak berlanjut ke Sawahlunto melihat tambang batubara peninggalan masa kolonial Belanda, disana juga terdapat danau berwarna biru menurut masyarakat setempat air danau berwarna biru karena bekas tambang batubara dulu, setengah jam perjalanan Aurora singgah di kota Batusangkar, Prabu ingin melihat istana basa Pagaruyung tidak jauh dari pusat kota itu, Mereka beristirahat di daerah bernama Pariangan menurut majalah traveling dunia Pariangan dinobatkan sebagai Desa terindah, Rasa penasaran Aurora dan Prabu terbayarkan dengan pemandangan bentangan padi menguning siap panen, Prabu tidak menyangka melihat pemandangan pengunungan disertai hamparan sawah, Dulu Ia sering membuat gambar bertema alam sungguh ciptaan Allah menakjubkan.
Mereka tidak kembali ke Padang, Kedua memutuskan menginap di kota Bukittinggi kelahiran Raditya, kedua memilih check in hotel, Keluarga Raditya banyak di Jakarta, Dari balkon hotel terlihat pemandangan lampu kelap kelip, Lampu rumah penduduk di kaki gunung Marapi dan Singgalang, Aurora tidak bosan memandang kota ini.
"Rara kamu ga kedinginan Abang udah pakai jaket masih tetap dingin....Abang belum pernah lihat keindahan yang terpampang ini" Prabu merangkul bahu Aurora, menemani istrinya mengagumi kota ini.
"Iya...tapi sayang melewati pemandangan ini....Aku berharap bisa melalui keindahan ini bersama Abang Gaza" Aurora melingkar tangan ke pinggang suaminya, Pelukan Prabu begitu hangat bagi Aurora.
Kita Bukittinggi di apit dua gunung berapi sehingga malam hari udara akan lebih dingin, Aurora memesan jahe hangat service room, Prabu memilih air putih panas. Seharian mengelilingi tempat wisata mereka kelelahan.
"Rara tolongin pijat badan Abang....Ayah bilang kamu bisa memijat ya" Prabu telentang di tempat tidur, Ia merasa tidak enak badan setelah melakukan perjalanan.
Aurora sudah mengantisipasi keadaan ini, untung membawa beberapa macam obat-obatan. "Abangnya buka dulu bajunya gimana aku memijatnya." Aurora mencari minyak urut yang sering dipakai Mama Sarah. Prabu melepaskan jaket dan baju kausnya, Ia merasakan ada cairan dingin pada kulit tubuhnya.
Aurora memulai memijat dari bagian atas bahu lebar milik suaminya. " pijatan tangan kamu enak Ra....Abang belum pernah merasakan pijatan terapis kalau cepak Abang tempelkan koyo aja" Prabu menutup mata, tangan lembut Aurora membuatnya menjadi rileks.
"Ini udah kewajiban aku melayani kebutuhan Abang Gaza.....itu udah kodrat perempuan." tangan Aurora menyusuri pinggang Prabu, telapak tangan dengan lincah memberikan sentuhan. " Tapi Wida ga bisa memijat Abang....Katanya ia ga bisa begituan" Aurora tercenung mendengar ucapan suaminya, Prabu membalikkan badannya diraihnya tubuh istrinya. "Abang Gaza iih....pakai bajunya lagi nanti masuk angin" Aurora terkejut ketika tangan Prabu menarik ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Udah begini aja....kita tidur lagi ya....atau kita mau bikin anak Made in Bukittinggi." Aurora menggeleng kepala, tubuhnya lelah untuk melayani kebutuhan suaminya. "Aku capek mau tidur cepat....lelah seharian berada diluar" Aurora menarik selimut menutupi tubuh keduanya.
Aurora bisa mendengar bunyi detak jantung Prabu yang bertabuh cepat, Detak jantung suaminya bagaikan melodi terindah pengantar tidurnya, menutup mata menuju alam mimpi.
Suhu di pagi hari sangat dingin Prabu mengambil jaketnya dan menutup kembali tubuh dengan selimut selesai sholat subuh ia kembali tidur. "Abang Gaza kenapa tidur lagi...dingin di sini ya....aku naikkan suhu kamar kita" Aurora heran melihat Prabu tidur banyak dilapisi pakaian.
"Abang hanya butuh kamu sekarang" Aurora tersentak mendengar penuturan suami Ia tersadar jika baju yang digunakan mengundang singa kembali menerkam Aurora tidak bisa menolak permintaan Prabu.
Prabu terbangun dari tidurnya setelah menabur benih ke dalam rahim istrinya, Aurora terlelap dalam pelukannya, Dilihatnya baju yang dipakai istri terlampir di kursi sofa.
Prabu mengamati wajah lelah istrinya alis hitam tebal yang tidak pernah dicukur, hidung mancung khas Eropa kulit putih bagaikan porselen nikmat Tuhan mana lagi Prabu dustakan.
"Rara sore nanti kita berangkat ke Jakarta ya....Abang Senin udah masuk kerja lagi" Prabu menata barang belanjaan istrinya ke dalam tas backpacker miliknya. Ia habis menemani Aurora berbelanja kain songket dan selendang koto gadang untuk keluarga Prabu.
"Habis ini kita check out langsung menuju bandara Om Fikri dan Tante Vera mengunggu kita di sana"
Mereka meninggalkan hotel pukul dua belas siang keberangkatan menuju Jakarta jam tiga sore. Saat pulang ke Jakarta barang bawaan bertambah karena pesanan adik iparnya.
"Prabu...Rara Hati-hati semoga selamat sampai tujuan salam untuk keluarga kalian di Jakarta" Om Fikri menghampiri Aurora sebelum berangkat. " Terima kasih Om dan Tante...Rara akan kangen suasana disini" Kedua pamit meninggalkan Om Fikri dan Tante Vera.
__ADS_1
Padang Jakarta ditempuh dua jam pesawat mendarat jam setengah enam sore, Prabu mengajak Aurora bertemu orang tuanya. Mereka belum pernah menginap di rumah Danu Kalandra.
Aurora belum pernah ke rumah Danu Kalandra, Rumah mertuanya tidak jauh dari rumah lama Prabu, Ketika akan masuk ke rumah terdengar suara Anton dan Tuti berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Abang Gaza kita kembali ke apartemen aku aja gimana?" Aurora menghentikan langkahnya suaminya yang akan masuk ke dalam rumah. " Rara kita hadapi berdua....Ada Abang di samping kamu....jangan takut sayang" Prabu melihat raut ketakutan di mata Aurora.
Mereka masuk ke dalam rumah, barang-barang kedua sudah dibawa masuk sopir keluarga Kalandra. Prabu tidak memberitahukan kepulangannya kepada orang tuanya.
"Mas Danu gimana perjodohan Prabu dan Lisa kita lanjutkan....Aku ingin mempererat tali silaturahmi" terdengar suara Anton berbicara dengan Papa Danu. " Saya tidak ingin memaksa Prabu menikah....Dia sudah memiliki kehidupan sendiri....cukup puluhan tahun saya mengabaikan dia dan memaksa kehendak saya untuk bekerja di Kalandra." Papa Danu menjawab tenang permintaan orang tua Wida.
"Mas saya hanya ingin yang terbaik untuk cucu saya...Lisa bisa mengantikan posisi Wida untuk mengasuh dan mendidik anak Prabu." Tuti ikut bersuara demi bisa memuluskan jalannya.
"Bapak....ibu....Saya tegaskan jika saya tidak akan pernah menikahi Lisa atau siapapun yang menurut kalian baik belum tentu menurut saya itu terbaik" Prabu menghampiri mertua, Ia memegang tangan Aurora. Semua orang melihat asal suara tersebut.
"Prabu sejak kapan kamu pulang....Ajak Ditha ke dalam dulu" Mama Diana mencoba menetralisir keadaan jangan ada adu mulut di rumahnya.
"Kamu sudah berani dengan saya" Anton berdiri melihat Prabu menggandeng perempuan yang bertemu dengannya dua Minggu lalu.
🌹🌹🌹
__ADS_1