
Prabu membeli beberapa tespek berbagai merek dari harga sepuluh ribu hingga ratusan ribu. Ia teringat ketika membeli kopi di supermarket kemaren, untuk memastikan dugaannya jika istrinya berbadan dua.
Ia sengaja merusak tombol pus closed agar bisa melakukan tes urine istrinya. Prabu tidak ingin kecolongan bahwa Aurora saat ini hamil.
Prabu sengaja mengubah sifatnya untuk mengetahui perubahan sifat istrinya, Jangan ragukan kepekaan Prabu soal wanita yang berbadan dua ia sudah berpenggalaman soal yang satu ini.
Prabu tersenyum bahagia, semua hasil uji coba dengan tespek yang dibelinya menyatakan positif. Prabu bersujud syukur Allah, memberikan amanah untuk keluarga kecilnya.
Prabu akan memberi kejutan untuk Aurora, semua tespek itu di simpan dalam sebuah kotak perhiasan milik Aurora. Ia juga menulis pesan untuk Aurora jika menemukan kotak ini langsung menghubungi dirinya.
Sebaliknya Aurora masih terperangah melihat lima tespek yang dilihatnya dalam kotak perhiasan miliknya. Ia sampai menutup mulut menahan tangis bahagianya.
Aurora mengambil ponsel dari dalam tas menghubungi Prabu. "Abang Gaza...aku sudah menemukan hadiah dari Abang." Aurora terbata-bata karena ia dilanda grogi.
"Sayang..... Aku tidak bisa seperti laki-laki yang mengarang secara puitis...Abang sengaja merusak toilet untuk menyakinkan pemikiran Abang jika kamu hamil.....Abang speechless melihat kelima tespek itu positif...Sekarang Abang ada kafe apartemen." Prabu menutup sambungan telepon dengan Aurora.
Aurora bergegas menemui Prabu yang menunggunya di kafe apartemen. Suaminya bukan pria romantis namun Prabu lebih menyukai aksi bukan reaksi.
"Rara.....maafkan Abang soal semalaman ya.....kamu pasti jengkel dengan sifat Abang." Prabu menyambut kedatangan Aurora dengan pelukan hangat.
"Abang jangan prank seperti semalam....aku baru tidur jam dua dini hari memikirkan perubahan sifat Abang Gaza." Aurora melepaskan pelukan dari Prabu.
"Kalau tidak seperti itu ga bakalan jadi kejutan dong....kamu duduk dulu....aduh istri aku tambah cantik sekarang." Prabu menarik kursi untuk Aurora.
"Darimana dapat ide seperti itu? Dari kemaren mood aku udah hancur entah kenapa....Aku cuma kangen berdekatan dengan Abang....Abang Gaza masih di Surabaya itu kenapa aku ngancam." Aurora menjelaskan perilaku semalam yang berbeda dari sebelumnya.
"Aku udah yakin kamu hamil sejak kita nginap di hotel usai penjebakan Lisa itu....kamu masih ragu karena datang bulan....Abang optimis jika kamu hamil melihat perubahan kamu selama dua Minggu ini....apalagi kegiatan olahraga malam kita semakin menggebu." Prabu menyugar rambutnya karena sudah membuat istrinya bersedih.
"Abang apa Embun dan Arumi menerima adik Mereka ya?....kita kan baru menikah jalan enam bulan....keduanya pasti ingin aku selalu bersama mereka....Abang tahukan jika wanita hamil itu sering sensitif." Aurora gusar jika kedua anaknya tidak akan menerima anggota keluarga baru.
"Abang juga berpikir gitu....nanti kita beri pengertian jika kamu sedang berbadan dua....Abang ingin keduanya mandiri tidak selalu bergantung kepada kamu." Prabu meremas tangan istrinya memberi semangat.
__ADS_1
"Aku berharap kedua menerima adiknya...Aku ga akan pilih kasih untuk anak kita nantinya." Ketakutan ini selalu datang jika ia hamil. Aurora pernah membaca jika anak tiri akan cemburu kepada adiknya karena memiliki orang tua lengkap.
"Kamu tahu ga Ra? Abang punya cita-cita mau punya anak lebih dari enam orang." Prabu sampai berbinar menceritakan keinginannya.
"Eeeenam." Cicit Aurora. "Berarti aku harus hamil tiga atau empat kali lagi dong." Aurora langsung lemas mendengar permintaan Prabu.
"Iya.....Kamu tahu kan kisah Abang yang kesepian punya adik namun sering bepergian dengan Papa Mama.... Abang berkeinginan rumah kita rame dengan suara anak-anak."
"Abang aku bukan bermaksud menyingung tapi hamil empat kali itu tidak pernah terpikirkan oleh ku."
Prabu bisa melihat keraguan Aurora untuk memenuhi keinginannya itu. "Menurut penggalaman Abang....Siap melahirkan itu seperti malam pertama Lo Ra." Prabu mencondongkan tubuhnya. "Lebih bergairah dan panas." bisik Prabu agar tidak didengar oleh penggunjung kafe ini.
"Tapi ga tiap tahun kan? kita program ya." Akhirnya Aurora pasrah untuk mewujudkan impian suaminya.
"Bisa diatur....kita akan mendatangi dokter kandungan terbaik untuk memprogram kehamilan kamu." Prabu bahagia Aurora akan mewujudkan impian selama ini.
"Kamu pasti lapar...kita makan dulu setelah ini ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kamu." Prabu memanggil waiters untuk memesan makanan.
"Rara....Prabu...ada apa kalian kesini?" Sarah menatap keduanya curiga kenapa anak menantunya berada di rumah sakit.
"Ibu Reditha Aurora silahkan masuk." Panggilan suster memotong pembicaraan anak dan ibu itu.
Sarah menoleh ke papan nama yang tergantung di pintu. dr Mereta Siregar, Sp.OG Sarah baru sadar anaknya menggantri pemeriksaan kandungan.
"Mama mau ikut ke dalam melihat pemeriksaan Aurora." Prabu mengajak ibu mertuanya yang masih bengong melihat Aurora masuk ke ruangan dokter kandungan.
Sarah antusias ajakan menantunya. Ini kesempatan melihat langsung calon cucu ketiganya.
"Selamat siang Didit....udah lama ya kita ga ketemu....terakhir di Florida kita temu kangen." Mereta langsung mencium pipi kiri dan kanan Aurora ketika temannya masuk ke ruangannya. Prabu dan Sarah menyusul masuk ke ruangan Mereta.
"Aku senang ketemu lagi....Aku ga ditawari duduk nih." Aurora memang akrab dengan Mereta.
__ADS_1
"Wah akhirnya aku ketemu langsung menantu Tante Sarah....cakep ternyata.... silahkan duduk Semuanya." Mereta mempersilahkan ketiga untuk duduk.
"Hehehe kamu bisa aja Mer.....kapan nyusul dengan Satrio." Sarah menggoda Mereta yang merona mendengar ucapan ibu sahabatnya.
"tunggu aja undangannya Tante." Mereta duduk di kursi kerja untuk langsung memeriksa Aurora.
Prabu terkejut jika Aurora bersahabat dengan perempuan yang menjadi tunangan Satrio. Ia meruntuki kebodohan karena terbakar api cemburu mendengar ucapan teman Angkasa dua Minggu lalu.
"Saya belum kenalan dengan suami Reditha." Mereta mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Prabu Kalandra" Ucap Prabu sambil menerima uluran tangan Mereta.
"Kita langsung aja ya Dit untuk pemeriksaan....Kamu terakhir datang bulan kapan." Mereta mencatatkan untuk memastikan umur janin yang dikandung Aurora.
"Bulan kemaren cuma sedikit setelah itu belum ada datang bulan....aku juga sering merasa lemas dan kecapekan jika beraktivitas lama....tapi nafsu makan aku meningkatkan." Aurora menjelaskan kondisi ia Sekarang.
"pantas saja pipi kamu tambah cubby....kita langsung periksa lewat USG ya." Aurora beranjak menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.
Suster menyingkap blus yang digunakan Aurora. Prabu menggenggam tangan Aurora sambil mengusap ibu jarinya di punggung tangan istrinya. Suster memberikan gel di atas perut Aurora.
"Didit kamu ada keturunan kembar ya?" Mereta mencari tempat yang pas dengan tuas untuk memprediksi jika sahabatnya mengandung bayi kembar.
"Iya....ayah dan Mami Adis kembar...kenapa emang?" Aurora tidak mengerti maksud Mereta. "Tante...Mas....lihat layar ini....duakan?" Sarah dan Prabu menatap lama layar hitam yang menampilkan dua biji kecil.
"Reditha selamat kamu hamil anak kembar.....umur janinnya tiga bulan....pasti kamu tidak menyadari biasanya flek yang keluar sedikit menandakan kamu hamil.....Tokcer juga suami kamu Didit....Tante tahun depan akan lebih ektra nih." Mereta tidak tahan untuk tertawa melihat ketiga ekspresi orang yang berada di ruangannya.
"Ini bukan mimpi kan Mer.....Ayah Rara pasti senang dengan kabar gembira ini." Sarah terus menatap layar hitam itu. Aurora tersenyum ia akan mengandung anak kembar.
Jangan ditanya dengan kondisi Prabu, ia memberikan banyak kecupan di wajah sang istri melupakan jika ada mertuanya. "dank je, mijn vrouw" Bisik Prabu di telinga Aurora.
"kekuatan hepon jadul mamiiiii ....putra mahkota Kalandra Tecno menemani perempuan muda ke dokter kandungan.....Wah go publik akhirnya....Gundik yang di simpan selama dua belas tahun hamil benih bangbang tavpam." Serena membelalak matanya membaca berita dari akun gosip di Instagramnya.
Prabu dan Aurora akan mendapatkan badai besar di tengah laut apa bahtera akan bisa menepi ke dataran.
__ADS_1
dank je, mijn vrouw: Terima Kasih Istriku