
Sifa Pov
Aku keluar dari ruangan praktek radiologi rumah sakit angkatan darat, jam menunjukkan pukul lima sore setelah menunaikan sholat ashar aku memutuskan untuk bertemu dengan pria yang tidak sengaja bertemu di toko buku di mall kawasan pondok indah.
"Saya on the way menuju islamic center...sampai ketemu di sana." Tulis ku membalas pesan pria yang bernama David Morales ini.
Aku sempat salah duga, jika dia non muslim melihat dari perawakan dia seperti orang Eropa. Tubuh tinggi dengan mata abu-abu di tambah dengan kulitnya seperti gula Jawa. Aku melihat dari fisiknya bukan berarti bisa mendefinisikan kalau aku jatuh cinta pandangan pertama.
Tahun ini aku berumur dua puluh dua tahun, aku bersyukur di usia muda aku sudah bergelar dokter spesialis radiologi. Aku memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Abi dan Umi sangat mendukung apapun pilihan anak sulung mereka.
Aku masuk perguruan tinggi negeri pada umur lima belas tahun, Abi dan Umi saat itu berdinas di Yogyakarta sehingga bangga dengan putri mereka bisa masuk universitas ternama dengan memilih fakultas kedokteran, Aku juga ingin seperti Umi yang berada dalam dua dunia.
Umi wujud wanita modern yang mengabdi dalam dua profesi dokter spesialis bedah dan ibu rumah tangga dan tidak lupa dengan segudang tugas sebagai ibu Persit untuk mendampingi Abi.
Masuk ke area gedung sekaligus mesjid ini, aku menunggu kedatangan pria blasteran itu. Aku sudah sering datang kemari untuk mempelajari agama Islam yang menurut aku masih kurang.
Aku mengambil salah satu buku yang berjudul kekuatan sebuah doa untuk bertemu jodoh, Aku penasaran dengan isi buku ini. Dari sampul terlihat sangat menarik, jumlah halaman juga tidak banyak.
"Sudah lama Sifa? maaf ya saya terlambat...tadi ada urusan." Suara pria ini mengejutkan aku yang tengah membaca rangkaian kalimat indah dalam buku ini.
"Tidak juga...saya baru sepuluh menit di sini...Bapak ada kan bawa bukunya?" Aku menoleh ke arah David, melihat mata sembab entah kerena apa.
"Ini buku kamu saya kembalikan....banyak sekali saya belajar dari buku ini... Saya tidak tahu kemana meminjam buku yang berisi tentang pengetahuan agama ini." Jelasnya sambil memberikan buku milik aku yang dipinjamnya tempo hari.
Kami menyusuri rak buku yang berisi tentang pernikahan dan berumahtangga yang baik menurut Islam.
__ADS_1
"Sifa.... apakah saya bisa menemukan jodoh yang baik...di dalam buku ini ada empat golongan untuk memilih pasangan hidup....sedangkan saya pendosa berharap bisa menemukan wanita beragama dan berakhlak baik." Aku menatap jari telunjuk David yang menunjukkan barisan kalimat dalam buku ini.
"Allah maha mendengar...Saya yakin Allah akan memilih jodoh terbaik untuk bapak... terlepas dari latar belakang bapak."
"Benar kata kamu....saya optimis jika suatu saat nanti ada wanita mulia yang menerima saya apa adanya...saya tidak meragukan kekuatan doa.... memasrahkan diri kepada Allah mungkin jawaban semua keluh kesah kita."
Darah aku berdesir mendengar kalimat optimis yang diucapkan pria ini, setiap manusia pasti melakukan kesalahan tidak ada manusia yang sempurna hanya Allah pemilik kesempurnaan itu.
"Sifa...kamu tahu dimana saya bisa bertemu guru yang bisa mengajarkan membaca Alquran? setidaknya saya berusaha untuk memperbaiki diri sebelum terlambat." David meletakkan kembali buku yang dibacanya tadi.
Terlihat dalam pikiran Aku jika meminta Abi untuk mengajarkan pria malang ini, Abi tahu cara bagaimana mengenalkan agama Islam bagi pemula.
"Apa bapak tidak keberatan jika saya mengajak bertemu seseorang...saya yakin orang ini pasti senang hati untuk membantu kesulitan bapak."
"Ya udah sekarang kita ke sana... bapak ikuti mobil saya....semoga beliau ada di sana." Aku berdiri dan berjalan keluar dari gedung ini.
Mobil David mengikuti mobil aku yang berada didepannya, Aku sudah menghubungi Abi jika aku membawa seseorang tamu untuk bertemu Abi.
Masuk area perumahan khusus TNI mobil aku terus berjalan hingga ujung perumahan ini, Hanya rumah Aku saja berada di blok ini. Abi dan Umi sengaja memilih kompleks perumahan ini sebagai kediaman pribadi mereka.
Ajudan Abi terlihat sedang duduk bersama satpam yang menjaga rumah aku, mungkin Abi baru saja pulang dari kantor.
"Mbak Sifa....bapak udah menunggu...tadi bapak titip pesan kepada saya." Ajudan Abi yang bernama Ferdian memberitahu jika Abi sudah berada di rumah.
Aku memberikan senyum terima kasih, di belakang mobil aku mobil David juga sudah terparkir rapi.
__ADS_1
"Ayo bapak ikuti saya.... beliau sudah menunggu." Aku mengambil jas putih di dalam mobil dan masuk ke rumah besar ini.
"Anashifa Robbi Prayoga ada apa gerangan ingin bertemu Abi....gimana prakteknya hari ini." Suara berat Abi menyapaku setelah mengucapkan salam.
"Alhamdulillah lancar Abi... walaupun masih ada pasien yang nakal mencoba menggoda Nana.... itu udah resiko anak Abi menjadi dokter muda." kelakar Ku menceritakan keseharian aku di bidang kesehatan ini.
"Mana tamu kamu... katanya mau bertemu Abi." Abi seperti menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan David.
Aku menarik tangan Abi menuju ruang tamu untuk bertemu David, Abi dengan setia mengikuti gerakan kaki aku menuju ruang tamu.
"Abi kenalkan ini... Bapak David Morales yang Nana ceritakan waktu tempo hari." Aku memperkenalkan Abi dengan David yang terlihat ragu untuk bertemu dengan Pangdam jaya ini.
"Kenalkan saya David...maaf jika menganggu waktu istirahat bapak."
"Saya Prayoga Januar ayah dari Nana... silahkan duduk...ga mungkin kita ngobrol sambil berdiri." Abi mencoba mencair suasana yang mendadak kaku ini.
Tak lama Umi juga bergabung dengan Abi dan David, aku masuk ke ruangan dapur membuat minuman untuk ketiga orang itu.
"Tidak ada waktu terlambat nak...saya akan mencoba mencarikan seorang guru agama yang bisa menyusaikan dengan waktu nak David...Kamu bisa datang ke majelis agama setiap weekend banyak aktivitas yang bermanfaat untuk menghilangkan pikiran duniawi." Aku mendengar suara Abi berbicara serius dengan David.
"Terima kasih Abi... saya seperti menemukan keluarga yang utuh di rumah ini." David memanggil seorang Prayoga Januar dengan Abi ini terkejut bagi ku.
"Umi bangga dengan kamu mengakui kesalahan di masa lalu....tidak banyak orang ingin mengakui dosa mereka malahan mencoba menutupi aib mereka." Sekarang giliran ibu dokter berbicara aku tidak salah dengar kedua orang tua aku langsung bisa menerima David Morales.
"Semoga kamu istiqamah dengan jalan yang kamu pilih...Allah akan bersama orang-orang yang mencintai pencipta Nya." Aku bisa melihat mata gelap itu berubah menjadi terang seperti telaga bening menyejukkan hati.
__ADS_1