Aurora Marriage

Aurora Marriage
Berjiwa Besar


__ADS_3

David melihat pasangan dihadapannya ini, Prabu dan Aurora masing-masing di kawal anak mereka. Arumi menatap Arsya bermusuhan, ia tidak menyukai Arsya duduk di meja keluarganya.


"Tante Didit Mommy bilang mau punya Baby ya....Semoga baby laki-laki aku bisa punya teman." Arsya tersenyum mengejek kepada Arumi.


"Boy.... Mommy kamu mana?" Aurora sungkan untuk menegur David.


"Mommy pergi dengan Ayah....aku sekarang di ajak jalan-jalan Papa dan Mama....Tante Didit belum kenal Papa aku... Papa kenalan dulu dengan teman Mommy." Arsya menggoyang lengan David untuk menyapa Aurora.


"Papa udah kenal....Tante ini yang menyelamatkan Mommy kamu....Dit kenalkan ini Sifa....Sifa ini dokter pribadi aku." tidak ada pancaran godaan yang ditunjukkan David untuk Aurora melainkan rasa hormat dan segan.


"Dokter.... Kamu sakit?" Danu menyela pembicaraan David, semua orang tergugu mendengar perkataan David.


"Iya....Pak Danu....Setelah saya berusaha bertemu Arsya dan meminta maaf kepada Celine.... Mungkin ini hukuman bagi saya yang menganggap remeh perempuan selama ini....Tuhan menguji saja dengan memberi ujian."


"Pak David jangan pesimis....Saya terkejut Arsya bisa dengan Anda....setahu saya Celine tidak memberikan akses pertemuan." Prabu mengomentari kondisi David bagi Prabu ia tidak memiliki masalah personal dengan David.


"Saya berterima kasih kepada istri Pak Prabu..." Ucapan David terpotong. "Panggil saya Mas Saja....ini di luar kantor." Prabu menggoreksi panggilan David.


"Terima kasih Reditha...telah menyelamatkan hidup Celine dan Arsya....saya minta maaf kepada kamu dan Mas Prabu soal pertemuan kita dulu yang kurang menyenangkan."


"Semua orang tidak ada yang sempurna... kesempurnaan milik tuhan....Kenalkan saya Reditha teman Mommy Arsya." Aurora menjulurkan tangan untuk berkenalan dengan perempuan ayu yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan mereka.


"Sifana Robbi." perempuan itu menerima tangan Aurora.


"Buna....Kenapa Arsya ada disini....ganggu aja." ucap Arumi cemberut.


"Arrrrumi....seharrrrrusnya....aku yang berrrrtanya...kenapa kamu disini?" Arsya sengaja mengucap huruf R dengan pelafalan jelas untuk menertawai bicara Arumi yang masih cadel.

__ADS_1


"Lumi....mau makan juga....Papi...ini teman Lumi yang seling melusak ikat lambut Lumi." Adu Arumi kepada Prabu.


"Aku mau teman sama kakak kamu aja....kakak lebih cantik dari kamu....Aku Arsya kakak siapa?" Arsya menghampiri Embun yang duduk di dekat Aurora.


"Aku hantu yang suka mengangu anak laki-laki yang suka usil." Embun merentangkan tangannya untuk menakuti Arsya.


"Papa....kakak itu jahat....lebih jahat dari adiknya..Mama punya jarum suntik kan? Kakak buas Mama." Arsya ketakutan melihat Embun yang mengejarnya sampai ke tempat duduk Sifa dan David.


Semua orang tertawa melihat tingkah laku anak mereka masing-masing, Aurora melihat jika David sekarang lebih menjaga perilakunya tidak pecicilan lagi. Aurora seperti ketinggalan informasi dari Celine. Mungkin nanti ia akan bertanya kenapa Arsya mudah menerima David sebagai ayah biologisnya.


"Sifa kamu dinas dimana? Mama saya juga seorang dokter....mungkin pernah bertemu di Ikatan dokter Indonesia." Aurora mengajak gadis pendiam itu berbicara sambil menunggu makanan mereka datang.


"Saya dinas di rumah sakit angkatan darat Mbak....Bagian radiologi.....Ibu Mbak siapa namanya...mungkin saya kenal."


"Sarah Federica....Kamu pasti anak Mayor Jenderal Prayoga teman ayah aku." Tebak Aurora yang penasaran dengan gadis bernama Sifa ini yang memiliki kemiripan dengan teman ayah Raditya.


"aku lupa....nanti aku tanya ayah...kamu masih muda udah jadi dokter ya...berarti bentar lagi kami dapat undangan dong."


"Saya sampai lupa....kenalkan ini calon istri saya Pak Danu dan Mas Prabu." David memperkenalkan calon istrinya.


Setelah basa basi semua makan makanan yang sudah di pesan tadi. Mereka membicarakan topik hangat bukan ini yaitu tertangkap kasus Diani dan kawan-kawan.


Arumi tidak lepas dari Aurora karena tidak ingin berbagi suapan tangan Aurora dengan Arsya. Sifa berinisiatif untuk menyuapi Arsya agar anak itu tidak minder karena melihat Arumi.


David dan Sifa pamit untuk mengantarkan Arsya ke rumah Celine, mereka semuanya berpisah di parkiran restoran mewah itu. Aurora mengajak Sifa untuk bertemu Sarah jika sudah berada di Jakarta.


"Abang Gaza ga marah aku berinteraksi dengan David?" Aurora berbicara pelan agar kedua anaknya tidak bangun setelah lelah seharian beraktivitas.

__ADS_1


"Kenapa Abang harus Marah....secara personal kami tidak ada masalah...Abang yakin David yang memiliki sifat buruk itu pasti menutupi kekurangan dia."


"Aku setuju dengan Abang Gaza.... Sepertinya Sifa sangat berpengaruh terhadap di hidup David."


Prabu tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia memegang ucapan Papa Danu agar tetap berlaku baik kepada orang yang jahat kepada kita, jangan membalas dan mendendam karena itu tidak baik bagi diri kita.


"Aku bahagia sekarang Arsya memiliki orang tua lengkap....Mungkin Mas Andi juga ikut turut andil untuk mempertemukan Arsya dengan David." Aurora membuka permen untuk diberikan kepada Prabu yang terlihat lelah menyetir.


"Seperti Serena yang mempertemukan kita kembali....Setiap cerita akan berakhir indah... bagaimana kita menyikapinya...Abang melihat David seperti diri Abang Sepuluh tahun lalu penuh penyesalan."


"Sekarang waktunya kita menata kembali...Abang Gaza yang sekarang adalah suami Aurora bukan pacar Aurora....kita akan bertemu sebentar lagi dengan kedua jagoan."


Prabu memegang erat tangan Aurora sementara tangan yang satunya memegang persneling mobilnya. Prabu sebentar lagi akan bertemu anak kembarnya.


"Rara jika rumah kita udah jadi....Papa dan Mama tinggal bersama kita ya....Abang ga sanggup melihat keduanya tinggal sendiri." Prabu merengkuh Aurora ke pelukannya, Kedua bersiap untuk tidur.


"Abang Gaza itu emang udah kewajiban Abang....Sampai kapanpun darah kedua orang tua Abang akan mengalirkan dalam diri Abang....aku senang jika nanti Papa dan Mama tinggal bersama kita." Aurora menelusup ke curuk leher suaminya.


"Abang tidak salah pilih istri...Kamu memahami ketakutan Abang... Walaupun dulu Abang sangat marah dengan kedua orang tua Abang yang sibuk membangun Kalandra Tecno....sekarang kita untuk berbakti kepada orang tua kita."


Walaupun terhalang perut buncit Aurora, Prabu tetap memberikan usapan lembut untuk istrinya setelah menikmati waktu luang menjelang tidur.


🌹🌹🌹


Terima kasih Vote like dan komentar semoga kedepannya aku lebih giat lagi menulis ide-ide baru di sini....


Jangan lupa baca juga Jodohku Pria Tua Lingga Barata dan Sakura Arinda.

__ADS_1


Love....love untuk pembaca Aurora Marriage seantero dunia 😍


__ADS_2