
Bayu dan Sony sedang menikmati makanan bersama pasangan mereka Hana dan Gita.
Mereka melihat seorang pria masuk dengan Perempuan bergandengan tangan, mereka duduk di belakang Bayu dan Sony, Pasangan itu tidak menyadari jika Bayu dan Sony memperhatikan sajak pintu masuk.
"Mas Prabu suami Saya" Perempuan itu berucap kepada pemilik rumah makan ini.
"Pak Yud tidak lupakan kesukaan istri saya" Pria menimpali ucapan si Perempuan.
Mereka berdua memakai topi dan kacamata sehingga tidak tahu siapa yang masuk ke rumah makan ini, tapi dari suaranya serak berat Bayu dan Sony mengetahui jika itu Prabu sahabat mereka.
"Wah gue ga salah dengarkan lu tadi nyebut istri" Sony langsung menghampiri Prabu dan Aurora.
"loh....kalian kok bisa disini" Prabu tidak menyadari Bayu dan Sony berada satu tempat dengannya.
"kami sering kesini waktu pacaran tempatnya sejuk dan tradisional, lu kenapa di sini? kenalin dong istri lu" Sony tidak tahu perempuan yang duduk bersama Prabu.
"ya mau makan, Rara kenalin ini sahabat Abang" Aurora membuka kacamata dan topinya.
"loh..... Reditha istri lu Prabu?" Bayu sampai berteriak melihat Aurora bersama Prabu.
"Mas Bayu jaga kondisi ya...pada dilihatin orang" Hana mencubit lengan Bayu.
"Hai Ditha kami boleh gabung?" Hana dan Gita menyapa Aurora, mereka begitu akrab setelah berkenalan.
"tentu meja masih muat untuk empat orang lagi" Aurora menggeser mendekati Prabu, Mereka makan dengan lesehan.
"Wah lu tega ya sama teman sendiri ga undang nikahan lu" Bayu masih tidak percaya yang dilihatnya sekarang.
"Aku hanya butuh privasi, takutnya orang nanti berprasangka buruk"
"Ditha sorry ya....kamu bukan hamil duluan ya sama si duda" Prabu melotot mendengar ucapan Sony sahabatnya.
"tidak bapak....doakan saja semoga saya cepat diberikan amanat untuk kami" Aurora menggeleng kepala sambil menjawab dengan diplomatis.
"Lu kadalin kita berdua ya.... bulan lalu gue tanya ada hubungan apa lu dengan manajer IT, jawaban lu ambigu Prabu" Bayu yakin jika tebakannya dua bulan lalu benar.
"aku tidak ingin kehilangan dia lagi cukup sepuluh tahun dia pergi, sekarang diikat aja dengan status"
"berarti benarkan tentang cincin lu itu, ah gue kok kecolongan sih, biasa gue tahu informasi apapun" Bayu bisa melihat keduanya sangat bahagia.
"sepuluh tahun?.....Lu Ped**il Prabu, kalau dihitung lu pacarin Ditha pada umur tujuh belas tahun" keluar jurus detektif Sony menganalisis hubungan Aurora dan Prabu
__ADS_1
"tidak ada yang salah dengan cinta bahkan umur tidak jadi masalah, kalian juga sama dengan aku....istri kamu Bayu baru Dua sembilan, istri Sony dua enam berarti kita separtai dong pencinta daun muda" Prabu mencoba untuk mencairkan suasana.
"kan udah aku bilang ga usah bawa umur sekarang kita juga kena" Gita menatap Sony yang memberi lambang piece.
Pak Yudi dan asistennya membawa berbagai masakan tradisional racikan tangan Pak Yudi sendiri, berbagai lauk pauk menghiasi meja, nasi putih yang mengepul membuat perut mereka meronta untuk di isi.
"Neng Ditha semoga suka buatan bapak, Mas Prabu tidak pernah datang sejak terakhir sepuluh tahun yang lalu" Pak Yudi meletakan lalapan sebagai pelengkap makan.
"Pak Yud saya tidak pernah lupa rasa masakan bapak, tadi saya minta Mas Prabu untuk mengantarkan saya kesini, Terima kasih ya Pak untuk hidangan" Aurora mengambil ikan gurame goreng buatan pak Yudi yang terkenal enak.
"Saya kira selera Ditha berubah setelah tinggal di Amerika, Ternyata selera lokal juga" Bayu mengomentari Aurora yang begitu lahap makan dengan tangan.
"cetakan boleh luar negeri punya tapi selera tetap Indonesia" Sony baru kali ini melihat Aurora tanpa make up.
menikmati waktu senggang tanpa pekerjaan membuat mereka bisa bercengkrama dengan sesama, Aurora hanya sekedar saja menimpali obralan mereka.
"Kami duluan ya, Ditha nanti sering ke lantai 12 kami makan siang sering disana" Hana basa basi menawarkan Aurora untuk bergabung dengan mereka.
" Nanti kalau ada waktu saya pasti kesana"
Prabu dan Aurora tiba di kediaman keluarga Kalandra malam harinya, Arumi sedang menonton kartun kesukaannya Upin Ipin ditemani Embun.
"Papi.....Bunaaaa" Mereka berdua berlari melihat Prabu dan Aurora masuk ke dalam rumah.
" udah...tadi makan sama Opa Oma, Papi lama syekali pelginaaa, lumi lappaaaal" Arumi mengusap perutnya.
"Buna kita pulang sekarang kan? Aku mau tidur bersama Buna" Embun memeluk Aurora yang berdiri di samping Prabu.
"Tentu gadis pintar....kamu mau dengar cerita kucing berbulu merah" Aurora berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh dengan Embun.
"aku tahu cuma Bluno, Tucing Buna yang syuka manjat pohon" Arumi teringat Bruno yang susah sekali menangkap kucing hutan itu.
" Oh ini akai Neko, kucing berubah warna, nanti Mbak Embun dan Arumi pasti menyukainya cerita dari Buna"
"papi kita pulang ke rumah kan?" Embun menatap Prabu yang masih mengendong Arumi.
"Rara kamu mau gimana? mau ke rumah Abang atau ke apartemen kamu?" Prabu ragu untuk membawa kembali Aurora ke rumahnya.
"sekarang kita tidur di rumah Abang aja, Arumi dan Embun belum mengerti dengan kondisi kita" Aurora melihat kiri kanan semoga tidak ada yang mendengar kesepakatan dengan Prabu.
Prabu bisa merasakan jika Aurora tidak nyaman saat berbicara tentang tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Ditha apa kabar?" Mama Diana muncul dari kamarnya, dia mendengar suara Aurora dan Prabu.
"Alhamdulillah sehat, Mama pasti capek pulang dari Surabaya....aku buatkan sesuatu untuk mama ya" Aurora melihat wajah lelah Diana yang begitu kentara.
"Iya Mama siang tadi baru sampai Jakarta, Papa masih tidur karena kecapekan" Diana melihat Prabu lebih banyak diam dari biasanya.
Diana melihat Prabu sering melirik Aurora, tapi tidak berbicara apapun, matanya menyimpan kesedihan, Tubuhnya juga agak kurus ada apa dengan mereka berdua.
"Prabu kamu sakit ya? Mama lihat kamu lesu gitu" Diana menegur anaknya yang memandang kosong.
Arumi dan Embun mengikuti Aurora ke dapur membuatkan sesuatu untuk Mama Diana.
"Aku cuma kelelahan mungkin, kurang tidur selama seminggu ini"
"Kamu ada masalah dengan Ditha? hubungan kamu dengan Ditha baik-baik saja kan?"
"tidak ada.....aku dan Ditha tadi juga pergi makan berdua, Mama mungkin terlalu khawatir dengan Aku" Prabu bangkit dari duduknya untuk menerima telpon.
Diana tahu jika anak menyimpan kesedihan yang mendalam, kondisinya berbeda ketika dia kehilangan Wida, Sekarang rapuh matanya menatap kosong.
Aurora datang membawa bandrek yang diraciknya tadi di dapur, aroma minum tradisional begitu harum.
"Ditha....kamu bisa buat bandrek....Mama ga bisa buat minuman ini....Terima kasih ya Ditha" Diana meneguk bandrek buatan Aurora.
"Aku sering diajarin nenek tentang minuman berkhasiat untuk kesehatan"
"Ditha kamu harus sabar ya menghadapi anak Mama, dia orang pendiam, memendam masalah sendiri....Mama takut dia seperti dulu lagi"
"Pasti Mama itu udah jadi tugas aku sebagai istri Abang, Mama jangan khawatir ya, hubungan aku baik-baik aja" Aurora mengerti apa maksud pembicaraan ibu mertuanya.
Prabu muncul setelah menerima panggilan dari asistennya, ada kerja sama dengan perusahan teknologi dari Rusia.
"Rara ayo kita pulang, Embun dan Arumi mana?"
"Oh...itu mereka udah siap...." Aurora melihat Arumi dan Embun sudah siap dengan tas mereka.
Mereka pamit kepada Danu dan Diana untuk pulang ke rumah Prabu, selama perjalanan tidak ada obralan satu pun yang keluar.
"Rara apa kamu bahagia?" Prabu tiba-tiba bertanya kepada Aurora, sejak dia membahas untuk kembali ke rumah Aurora banyak diam.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE